Kota Depok kini memang telah menjelma menjadi kota metropolitan, terus bertumbuh besar baik dari ukuran luas wilayahnya, jumlah penduduk, maupun skala aktivitas ekonomi dan sosialnya.

Ya, kawasan ini kini punya segalanya: Kantor pusat pemerintahan, rumah sakit, berbagai kampus perguruan tinggi, perumahan, sekolah, hotel, pusat bisnis, hingga mall. Begitulah perkembangan Kota Depok sekarang.

Tapi tahukah Anda bagaimana kondisi kawasan yang mendapat julukan Kota Belimbing ini di masa awal berdirinya? Simak sekilas sejarah berdirinya Kota Depok berikut ini:

Butuh informasi lengkap seputar perkembangan dan potensi kawasan lainnya? Simak info lengkapnya di AreaInsider.

1. Kota Depok Dulu Tempat Jin Buang Anak

Kota Depok Dulu Tempat Jin Buang Anak

Harus diakui kehadiran Perumnas Depok I, Depok Utara, Depok 2 dan juga Depok Timur mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kawasan ini.

Pada era awal tahun 1980-an Kota Depok masih dijuluki sebagai “daerah tempat jin buang anak”. Wajar mengingat sebelum tahun 1980 baru ada beberapa proyek perumahan skala nasional yang dibangun di kawasan ini yaitu Perumahan Nasional (Perumnas) Depok 1.

Perumahan ini merupakan Perumahan Nasional pertama di Indonesia yang selesai dibangun oleh Perum Perumnas pada tahun 1976. Selain itu juga ada perumahan Depok Utara dan Depok 2. Dan di masa itu status Depok juga masih sebatas Kota Kecamatan yang merupakan bagian dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Temukan beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Harus diakui kehadiran Perumnas Depok I, Depok Utara, Depok 2 dan juga Depok Timur mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kawasan ini di kemudian hari, seperti masa sekarang ini.

2. Perumahan Nasional (Perumnas) Pertama Dibangun di Kota Depok

Perumahan Nasional (Perumnas) Pertama Dibangun di Kota Depok

Perumnas Depok saat ini. Dulu juga sering dicibir orang sebagai “rumah kandang burung merpati”.

Perumnas Depok 1 di Kelurahan Depok Jaya merupakan perumahan nasional pertama di Indonesia yang dibangun oleh Perum Perumnas. Selesai dibangun pada 12 Agustus 1976 dan diresmikan langsung Presiden Ke-2 RI HM Soeharto.

Perumnas Depok 1, ketika itu juga sering dicibir orang sebagai “rumah kandang burung merpati”. Ini karena ukuran dan bentuk rumahnya yang rata-rata kecil yaitu type 21/72, 36/90, 45/90 dan hanya sedikit yang berukuran besar 2 lantai, itupun hanya yang berada di sisi jalan utama, Jalan Nusantara Raya.

Bangunannya sendiri beratapkan asbes dengan dinding yang sebagian berupa tembok dari batako putih dan diatasnya menggunakan seperti triplek namun berbahan bekas serutan kayu yang dipres. Untuk jendelanya sebagian besar menggunakan kaca yang disebut kaca nako dengan tinggi langit-langit rumah hanya sekitar 2,3 meter saja.

Tapi perumahan di Depok sekarang punya pilihan yang beragam, dari perumahan sederhana hingga perumahan mewah, bahkan apartemen dengan beragam konsep kini pun menjamur di kawasan ini. Tertarik punya hunian di kawasan ini? Temukan aneka pilihan huniannya di sini! 

Dalam setiap gang sedikitnya terdapat minimal 12 rumah dimana satu deret berdampingan ada 6 rumah. Perolehannya pun tidak bisa memilih atau menentukan sendiri melainkan dengan cara diundi. Beruntung bagi mereka yang memperoleh rumah perumnas Depok 1 dengan posisi dipinggir atau hook yang tanahnya sedikit lebih luas.

3. Akses Jalan Kota Depok Masih Minim

Akses Jalan Kota Depok Masih Minim

Jalan Margonda Depok lebarnya hanya cukup 2 mobil untuk dua arah berlawanan dengan pemandangan utama kanan dan kiri jalan kebun jambu, pepaya, dan sebagian pisang.

