Infrastruktur Bali yang terus berkembang perlahan tapi pasti berpengaruh terhadap harga properti. Tak pelak, salah satu lokasi pariwisata nomor satu di Indonesia ini selalu diburu para investor dari berbagai daerah. Padahal, harga properti di sini terbilang sudah tidak realistis lagi.

Menyebut contoh, infrastruktur Bali terbaru yang tengah dalam proses pembangunan adalah Underpass Simpang Tugu Ngurah Rai, Kota Denpasar. Underpass tersebut sudah diresmikan Presiden Joko Widodo di akhir September 2018.

Underpass tersebut dibangun bertujuan mengurangi kemacetan di Kota Denpasar. Termasuk juga demi mendukung pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia (IMF-WB) tahun 2018.

Percepatan dibutuhkan karena lokasi ini merupakan simpul kemacetan, akibat pertemuan lalu lintas dari empat arah. Yakni dari dan menuju Bandara Ngurah Rai, Tol Bali Mandara, dan Kota Denpasar menuju kawasan wisata Nusa Dua dan sekitarnya. Selain itu, Simpang Tugu Ngurah Rai merupakan jalur utama dari dan menuju Bandara Internasional Ngurah Rai mapun Kawasan Wisata Nusa Dua. 

Underpass memiliki panjang 712 meter, lebar 17 meter, dan tinggi 5,2 meter. Dari hasil studi kelayakan (FS), kehadiran salah satu infrastruktur Bali tersebut dapat mengurangi kemacetan hingga 50% dari kondisi semula. Kemacetan akan terurai karena kendaraan dari Nusa Dua menuju Denpasar atau sebaliknya, bisa lebih lancar melalui underpass.

Masih dalam tujuan mendukung IMF – World Bank Annual Meeting 2018, Kementerian PUPR mendukung target kunjungan 20 juta wisatawan dalam lima tahun. Hal ini dilakukan melalui perbaikan sarana dan prasarana di lokasi yang menjadi destinasi wisata.

Untuk itu, infrastruktur Bali seperti jalan Jimbaran, Uluwatu, Bedugul, dan Pura Besakih akan diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Perbaikan diimplementasikan melalui pelebaran jalan, pembangunan drainase, perbaikan trotoar, dan perbaikan aligment (geometri) jalan.

Sementara pelebaran jalan Klungkung – Penelokan – Ulundanu dengan anggaran Rp140 miliar, bertujuan untuk meningkatkan konektivitas menuju lokasi wisata di Besakih Ulundanu. Untuk akses jalan menuju Bedugul dilakukan rehabilitasi jalan pada ruas jalan Batas Kota Singaraja – Mengwitani sepanjang 21,67km dengan anggaran Rp90 miliar.

Jadi Pusat Bisnis Dunia

Berada di selatan Bali, Nusa Dua menjadi lokasi yang tidak hanya merupakan lokasi wisata melainkan juga kawasan bisnis. Kawasan ini dikelola Indonesia Tourism Development Center (ITDC), yang merupakan salah satu pengembang destinasi pariwisata terbaik di Asia Tenggara saat ini. Mulai dari hotel dan resor berbintang yang menawarkan kemewahan, pusat perbelanjaan, museum, pusat budaya, padang golf hingga rumah sakit.

Sebagai tujuan wisata dan bisnis internasional, Nusa Dua memiliki standar keamanan yang tinggi dengan akomodasi bintang 5 dan layanan berkelas. Lokasinya sangat strategis, hanya 10 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai melalui Tol Bali Mandara. Atau sekitar 20 menit dari Kuta dan 15 menit dari Jimbaran melalui Jalan By Pass Ngurah Rai.

Nama Nusa Dua pun semakin mendunia, semenjak penunjukkan Bali sebagai tuan rumah dalam ajang IMF-World Bank pada 12-14 Oktober 2018 kemarin. Sehingga kini bukan hanya Jakarta yang dikenal sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi Indonesia. Nusa Dua pun diprediksi akan menjadi wisata popular dunia sekaligus arena konferensi internasional.

Direktur Utama ITDC, Abdulbar M. Mansoer mengatakan, untuk terus mendukung kebutuhan pasar bisnis international di Nusa Dua, maka korporat akan melakukan terobosan. Salah satunya bekerjasama dengan perusahaan swasta untuk menghadirkan gedung perkantoran kelas dunia, CREA Premium Office. Terdiri dari 4 lantai, gedung ini berdiri di atas lahan seluas 6070 m2. Berbagai fasilitas lengkap dihadirkan seperti premium satelite airport, konsulat, service, co-working space, virtual office, business center, dan digital printing.

Gedung perkantoran eksklusif pertama di Bali ini dibangun dengan konsep cyber resort office, dilengkapi Information communication technology yang beroperasi selama 24 jam. Hal ini ditujukan untuk mengatasi perbedaan zona area dan waktu, sekaligus memudahkan pelaku usaha industri kreatif dalam melakukan interaksi dengan pihak internasional.

Kehadiran CREA Premium Office diyakini mampu mengakomodir kebutuhan perusahaan lokal maupun international. Apalagi jika melihat potensi pasar dan pertumbuhan perusahaan startup yang terus menggeliat di Indonesia.

Peta Wisata Lebih Merata

Untuk mendukung pemerataan pariwisata di Bali, Kementerian PUPR pun bakal menyiapkan pembangunan jalan pintas (shortcut) jalur Bedugul – Buleleng. Diharapkan dengan adanya jalan pintas, dapat mempercepat akses dari Denpasar ke Buleleng via Bedugul maupun sebaliknya. Alhasil, infrastruktur Bali ini mampu meningkatkan jumlah wisatawan ke Buleleng.

Kondisi jalan Bedugul – Buleleng sendiri saat ini cukup sempit dan berkelok-kelok. Sehingga bis wisatawan dan truk agak kesulitan melewati jalur tersebut dan sering menimbulkan kemacetan. Dampaknya, banyak wisatawan yang enggan ke Buleleng dan membuat perekonomian menjadi tersendat,

Terbaru, Kementerian PUPR juga telah mengembangkan integrated rest area (anjungan cerdas) yang berada di jalan nasional. Sampai saat ini ada 2 integrated rest area yang menjadi pilot project atau percontohan. Diantaranya di Rambut Siwi, Jembrana, Bali dan Trenggalek, Jawa Timur.

Desain bangunan integrated rest area ini seluas kurang lebih 5 hektar, dan sangat memperhatikan local wisdom atau kearifan lokal. Kemudian juga ada amphitheatre yang merupakan tempat yang digunakan untuk atraksi seni tari dan musik.

Rest area itu juga dilengkapi dengan toilet kelas internasional, restoran, lahan parkir yang luas, dan ATM. Serta terdapat pula pura, anjungan produk lokal, dan ruang serba guna yang dapat dijadikan tempat untuk pameran.