Tahun 2020 ini sudah dua kali Bekasi diterjang banjir, di awal tahun dan 25 Februari lalu. Dan sepanjang sejarah berdirinya Bekasi, banjir tahun ini adalah yang terparah. Tapi yang menarik sejarah banjir di Bekasi nyatanya tak pengaruhi sektor properti.

Berbagai ahli dibidang properti telah melakukan analisa terkait pelemahan industri properti di Indonesia sejak tahun 2014 lalu. Nyatanya sektor properti kita masih sangat berpotensi untuk terus berkembang, terutama pada area wilayah koridor timur Jakarta yang mencakup Bekasi dan Cikarang.

Pada area koridor timur Jakarta ini kini banyak dibangun berbagai macam proyek infrastruktur. Sebut saja elevated toll Jakarta-Cikampek yang kini sudah beroperasi, proyek LRT Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi) yang sebentar lagi rampung, dan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Mau punya rumah dengan luas bangunan di atas 80 meter persegi di kawasan Bekasi dengan harga di bawah Rp700 juta? Cek aneka pilihan rumahnya di sini!

Belum lagi akses yang mudah, selangkah dari Jakarta, dan harga hunian yang masih murah membuat Bekasi difavoritkan sebagai kawasan hunian. Istilahnya sekalipun banjir menerjang, Bekasi tetap jadi kawasan hunian pilihan bagi banyak orang.

Harga Properti Tak Tergerus Banjir di Bekasi

Harga Properti Tak Tergerus Banjir di Bekasi

Data terakhir hingga Q4 2019, median harga properti di Bekasi tercatat sudah mencapai Rp8.590.000 juta per meter perseginya.

Faktanya berdasarkan Rumah.com Indonesia Property Market Index 2020, median harga properti Bekasi terus bergerak naik meski setiap tahunnya banjir selalu melanda kawasan penyangga Jakarta ini.

Sebagai gambaran, pada Q4 2017 median harga properti, baik rumah ataupun apartemen, tercatat ada di angka Rp7.560.000 per meter perseginya. Dan data terakhir hingga Q4 2019 tercatat sudah mencapai Rp8.590.000 juta per meter perseginya.

Artinya dari Q4 2017 sampai di Q4 2019 median harga properti di kawasan ini mengalami kenaikan hingga 13,6%. Lebih spesifik lagi, untuk harga rumah di Bekasi pada Q4 2017 berada di angka Rp10.140.000 per meter persegi dan di Q4 2019 Rp10.640.000 per meter persegi. Tetap naik meski tipis-tipis.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Begitupun untuk pergerakan median harga apartemen di Bekasi. Pada Q4 2017 berada di angka Rp14.290.000 per meter persegi dan menjadi Rp15.310.000 per meter persegi di Q4 2019, atau naik sebanyak 7,13%.

Inilah Penyebab Banjir di Bekasi

Inilah Penyebab Banjir di Bekasi

Drainase proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCIC) yang sedang digarap oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dianggap sebagai penyebab banjir di Bekasi

Seperti yang diungkapkan di atas, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan bahwa banjir di Bekasi kali ini adalah yang terparah sepanjang sejarah. “Dalam sejarahnya banjir di Bekasi belum pernah seperti ini, merata di semua wilayah,” kata Rahmat Effendi.

Ada sejumlah penyebab banjir di Bekasi. Selain belakangan karena curah hujan yang sangat tinggi, penyebab lainnya juga karena meluapnya Kali Bekasi yang menampung aliran Kali Cikeas dan Cileungsi. Dampaknya banjir di Bekasi merata, hampir tersebar di seluruh kecamatan. Bukan hanya di permukiman warga di dekat bantaran Kali Bekasi saja.

Terkait banjir yang terjadi pada sejumlah titik di wilayah Kabupaten dan Kota Bekasi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pun buka suara soal penyebab banjir di Bekasi. Terutama soal terendamnya pemukiman warga Bekasi yang letaknya di pinggir Tol Jakarta-Cikampek (Japek). 

Mau punya hunian di kawasan Bekasi yang didukung fasilitas dan infrastruktur kawasan yang lengkap? Cek pilihan huniannya di sini!