Akses jalan utama dari Jakarta menuju kota Depok di masa itu juga masih terbatas. Hanya ada dua akses jalan raya dengan aspal yang cukup baik di Jalan Raya Bogor dan Jalan Raya Pasar Minggu-Depok.

Jalan Raya Pasar Minggu ke Jalan Margonda Depok dengan lebar hanya cukup 2 mobil untuk dua arah berlawanan dengan pemandangan utama kanan dan kiri jalan kebun jambu, pepaya, dan sebagian pisang.

Untuk menuju Depok 2, dapat melewati Jalan Raya Bogor dan bila akan menuju kawasan Margonda dan Depok 1 harus melewati sebuah jembatan Panus, jembatan peninggalan Belanda yang hanya bisa dilewati satu kendaraan secara bergantian dari arah berlawanan.

4. Sarana Transportasi Kota Depok Masih Terbatas

Sarana Transportasi Kota Depok Masih Terbatas

Karena jadwalnya juga belum sebanyak sekarang, belum pakai AC, dan kipas angin juga sering tidak berfungsi, sebagian penumpang sampai naik di atap keretanya.

Selain angkot rute Pasar Minggu-Depok sarana transportasi lain yang dapat digunakan adalah KRL (Kereta Rel Listrik) Jakarta-Bogor. KRL Jakarta-Bogor ini resmi digunakan bertepatan dengan peresmian Perumnas Depok I.

Peresmian dilakukan oleh Presiden RI Ke-2 HM Soeharto. Jangan bayangkan KRL dimasa itu dengan Commuter Line saat ini, sangat jauh berbeda. Di masa itu jika naik KRL kita akan menemui para pedagang sayuran dan buah, pedagang kerupuk kaleng dengan kaleng besarnya, pedagang ayam dan lain-lain.

Bahkan karena jadwalnya juga belum sebanyak sekarang, belum pakai AC, dan kipas angin juga sering tidak berfungsi, sebagian penumpang sampai naik di atap keretanya. Ada juga Kereta Rel Diesel (KRD) yang berangkat dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta Kota tapi sehari hanya satu kali perjalanan.

5. Perubahan Status Kota Depok

Pada tahun 1982, Kota Depok memperoleh kenaikan status dari Kota Kecamatan menjadi Kota Administratif (Kotif) namun tetap masih menjadi bagian dari Kabupaten Bogor. Kotif Depok ketika itu memiliki 3 Kecamatan dengan 17 Kelurahan.

Dan keberadaan Universitas Indonesia (UI) yang dibangun pada tahun 1987 di Depok, yang letaknya berbatasan dengan provinsi DKI Jakarta, harus diakui memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan Kota Depok selanjutnya.

Sebenarnya sebelum dibangunnya kampus baru UI Depok yang menempati lahan dengan luas sekitar 320 hektare, di Jalan Raya Margonda pada tahun 1985 telah berdiri kampus perguruan tinggi STMIK Gunadarma (kini bernama Universitas Gunadarma) yang resmi beroperasi pada tahun 1987.

Tak hanya hadirnya kampus baru UI Depok, Universitas Gunadarma Depok juga diakui mempunyai peran yang cukup besar bagi perkembangan pendidikan di Kota Depok.

Hadirnya kampus-kampus tersebut memang memberikan dampak kemajuan tersendiri bagi Kota Depok, yang sangat terasa adalah dibangunnya jalan yang menghubungkan Depok dengan Jakarta melalui Pasar Minggu.

Jalan Raya Depok-Pasar Minggu yang tadinya hanya satu jalur, dibuat dua jalur terpisah dengan satu arah seperti sekarang ini. Kemudian dibangun pula akses jalan penghubung dari Jalan Margonda ke Kelapa Dua Depok dan pembangunan Fly-over UI Depok.

Dengan pesatnya perkembangan Kota Depok maka pada tahun 1999 Kotif Depok dinaikkan statusnya menjadi Kotamadya dan terpisah dari Kabupaten Bogor. Kenaikan status ini membuka banyak peluang bagi Kota Depok untuk mengembangkan semua aspek secara mandiri.

Setelah menjadi Kotamadya, perkembangan Kota Depok pun seolah tak terbendung. Kini Kota Depok pun tak kalah dengan Jakarta, menjelma jadi kota metropolitan.

Itulah sekilas sejarah berdirinya Kota Depok. Jadi mau cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya lewat Area Insider.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah