Pasar properti Jakarta Pusat tampaknya kini tengah bergeliat penuh semangat. Hal ini cukup beralasan mengingat ada banyak faktor yang mendukung menggeliatnya pasar properti Jakarta Pusat saat ini.

Berdasarkan data Rumah.com Property Index, tren median harganya terus melesat naik. Hal ini terlihat dari catatan sejak kuartal pertama hingga kuartal ketiga tahun 2018. Jika di awal tahun median harga pasar properti Jakarta Pusat berada pada posisi Rp25,61 juta per meter persegi, maka di kuartal kedua (Q2) mengalami kenaikan hingga 1,17%.

Dahsyatnya, memasuki kuartal ketiga (Q3) 2018 median harganya terus bergerak naik sebanyak 2,92% atau menjadi Rp26,67 juta per meter persegi. Untuk tahun ini kenaikannya memang terbilang sangat signifikan. Bisa jadi ini karena banyak proyek infrastruktur baru seperti Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rapid Transport (LRT) yang sebentar lagi rampung.

Untuk Jakarta sendiri berdasarkan hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index masih menjadi lokasi favorit para pencari hunian di Indonesia. Rumah.com Property Affordability Sentiment Index ini merupakan survei tahunan yang dilakukan oleh Rumah.com bekerja sama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura, dengan total 1.030 responden.

Terkait ketertarikan masyarakat tinggal di Jakarta, terutama Jakarta Pusat, sudah tentu didasari karena pertimbangan lokasi, akses, dan nilai investasinya yang tinggi. Apalagi memiliki rumah pribadi di Ibukota bisa jadi sebuah prestise tersendiri.

Bicara harga, sebagai jantung Central Business District (CBD) se-Indonesia, median harga rumah di Jakarta, terutama Jakarta Pusat memang sangat tinggi. Sebagai gambaran di Q1 2017 saja harganya mencapai Rp24,34 juta per meter persegi. Median harga bahkan terus melonjak hingga di Q4 2017 mencatatkan harga di angka Rp25,64 juta per m2.

pergerakan harga jakarta pusat

Ketertarikan masyarakat tinggal di Jakarta, terutama Jakarta Pusat, sudah tentu didasari karena pertimbangan lokasi, akses, dan nilai investasinya yang tinggi.

Di lain sisi karateristik Jakarta Pusat pun sangat unik, terutama di lokasi yang bersebelahan langsung dengan wilayah lainnya. Misalnya di lokasi perbatasan antara Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan harga tanah berkisar di atas Rp25 Juta. Sedangkan perbatasan dengan Jakarta Barat harga tanah masih lebih sedikit murah yakni di bawah Rp15 Juta per meter persegi.

Dan yang menarik kenaikan NJOP Jakarta yang awalnya diyakini akan memengaruhi daya tarik pasar properti di kawasan ini nyatanya tidak perlu dikuatirkan. Ya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk wilayah DKI Jakarta yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 24/2018, yang diteken Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, 29 Maret 2018 lalu.

Kenaikan ini berlaku secara proporsional. Rata-rata kenaikan NJOP ini mencapai 19,54% dari nilai NJOP terakhir. Secara langsung, kebijakan baru ini jelas berimbas pada kenaikan nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang harus dibayar warga DKI Jakarta pada 31 Agustus lalu.

“Sebagai pusat bisnis nasional, Jakarta, tentu saja, merupakan kawasan dengan tren harga properti yang terus meningkat. Memang ada kekuatiran penyesuaian NJOP ini dapat menurunkan daya tarik properti, khususnya hunian. Pencari properti akan makin bergeser ke Bodetabek, apalagi dengan pembangunan infrastruktur penghubung yang masif saat ini,” ujar Country Manager Rumah.com, Marine Novita.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nilai NJOP di Ibu Kota saat ini berkisar pada Rp4,7juta hingga Rp48 juta per meter persegi. Umumnya, rata-rata pemilik lahan mematok harga lebih tinggi sekitar 30% dari NJOP. Kawasan Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat adalah kawasan dengan peningkatan tertinggi.