Bali

Mengulas wilayah Bali, pulau yang menjadi lokasi syuting film nominasi Oscar bertajuk ‘Eat, Pray, Love’ memang menjadi daya tarik wisata bagi turis lokal maupun mancanegara.

Menurut data dari BPS (Biro Pusat Statistik), sejak tahun 2008 hingga 2015 telah terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sekitar 10%. Dari 6,2 juta pada 2008 meningkat menjadi 10,4 juta di 2015.

Sementara data per Agustus 2016, jumlah kunjungan wisatawan asing sudah masuk di angka 7,36 juta atau naik sekitar 8% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Angka ini terus bertumbuh, di mana pada Februari 2018 tercatat ada 14,03 juta turis yang berkunjung ke Indonesia.[boy]

Disebut juga Pulau Dewata, keindahan Bali ternyata juga berpengaruh terhadap perkembangan properti di sana. Tidak hanya bagi pasar domestik, bahkan investor asing pun juga banyak yang melirik pasar properti di sini.

Data Rumah.com Property Index mencatat bahwa harga properti di Bali pada Q2 2018 mencapai Rp13,22 juta per meter persegi. Naik sebanyak 1,68% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Secara tahunan (year-on-year), harga properti di kuartal tahun ini lebih rendah 0,82% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.

Mengamati kondisi bisnis propert terkininya, investor masih tertuju pada kawasan yang strategis seperti Denpasar, Jimbaran, Canggu, dan Seminyak.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi di Bali, cek hitung-hitungannya terlebih dahulu melalui Kalkulator KPR dari Rumah.com.

Tidak berlebihan memang, ketika bisnis properti masih mengalami kelesuan, maka kondisi tersebut secara langsung dapat berimbas pada lokasi-lokasi favorit tadi.

Saat ini, Pemda Bali sendiri tengah memprioritaskan pembangunan ke Wilayah Barat dan Utara. Ke depannya, hal ini diharapkan akan membuat wilayah Bali Barat dan Utara tumbuh menjadi lokasi favorit bagi pengembangan bisnis properti.

Bali Barat misalnya, lahannya masih banyak sehingga masih lebih murah jika dibandingkan tujuh kabupaten lain yang ada di Bali.

Berhubung lokasinya yang strategis, ke depannya wilayah ini pun akan menjadi jalur lalu lintas terbaik yang menghubungkan Jawa dan Bali sebagai jalur utama dan akses jalan utama. Per akhir tahun lalu, harga kisaran lahan di Bali Barat sekitar Rp200 ribu hingga Rp1 juta/m2.

Tips aman berinvestasi properti di Bali, calon konsumen bisa manfaatkan jasa agen properti yang menguasai kawasan sekitar karena setiap agen properti masing-masing memiliki spesialisasi mulai dari kawasan, jenis properti, hingga bahasa. Daftar agen spesialis Bali bisa ditemukan di sini.

Sementara posisi Bali Utara yang berdekatan dengan laut pada akhirnya membuat lokasi ini paling tepat dan ideal untuk dikembangkan sebagai bisnis wisata berbasis air atau kelautan.

Di samping akan tersedia jalan tol lingkar utara dengan rute yang melewati Kuta – Gilimanuk – Singaraja, lokasi ini juga akan dikembangkan sebagai Bandar Udara Internasional ke-2 di Bali.

Salah satu daerah di Bali Utara yang dinilai prospektif adalah Buleleng. Pertumbuhan ekonomi di Buleleng cukup pesat dan menunjukan potensi yang menjanjikan.

Beberapa bentuk nyata dari pesatnya ekonomi ditunjukkan dengan perkembangan infrastruktur penunjang pariwisata yang menarik, seperti adanya short cut (jalan pintas) yang menghubungkan Denpasar dengan Buleleng lebih dekat. Jika dahulu jarak keduanya terpaut 80km kini praktis hanya 60km saja.

Dengan adanya pembangunan jalan tersebut, nantinya akan memudahkan turis domestik maupun internasional yang menuju Buleleng dari Denpasar.

Merujuk update tahun lalu, harga kisaran lahan yang ada di Bali Utara masih berkisar antara Rp1 hingga 2,5 Juta/m2.

Hal lain yang mendukung perkembangan properti di Buleleng adalah pembangunan beberapa pusat pariwisata yang dikelola oleh Perusahaan Krisna.

Pusat pariwisata di Buleleng antara lain Krisna Adventure, Krisna Waterpark, dan juga Krisna Oleh-oleh akan berada dalam satu kawasan.

Seperti diketahui, turis-turis baik domestik maupun internasional sudah mengetahui brand krisna sebagai pusat oleh-oleh yang bercita rasa Dewata.

Uniknya, karakteristik konsumen di Buleleng ternyata berbeda dibandingkan dengan Denpasar. Contohnya, masyarakat Buleleng saat mencari rumah, mereka akan tanya kisaran harga tanah dibandingkan harus menanyakan harga rumah.

Setelah mereka mengetahui harga tanah, mereka baru akan melirik layout rumah. Berdasarkan informasi pada akhir tahun lalu, harga jual tanah di Buleleng dibanderol sebesar Rp50 juta – Rp100 juta per are (atau setara dengan 100m2).

Dengan semakin tingginya turis yang berkunjung ke wilayah ini, otomatis okupansi sewa juga terus menerus meningkat. Tidak hanya itu, kondisi tersebut juga berpengaruh pada harga jual rumah tapak baik primer maupun sekunder.

Contohnya di wilayah Denpasar, harga rumah bekas kini sudah tidak terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah. Pasalnya rumah dengan luas tanah 100 meter dipasarkan mulai Rp1 miliar hingga Rp4 miliar, tergantung lokasi dan konsep bangunan yang diusung.

Yang menarik, harga lahan di kawasan-kawasan ternama Bali bisa naik 2x dalam 1 tahun dengan kenaikan Rp100 - Rp200 ribu. Dan harga lahan termahal berada di Badung, Seminyak, Kuta, dan Legian.

Baca Selengkapnya
5.633km²
Luas wilayah
4,23 Juta
Populasi (Jiwa)
9
Kabupaten/kota
± 60
Jumlah pantai wisata
10
Pusat perbelanjaan
11
Sekolah internasional

Peta & Properti Sekitar

Apa saja yang ada di sekitar

Bali, Indonesia

Baca lebih lanjut Bali

Properti dijual di Bali

Properti disewakan di Bali

Masukan