Infrastruktur Jakarta Selatan terus ditingkatkan seiring dengan kebutuhan masyarakat akan akses yang lebih baik. Apalagi, Jakarta Selatan dengan jumlah penduduk sebanyak 2.184.264 jiwa pada 2016, memiliki mobilitas tinggi ke wilayah Jakarta lainnya setiap hari.

Di lain sisi, Pemerintah sudah menghadirkan proyek jalur bebas hambatan (tol) sejak akhir tahun 1980-an. Ialah Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) sepanjang 76km yang melintasi area Jakarta Selatan. Hal ini demi memenuhi kebutuhan kelancaran konektivitas antara Jakarta Selatan dengan wilayah administrasi bagian timur, barat, utara, maupun pusat.

Selain infrastruktur Jakarta Selatan yang sudah bisa dinikmati sekarang, lantas apalagi yang bakal hadir dalam menunjang aksesibilitas masyarakat?

Mass Rapid Transit (MRT)

MRT atau Mass Rapid Transit dibangun oleh Pemerintah guna memberikan kesempatan kepada warga kota Jakarta, dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas mobilitasnya menjadi lebih andal, terpercaya, aman, nyaman, dan ekonomis.

Proyek transportasi masal ini rencananya akan rampung pada tahun 2018 dengan rute Lebak Bulus – Bundaran HI. Nantinya rute ini akan dilengkapi dengan 13 stasiun, yang terdiri dari 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah. Sementara tahap II akan melanjutkan jalur selatan-utara dari Bundaran HI ke Kampung Bandan sepanjang 8,1km, yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2020.

MRT telah menyelesaikan penyusunan rencana induk kawasan TOD di Jakarta. Utamanya yang dilalui oleh fase 1, nantinya akan disahkan menjadi Panduan Rancang Kota (PRK). PRK ini untuk menjawab aksesibilitas karena sangat menekankan akses pejalan kaki yang memudahkan perpindahan antarmoda transportasi. MRT Jakarta akan membuat pengguna transportasi publik di kawasan tersebut menjadi lebih nyaman dan aman.

Sebagai proyek infrastruktur Jakarta Selatan terbaru, PT MRT Jakarta juga ditugaskan menjadi operator utama pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development. Tujuannya untuk memadukan fungsi transit dengan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik. Salah satunya adalah pengembangan di kawasan Dukuh Atas yang direncanakan menjadi area irisan tidak kurang dari lima moda angkutan umum. Diantaranya MRT Jakarta, kereta commuter line, kereta bandara, kereta LRT Jakarta, dan bus Transjakarta.

Jalur MRT Jakarta

Sebagian dari konstruksi jalur MRT Jakarta merupakan struktur layang (Elevated), yang membentang ±10 km; dari wilayah Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja. Tujuh Stasiun Layang konstruksi ini adalah Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M dan Sisingamangaraja. Depo kereta api dibangun di area Lebak Bulus, berdekatan dengan stasiun awal/akhir Lebak Bulus. Seluruh stasiun penumpang dan lintasan dibangun dengan struktur layang yang berada di atas permukaan tanah. Sementara Depo kereta api dibangun di permukaan tanah (on ground).

Sedangkan konstruksi bawah tanah (Underground) MRT Jakarta membentang ±6 km, yang terdiri dari terowongan MRT bawah tanah dan enam stasiun MRT bawah tanah. Stasiun bawah tanah ini adalah Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia.

Tol Depok Antasari akan membebankan biaya sebesar Rp9.000 bagi penggunanya,

Tol Depok Antasari akan membebankan biaya sebesar Rp9.000 bagi penggunanya,


Tol Depok Antasari (Desari)

Salah satu jalan penghubung antara Jakarta Selatan dengan wilayah penyangga adalah Tol Depok-Antasari atau Desari. Sudah diresmikan Presiden Joko Widodo pada akhir September lalu, saat ini pengendara sudah bisa melintasi jalan tol seksi 1 ruas Antasari-Brigif sepanjang 5,8km.

Infrastruktur Jakarta Selatan ini memiliki total panjang 21,6km, ditargetkan akan rampung seluruhnya pada tahun 2019. Pembangunan Tol ini rencananya akan dilanjutkan hingga Salabenda, Kabupaten Bogor sepanjang 6,5km dan akan terkoneksi dengan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR). Nantinya, apabila telah rampung pada tahun 2021, ruas tol ini akan mengurangi beban lalu lintas Tol Jagorawi. Disamping itu mempercepat waktu tempuh penduduk di Jakarta Selatan menuju Bogor.

Mau beli rumah dekat Tol Desari? Simak dulu perkembangan wilayahnya dalam Area Insider Depok!

Apabila tol ini tersambung sampai Bogor, maka bisa mengurangi sekitar 30-40% arus lalu lintas pada ruas tol Jagorawi. Hingga saat ini Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) untuk rencana pembangunan Tol Desari baru sampai Depok. Rencana penambahan ruang lingkup PPJT Tol Desari hingga ke Salabenda, Bogor dalam tahap pembahasan akhir.

Pembangunan Tol Desari terbagi dalam tiga seksi. Seksi I ruas Antasari – Brigif/Cinere sepanjang 5,80km, seksi II ruas Brigif – Sawangan sepanjang 6,30km. Sementara seksi III akan melintasi Sawangan – Bojong Gede, Bogor sepanjang 9,5km. Dengan diresmikannya ruas Antasari – Brigif, diperkirakan akan memangkas jarak dan waktu tempuh dari semula sekitar 20-25 menit menjadi hanya 4-5 menit. 

Nilai investasi keseluruhan tol Depok – Antasari sebesar Rp4,886 triliun dengan biaya konstruksi sebesar Rp 3,334 triliun.