Pasar properti Bali dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan prospek menguntungkan. Tak heran, sektor investasi baik rumah tapak maupun kondotel, seakan tak pernah mati di provinsi yang punya julukan Pulau Dewata.

Mengamati kondisi pasar properti Bali, saat ini investor masih tertuju pada kawasan strategis seperti Denpasar, Jimbaran, Canggu, dan Seminyak. Alasannya tak lain adalah karena harga lahan yang relatif tinggi, seiring pula dengan kenaikan nilai investasinya.

Di Seminyak, harga lahan di kawasan permukiman rata-rata berkisar di angka Rp4 juta/m2. Sementara Jimbaran dan Ungasan sekitar Rp5juta/m2. Lain lagi, di wilayah yang lebih ternama seperti Nusa Dua mencapai Rp20 juta/m2, mengikuti wilayah Renon yang harga lahannya jauh lebih tinggi. Dan ini, baru dari sisi harga lahan saja.

Nusa Dua sendiri merupakan sebuah enklave (multi budaya) yang berisi resor besar internasional berbintang 5 di tenggara Bali. Lokasinya terletak 40 killometer dari Denpasar (ibu kota provinsi Bali).

Jika dilihat dari peta, lokasinya tergolong mudah untuk menuju Bandara Internasional Ngurah Rai, sekitar 23 menit lama waktu perjalanan. Maka tidak heran, bila Nusa Dua kerap dijadikan lokasi pertemuan tingkat internasional seperti Konferensi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Pesona Nusa Dua kian menarik di mata masyarakat karena kontur topografinya yang sedikit tinggi, membuat spot properti menjadi prestis. Tak hanya itu, di Nusa Dua, properti komersial tumbuh beragam mulai dari rumah, vila, hingga hotel di Bali.

Sehingga masyarakat punya banyak pilihan menarik untuk berinvestasi di sini. Artinya, tidak hanya vila saja, tetapi juga bisa memanfaatkan ketersediaan rumah sebagai ajang investasi. Tentu saja, mengingat harga sewa hotel dan vila yang masih terbilang tinggi. Diketahui, harga menginap hotel di Bali bintang 5 tipe kamar standar bisa mencapai Rp2,5 juta – Rp3 juta per malam.

Arah Investasi ke Bali Barat dan Utara

Mendalami pasar properti Bali lebih lanjut, menurut catatan Rumah.com Property Index, tren harga properti Bali mengalami kenaikan tipis namun relatif stabil. Hal ini terjadi selama kurun waktu 9 bulan di tahun 2018.

Pada kuartal pertama (Q1), posisi harga berada di angka Rp13 juta per meter persegi. Lalu naik sebesar 1,68% di kuartal dua dan 0,42% di kuartal tiga (q-o-q). Jika dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu, median harga di Q3 2018 justru lebih rendah -0,45% (year-on-year).

Terkait pergerakan pasar properti, Bali Barat dan Bali Utara disebut sebagai dua wilayah yang punya prospek jangka panjang. Bali Barat sendiri masih menyimpan cukup banyak pasokan lahan, sehingga harga tanahnya masih lebih murah jika dibandingkan wilayah Bali di atas.

Saat ini harga kisaran lahan di Bali Barat sekitar Rp200 ribu hingga Rp1 juta/m2.  Sementara lokasinya yang strategis ke depannya akan menjadi jalur lalu lintas terbaik yang menghubungkan Jawa dan Bali. Sebagai jalur utama dan akses jalan utama.

Sementara posisi Bali Utara yang berdekatan dengan laut pada akhirnya memang membuat lokasi ini paling tepat untuk mengembangkan bisnis wisata berbasis air atau kelautan.

Saat ini harga kisaran lahan yang ada di Bali Utara masih berkisar antara Rp1 hingga 2,5 Juta/m2. Disamping akan dikembangkan jalan tol lingkar utara dengan rute yang melewati Kuta – Gilimanuk – Singaraja, lokasi ini pun akan dikembangkan sebagai Bandar Udara Internasional ke-2 di Bali setelah Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.