Drainase proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCIC) yang sedang digarap oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dianggap sebagai penyebabnya. Untuk menanganinya, pihak Kementerian PUPR pun membongkar drainase di Tol yang tertutup proyek KCJB.

“Kalau di pinggir-pinggir tol karena ada pengerjaan Proyek KCIC, Kereta Cepat, jadi kita bongkarin drainasenya. Kita bongkar karena drainasenya menutup-nutup, di KM 8, 19, dan 34,” jelas Basuki.

Sejarah Panjang Banjir di Bekasi

Sejarah Panjang Banjir di Bekasi

Ekspansi penduduk Jakarta ke Bekasi pun semakin nyata, menimbulkan permintaan yang tinggi akan kawasan perumahan.

Riwayat banjir di Bekasi sebenarnya sudah terjadi sejak berabad-abad lalu, sejarah panjang yang sudah tercatat sejak berabad-abad silam. Kota Bekasi yang terletak di dataran rendah memang “dirancang” secara alamiah sebagai kota rawa-rawa.

Abad 5 masehi, Raja Tarumanagara, Purnawarman bahkan membangun sodetan Kali Candrabhaga dan Kali Gomati. “Sodetan ini untuk mencegah banjir ke arah keraton dan pertanian,” kata Ali, Sejarawan Bekasi.

Jejak banjir juga tampak dari moda transportasi yang digunakan masyarakat Bekasi kuno untuk beraktivitas. Meski banjir langganan melanda, namun dampak yang ditimbulkannya tak begitu besar. Masyarakatnya dulu punya cara hidup yang bersahabat dengan alam, tunduk pada ketentuan alam.

“Selama berabad-abad masyarakat Bekasi hidup dengan mengandalkan Kali Bekasi menggunakan perahu. Jalan dan rumah yang berjejer dari Bogor sampai muara Bekasi menghadap ke sungai,” jelas Ali.

Memasuki Era Kolonial, pembangunan pun mulai merambah Bekasi. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, HW Daendels membabat lahan untuk membentangkan jalan raya Pantura Bekasi-Cirebon di awal 1800. Akhir tahun 1800, dibangun rel kereta api dari Manggarai ke Kedunggedeh.

“Moda transportasi mulai bergeser dari air ke jalan raya dan rel. Rumah mulai berpindah ke pinggir jalan. Jalan raya dan rel membuat jalan air terganggu, sehingga mulai banjir di sisi selatannya,” urai Ali Anwar.

Pembangunan Berdampak Bagi Banjir di Bekasi

Pembangunan Berdampak Bagi Banjir di BekasiKali Bekasi dan Sungai Citarum pun mulai kerap meluap. Lahan pertanian langganan dilanda banjir. Tahun 1973-1984, Pemerintah Kabupaten Bekasi (saat itu Bekasi belum terbagi menjadi kota dan kabupaten seperti sekarang) merampungkan pembangunan kanal Cikarang-Bekasi-Laut (CBL) buat mengatasi masalah banjir itu.

“Setelah kanal CBL dibangun, air langsung surut, Bekasi bebas banjir. Karena CBL menyelesaikan banjir, pemerintah pede bebas banjir,” kata Ali.

Dekade 1980-1990, pembangunan kian gencar di Jakarta. Ekspansi penduduk Jakarta ke Bekasi pun semakin nyata, menimbulkan permintaan yang tinggi akan kawasan perumahan.

Masalah kian pelik setelah pemerintah pusat membangun Jalan Tol Jagorawi yang melintasi hulu Kali Bekasi. Pembangunan ini, menurut Ali, tak diimbangi dengan pembangunan sistem gorong-gorong yang lebar.

Malah, ekses Jalan Tol Jagorawi ini menimbulkan berkembangnya perumahan dan industri, yang berarti mencaplok lagi daerah tangkapan air.

“Kali Bekasi kian dangkal, sementara air amat deras melaju dari arah Puncak dan Bogor. Bendung Bekasi yang sudah tua kurang mampu menahan besarnya debit air dari Bogor dan Purwakarta (Kalimalang). Pembangunan polder air tak mampu menampung air hujan,” ujar Ali.

Itulah sejarah banjir di Bekasi yang tak memengaruhi sektor properti. Jadi mau cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya lewat Area Insider.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah