Pasar properti Jakarta Selatan punya sisi yang selalu menarik untuk dibahas. Sebagai area hunian terfavorit di Ibukota, kawasan Jakarta Selatan hingga kini terus dibanjiri suplai residensial. Baik yang masih berbentuk rumah tapak maupun apartemen.

Untuk rumah tapak, sasaran pengembang masih terpusat di area-area pinggir yang letaknya berhimpitan dengan perbatasan. Hal ini mengingat stok lahan yang sudah menipis. Misalnya, Jagakarsa yang bersebelahan langsung dengan Depok, atau Bintaro yang hanya selangkah dengan Tangerang Selatan.

Sementara hunian vertikal biasanya masih berada di bilangan Kemang, Gatot Subroto, TB Simatupang, Pondok Indah, Kebagusan, Kalibata, hingga Senopati. Semakin strategis dan premium, harga jual apartemen sudah pasti semakin tinggi.

Diantara lokasi-lokasi tersebut, Kemang sebagai salah satu kawasan prestise membanderol harga cukup tinggi untuk sebuah rumah tapak. Dan hal tersebut diikuti oleh area lain disekitarnya seperti Ampera, Antasari, Pejaten, dan Cipete sudah melonjak tajam.

Contoh nyata di Ampera, rumah baru seluas 355m2 (bangunan) dibandrol kisaran Rp6,6 miliaran. Itu baru di Ampera. Jika di Kemang-nya sendiri, harga bakal lebih tinggi sekitar Rp1-2 miliaran dibanding area sekitar.

Bila bujet kurang dari itu tapi tetap menginginkan kedekatan dengan Kemang, tinggal apartemen bisa dikatakan solusi terbaik. Mengingat harga apartemen relatif lebih terjangkau namun fasilitasnya lebih eksklusif.

Lain lagi jika membahas pasar properti Jakarta Selatan untuk kawasan Gatot Subroto. Harga lahan di salah satu kawasan bisnis Jakarta ini sudah melambung tinggi. Berdasarkan data Rumah.com Property Index, median harga untuk apartemen di kawasan ini berada pada kisaran Rp30 juta-Rp80 juta/m2.

infrastruktur-jakarta-selatan-tol-depok-antasari

Tol Depok-Antasari (Desari) Seksi I rute Brigif-Antasari sudah beroperasi sejak 30 September 2018.


Harga Terpantau Dinamis

Mengamati perkembangannya sejak beberapa tahun silam, pasar properti Jakarta Selatan terus berbenah diri dengan menawarkan sejuta pesonanya. Meski lahan sudah terbatas, nyatanya pembangunan hunian tapak maupun vertikal masih mudah ditemukan di sini.

Menurut catatan Rumah.com Property Index, harga properti di Jakarta Selatan berada pada posisi Rp26.070.000 per m2 di Q3 2018. Kondisinya turun dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar -0,26% (q-o-q). Padahal median harga sempat naik drastis dari Q1 ke Q2 2018 mencapai 2,2%.

Pergerakan harga yang dinamis menjadi salah satu penyebab tumbuhnya kawasan bisnis dan komersial, yang saat ini sudah tampak jelas terpampang lewat koridor TB Simatupang.

Jalur utama transportasi sepanjang rute KRL Depok-Manggarai menjadi urat nadi ekonomi harian. Jalur lain yaitu Cinere-Lebak Bulus pun berkembang ke arah komersial.

Sementara Jalan Raya Fatmawati dan Jalan Pangeran Antasari banyak mengalami perubahan dari rumah ke pertokoan dan perkantoran.

Apalagi, saat ini terdapat dua proyek infrastruktur transportasi yang akan meningkatkan perekonomian Jakarta Selatan, yaitu Tol Depok-Antasari (Desari) dan Jalur MRT Lebak Bulus-Tanah Abang.

Jika kedua proyek sudah beroperasi secara penuh, maka diperkirakan akan mengurangi kemacetan rutin harian pada jam berangkat dan pulang kerja. Dengan aksesibilitas yang lebih cepat dan mudah, tentu akan menarik peluang ekonomi di sepanjang rute tersebut.

Sementara efek hadirnya Tol Desari diharapkan semakin mendorong nilai properti yang berada di kawasan TB Simatupang, Antasari dan sekitarnya. Apalagi kawasan tersebut juga sudah hidup, tidak seperti Alam Sutera atau Serpong yang terbentuk karena pembangunan pembangunan proyek baru.

Alhasil, kehadiran pembangunan gedung perkantoran di TB Simatupang yang terus mengalami peningkatan, mendorong beberapa pengembang turut membangun hunian vertikal.