Dki Jakarta

Ulasan wilayah ini mengupas pasar properti di DKI Jakarta, kota terbesar di Indonesia yang juga merupakan ibu kota negara. Kawasan setingkat provinsi yang menjadi pusat pemerintahan dan pusat bisnis di Indonesia ini terbagi lagi menjadi lima wilayah Kota administrasi dan satu Kabupaten administratif.

Wilayah tersebut seperti Kota administrasi Jakarta Pusat dengan luas 47,90 km2, Kota administrasi Jakarta Utara dengan luas 142,20 km2, Kota administrasi Jakarta Barat dengan luas 126,15 km2, Kota administrasi Jakarta Selatan dengan luas 145,73 km2, Kota administrasi Jakarta Timur dengan luas 187,73 km2, serta Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu dengan luas 11,81 km2

Berdasarkan Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappenas tahun 2019 jumlah penduduk di DKI Jakarta tercatat ada 10.504.100 jiwa. Dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) memproyeksikan jumlah penduduk DKI Jakarta pada 2020 ini akan bertambah 72 ribu orang menjadi 10,57 juta orang. Atau bisa dibilang naik 0,7% dari tahun sebelumnya.

Penduduk DKI Jakarta terbanyak terdapat di jenis kelamin perempuan yakni 5,30 juta jiwa dan laki-laki sebanyak 5,26 jiwa. Sementara berdasarkan rentang usia persebaran terbanyak terdapat di rentang usia 25-29 tahun sebanyak 942.400 jiwa. Persebaran terbanyak kedua terdapat di rentang usia 35-39 tahun, yaitu 927.900 jiwa, dan persebaran paling sedikit terdapat di rentang usia 75 tahun ke atas yang hanya sebanyak 127.600 jiwa

Sebagai pusat pemerintahan dan juga pusat bisnis, DKI Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Saat ini, lebih dari 70% uang negara beredar di Jakarta. Perekonomian Jakarta terutama ditunjang oleh sektor perdagangan, jasa, properti, industri kreatif, dan keuangan.

Beberapa sentra perdagangan di Jakarta yang menjadi tempat perputaran uang cukup besar adalah kawasan Tanah Abang dan Glodok. Kedua kawasan ini masing-masing menjadi pusat perdagangan tekstil serta dengan sirkulasi ke seluruh Indonesia. Bahkan untuk barang tekstil dari Tanah Abang, banyak pula yang menjadi komoditas ekspor.

Sedangkan untuk sektor keuangan, yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian DKI Jakarta adalah industri perbankan dan pasar modal. Di sini juga bermukim lebih dari separuh orang-orang kaya di Indonesia dengan penghasilan minimal USD 100,000 per tahun.

Saat ini DKI Jakarta termasuk kota dengan tingkat pertumbuhan harga properti mewah yang tertinggi di dunia, yakni mencapai 38,1%. Selain hunian mewah, pertumbuhan properti Jakarta juga ditopang oleh penjualan dan penyewaan ruang kantor. Pada periode 2009-2012, pembangunan gedung-gedung pencakar langit (di atas 150 meter) di Jakarta mencapai 87,5%.

Hal itu pula yang menempatkan DKI Jakarta sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan pencakar langit tercepat di dunia. Pada tahun 2020, diperkirakan jumlah pencakar langit di Jakarta akan mencapai 250 unit. Dan Jakarta juga tengah membangun The Signature Tower, gedung tertinggi di Asia Tenggara dengan ketinggian mencapai 638 meter yang ditargetkan selesai di 2020 ini.

Sebagai ibu kota negara, pertumbuhan infrastruktur DKI Jakarta juga mendapat perhatian serius. Proyek pembangunan akses jalan seperti flyover, underpass, hingga jalan tol juga terus dikembangkan setiap tahunnya. Namun perkembangan jumlah mobil dengan jumlah jalan memang sangatlah timpang (5-10% dengan 4-5%).

Menurut data dari Dinas Perhubungan DKI, tercatat 46 kawasan dengan 100 titik simpang rawan macet di Jakarta. Definisi rawan macet adalah arus tidak stabil, kecepatan rendah serta antrean panjang. Selain oleh warga Jakarta, kemacetan juga diperparah oleh para pelaju dari kota-kota di sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor yang bekerja di Jakarta.

Sebagai salah satu kota megapolitan dunia, pertumbuhan infrastruktur penunjang seperti jalan, listrik, telekomunikasi, air bersih, gas, serat optik, bandara, dan pelabuhan di DKI Jakarta tentu saja mendapat perhatian serius dari Pemerintah.

Saat ini rasio jalan di Jakarta mencapai 6,2% dari luas wilayahnya. Selain jalan protokol, jalan ekonomi, dan jalan lingkungan, Jakarta juga didukung oleh jaringan Tol Lingkar Dalam, Tol Lingkar Luar (JORR), Tol Jagorawi, Tol Ulujami-Serpong, Tol Desari, dan lain-lain.

Pemerintah juga berencana akan membangun Tol JORR tahap kedua yang mengelilingi kota Jakarta dari Bandara Soekarno Hatta-Tangerang-Serpong-Cinere-Cimanggis-Cibitung-Tanjung Priok.

Untuk ke kota-kota lain di Pulau Jawa, Jakarta terhubung dengan Tol Jakarta-Cikampek yang bersambung dengan Jalan Tol Cipularang ke Bandung dan Jalan Tol Cipali ke Cirebon. Selain itu juga tersedia layanan kereta api yang berangkat dari enam stasiun pemberangkatan di Jakarta.

Untuk ke Pulau Sumatra, tersedia ruas Jalan Tol Jakarta-Merak yang kemudian dilanjutkan dengan layanan penyeberangan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni. Untuk ke luar pulau dan luar negeri, DKI Jakarta memiliki satu pelabuhan laut di Tanjung Priok dan bandar udara.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tanggerang, Banten yang melayani penerbangan internasional dan domestik, dan Bandara Halim Perdanakusuma yang banyak berfungsi untuk melayani penerbangan kenegaraan serta penerbangan domestik.

Untuk pengadaan air bersih, saat ini Jakarta dilayani oleh dua perusahaan, yakni PT. Aetra Air Jakarta untuk wilayah sebelah timur Sungai Ciliwung, dan PT. PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) untuk wilayah sebelah barat Sungai Ciliwung. Kedua perusahaan ini menyuplai air bersih bagi 60% penduduk DKI Jakarta.

Baca Selengkapnya
5
Kota Administrasi
1
Kabupaten Administratif
2.166
Taman Kota
159
Rumah Sakit
2
Bandar Udara
1
Pelabuhan

Peta & Properti Sekitar

Apa saja yang ada di sekitar

Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta, Indonesia

Baca lebih lanjut Dki Jakarta

Simak lebih lanjut wilayah Dki Jakarta

Properti dijual di Dki Jakarta

Properti disewakan di Dki Jakarta

Masukan