Katulampa. Setiap musim hujan tiba, Bendungan Katulampa yang berada di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, selalu menjadi pusat perhatian warga Jakarta dan sekitarnya. Kenapa? Karena perkembangan debit air di bendungan ini sangat menentukan: Apakah Jakarta akan banjir atau tidak?

Ya, bagi sebagian besar penduduk Jakarta, bendungan Katulampa bisa dibilang berfungsi seperti alarm. Terutama di musim hujan. Asal tahu saja, bendungan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda ini berfungsi sebagai sistem informasi dini.

Berfungsi untuk memperingatkan potensi bahaya banjir bagi sebagian wilayah Jakarta yang dilalui Sungai ciliwung yang berhulu di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur. Tepatnya di Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan daerah Puncak.

Alurnya, pantauan debit dan ketinggian air di Bendungan Katulampa ini akan dilaporkan petugas ke berbagai pihak yang berkepentingan seperti Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, pos pemantau ketinggian air Ciliwung di Depok, petugas Pintu Air Manggarai, dan Pemerintah Kota Bogor.

Data mengenai ketinggian air di Bendungan Katulampa ini dapat memperkirakan kapan air memasuki wilayah Jakarta. Jadi masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar aliran Sungai Ciliwung dapat mengantisipasi sedini mungkin datangnya banjir yang akan melewati daerah tempat tinggalnya.

Saking pentingnya peran Katulampa, bangunan beton yang melintang sepanjang 74 meter itu banyak didatangi para pejabat, terutama di musim penghujan. Sebut saja mulai dari gubernur, menteri, hingga warga. Bahkan dua presiden terakhir republik ini, Megawati dan SBY, pernah menelepon langsung ke pos penjaga Katulampa.

Bendungan ini merupakan karya Ir. Hendrik van Breen, insinyur sipil yang ahli dalam bidang pengairan dan kesehatan lingkungan. Hendrik adalah guru besar Teknik Sipil Bidang Bangunan Air Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung.

bendungan katulampa

Dari Bogor bagian timur, aliran sungai mengalir ke Jakarta, di sepanjang sisi Jalan raya Bogor, melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta.

Bendungan ini sendiri dibangun tahun 1889, setelah terjadinya banjir besar yang melanda Jakarta pada tahun 1872. Saat itu banjir dikabarkan membuat daerah Harmoni, Jakarta Pusat, ikut terendam air luapan Sungai Ciliwung.

Bendungan yang di musim penghujan kerap dihujani perhatian ini sebenarnya mulai beroperasi tahun 1911. Namun baru diresmikan penggunaannya pada 11 Oktober 1912 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alexander Willem Frederik Idenburg, didampingi para pejabat penting masa itu. Peresmiannya dimeriahkan pula dengan gamelan dan tari-tarian, serta upacara selamatan dengan kepala kerbau.

Tujuan dibangunnya bendungan ini, selain sebagai sarana irigasi lahan persawahan seluas 5.000 hektare yang terdapat pada sisi kanan dan kiri bendung, juga peringatan dini atas potensi kemungkinan terjadinya banjir akibat meluapnya aliran Sungai Ciliwung dari Bogor yang melintas ke Jakarta.

Jadi dari Katulampa, sebagian air Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke Kali Baru Timur, saluran irigasi yang dibangun pada waktu yang sama. Dari Bogor bagian timur, sungai buatan itu mengalir ke Jakarta, di sepanjang sisi Jalan raya Bogor, melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta.

Dan untuk pertama kalinya pada tahun 2004 Bendung Katulampa direnovasi dengan dana APBD Provinsi Jawa Barat. Lalu dilengkapi sarana pendukung seperti pengontrol dasar sungai atau consolidation dam, jembatan Katulampa, dan pembuatan alat ukur saluran induk (untuk mencatat curah hujan). Pemerintah juga menata lingkungan di sekitar bendungan hingga nampak asri dan nyaman.

Cari rumah di daerah yang nyaman dan bebas banjir? Cek di sini!

Bendungan ini naik daun ketika Jakarta dikepung banjir pada 2001. Warga Jakarta mengira Bendung Katulampa berfungsi sebagai bendungan yang bisa menampung banyak air. Hingga ketika berkembang isu Bendung Katulampa jebol, warga Jakarta sangat ketakutan akan adanya banjir kiriman.

Padahal fungsi Bendung Katulampa ini sebagai pusat pemantau sekaligus untuk irigasi di Bogor. Air dari hulu sungai di daerah Telaga Warna, Puncak, Cisarua, dan anak Sungai Ciliwung mengalir melewati Bendung Katulampa.

Di sini petugas pemantau selalu mencatat perkembangan ketinggian air, debit air, dan curah hujan setiap jam selama 24 jam, dari pukul 07.00 sampai jam yang sama keesokan harinya. Semua data harian dimasukkan ke buku laporan bulanan.

Pencatatan ini berlangsung sejak Bendung Katulampa ini berdiri. Jadi data yang ada bisa dijadikan acuan pada awal musim penghujan, pertengahan musim penghujan, hingga musim kering.