Pasar properti Jakarta Utara untuk saat ini bisa dibilang seperti dalam masa pancaroba. Meskipun demikian, berdasarkan data Rumah.com Property Index, median harganya saat ini terus merangkak naik sekalipun tipis-tipis. Hal ini tercatat sejak kuartal pertama hingga kuartal ketiga tahun 2018.

Jika di awal tahun median harga pasar properti Jakarta Utara berada pada posisi Rp26,77 juta per meter persegi maka di kuartal kedua (Q2) mengalami kenaikan hingga 1,10%. Dan di kuartal ketiga (Q3) 2018, median harganya naik lagi menjadi Rp27,08 juta per meter persegi.

Data Rumah.com Property Index terdahulu juga mencatat bahwa indeks harga properti di Jakarta Utara memang terus mengalami kenaikan. Pada kuartal ketiga 2017 saja tercatat Rp26,79 juta per meter persegi. Di kuartal keempat 2017 median harganya lalu berada pada angka Rp26,97 juta per meter persegi.

Ya, banyak pengamat properti yang menilai arah pasar properti Jakarta Utara untuk saat ini memang dalam masa pancaroba, masa peralihan. Ini semua hanya tinggal menunggu waktu saja. Pasar properti Jakarta Utara akan bergerak positif sejalan siklus property clock.

Dan jangan lupa dengan proyek-proyek infrastruktur raksasa dan modern yang kini tengah dikerjakan di kawasan ini. Sebut saja seperti Proyek Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall. Proyek di sepanjang pantai utara Jakarta dengan total investasi mencapai Rp 200 triliun ini diperkirakan akan memakan waktu 10 tahun.

Lalu pengembangan infrastruktur Jakarta Utara lewat pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Ali Sadikin di Marunda dengan total investasi mencapai Rp50 triliun. Dan proyek-proyek lainnya seperti jalan layang, kereta ringan (LRT), dan jalan tol bagian dari proyek enam ruas tol dalam kota Jakarta yang untuk tahap pertama ruas Semanan-Sunter (20,23 kilometer) dan Sunter-Pulo Gebang (9,44 km).

pasar properti jakarta utara

Tercatat beberapa pengembang kelas kakap sudah menguasai lahan-lahan di dalam kawasan ini, khususnya dalam area Kota Bandar Baru Kemayoran.

Yang menarik, perkembangan harga tanah di Jakarta Utara dimotori beberapa wilayah seperti Pluit (Penjaringan), Kelapa Gading, dan Sunter dengan harga tanah rata-rata tertinggi Rp30,6 juta meter persegi.

Harga tanah di Pluit pun mengejar Kelapa Gading dengan kisaran Rp18 juta – 30 juta meter persegi. Di beberapa titik, harga tanah di daerah ini ternyata mencapai Rp35 juta meter persegi, bahkan untuk lahan komersial sampai diangka Rp60 juta meter persegi. Simak di sini untuk pilihan lengkap huniannya.

Dan yang menarik adalah kawasan Bandar Baru Kemayoran yang sebagian wilayahnya masuk wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Ya, perkembangan kawasan Kemayoran sempat pesat pada periode tahun 2002-2004 yang ditandai dengan banyaknya pembangunan apartemen.

Meski begitu, pertumbuhannya melambat setelah masifnya pembangunan CBD di kawasan Sudirman dan Thamrin. Sekarang setelah pasokan lahan di Jakarta Pusat semakin menipis, para pengembang kini kembali melirik kawasan Kemayoran sebagai tujuan investasi.

Tercatat beberapa pengembang kelas kakap sudah menguasai lahan-lahan di dalam kawasan ini, khususnya dalam area Kota Bandar Baru Kemayoran. Pengembang besar tersebut antara lain Agung Sedayu Group, Pikko Group, Central Cipta Murdaya Group, Ciputra Group, Springhill Group, dan lainnya. Dan apartemen menjadi proyek terbanyak yang dikembangkan di kawasan Bandar Baru Kemayoran ini.

Apalagi kawasan ini juga dikelilingi oleh fasilitas publik dan transportasi yang lengkap. Dan alasan banyak orang membidik hunian di sini karena lalu lintas yang relatif lenggang, memiliki akses yang mudah menuju perbelanjaan elit di kawasan Kelapa Gading, maupun perkantoran di Sudirman-Thamrin.