Lebih familiar dengan nama Solo, Kota Surakarta pada zaman dahulu merupakan dusun yang dipilih oleh Sultan Pakubuwana II ketika akan mendirikan istana baru, pasca perang suksesi Mataram terjadi di Kartasura. Nama Solo pun kemudian terus dikenal secara luas sampai sekarang, bahkan memiliki konotasi budaya.

Sementara nama “Surakarta” yang dipakai saat ini adalah bentuk nama administrasi yang mulai dipakai ketika Kasunanan didirikan, sebagai kelanjutan monarki Kartasura. Demikian hal ini seperti dicantumkan laman resmi DPRD Surakarta.

Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam situasi formal-pemerintahan, sedangkan nama Solo lebih umum penggunaannya. Kata “sura” dalam bahasa Jawa berarti “keberanian” dan karta berarti “sempurna” atau “penuh”. Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan permainan kata dari Kartasura.

Setelah Karesidenan Surakarta dihapus pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Semenjak berlakunya UU Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta, secara resmi Kota Surakarta menjadi daerah berstatus kota otonom.

Lepas dari sejarah nama Surakarta dan bagaimana pembentukan kotanya, saat ini wilayah yang masuk Provinsi Jawa Tengah itu kian menunjukkan potensinya. Kota Surakarta tumbuh dengan berbagai potensi di banyak sektor, mulai dari industri, pendidikan, perdagangan, pariwisata, hingga properti.

Terkait sektor pariwisata, Surakarta menyimpan hampir ratusan destinasi alam yang bisa dikunjungi para pelancong. Berikut daftarnya:

  • Tawangmangu
  • Kawasan Wisata Selo
  • Agrowisata Kebun Teh Kemuning
  • Air Terjun Jumog
  • Air Terjun Parang Ijo
  • Air terjun Segoro Gunung dan Grojogan Sewu
  • Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Candi Monyet

Hingga hari ini, Kota Surakarta juga masih lekat akan budayanya. Dalam berbagai aspek seperti pembangunan infrastruktur pun, selalu disematkan unsur budaya khas Kota Surakarta. Kondisi tersebut tak pelak membuat kota ini selalu membawa rasa kagum di benak wisatawan.

Selain kaya akan beragam tujuan wisata, Kota Surakarta juga cukup ideal dipertimbangkan sebagai destinasi investasi sektor riil bagi investor. Pasalnya, laju pasar properti di wilayah ini terpantau stabil. Selengkapnya mengenai pasar properti Kota Surakarta akan dibahas di bawah ini.

Tren Harga Properti di Kota Surakarta

Tren Harga Properti di Kota Surakarta

Secara tahunan, indeks harga properti di Kota Surakarta naik sebesar 3,20%.

Kemajuan industri properti di satu wilayah umumnya ditandai dengan kehadiran sarana infrastruktur memadai. Hal ini juga berlaku untuk tren pasar properti di Kota Surakarta. Tercatat ada sejumlah infrastruktur yang sukses membawa nama besar kota ini.

Belum lama, Surakarta baru saja meresmikan jembatan layang Purwosari – Solo. Menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan, jembatan layang ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan di kawasan yang biasa terjadi di area stasiun Purwosari. Sehingga diharapkan kedepannya kemacetan di Surakarta dapat berkurang secara signifikan.

Tak hanya itu, jalan tol yang menghubungkan kawasan antar kabupaten maupun provinsi yakni Tol Solo – Semarang dan jalan Tol Solo – Ngawi pun turut memberi kontribusi bagi sektor lain yang terkait dengan kehadiran infrastruktur.

Teranyar, Surakarta akan menambah daftar tol baru yakni Tol Solo – Yogyakarta yang sudah melalui proses pembangunan. Jalan tol tersebut memberi kemudahan akses antar wilayah yang juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan.

Mempertimbangkan kelengkapan fasilitas dari sebuah kota, wajar rasanya jika Kota Surakarta mulai diburu para investor yang ingin menancapkan portofolionya di sini. Hal ini turut berperan terhadap pergerakan harga properti dalam beberapa tahun belakangan.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Jika disimak pada grafik di atas, capaian indeks harga properti di Kota Surakarta dalam empat tahun terakhir terpantau dinamis. Artinya tidak ada kenaikan drastis, begitu juga dengan penurunan. Hanya saja pandemi yang menimpa Indonesia pada kuartal dua 2020, memberi imbas terhadap indeks harga properti di kawasan ini.

Secara tahunan, indeks harga properti di Kota Surakarta pada tahun 2021 naik sebesar 3,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Year on Year/YoY). Kenaikan disinyalir sebagai bentuk upaya Pemerintah pusat dan setempat dalam menggairahkan kembali sektor properti.

Sedangkan secara kuartalan, indeks harga properti pada Q1 2021 justru terkoreksi sebanyak -1,42 persen dibandingkan Q4 2020 yang mencatatkan indeks 127,5.

Tren Suplai Properti di Kota Surakarta

Tren Suplai Properti di Kota Surakarta

Tren suplai properti di Kota Surakarta penuh gejolak, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada Q2 2020.

Di saat indeks harga properti di Kota Surakarta melemah pada Q2 2020, tak demikian terjadi dari sisi suplai. Justru, kenaikan suplai properti di wilayah ini mencatat indeks tertinggi mencapai 149,2 pada Q2 2020.

Sebaliknya, secara kuartalan indeks suplai properti di Q1 2021 terkoreksi sebanyak -5,65 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (Quarter on Quarter/QoQ). Situasi tersebut merupakan cerminan dari sikap hati-hati pengembang terhadap kondisi pandemi yang belum reda. Alhasil, peluncuran proyek baru masih tertahan sambil menunggu sinyal positif.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Penurunan juga terjadi berdasarkan YoY, dimana pada Q1 2021 indeks berada di angka 121,5 turun sebanyak -4,98 persen dibandingkan Q1 2020 yang meraih indeks 127,8. Sekadar informasi, Kota Surakarta meraih pasokan properti setidaknya dari lima hunian vertikal atau apartemen, diantaranya:

Menilik 5 Kawasan Hunian Tinggi Potensi Sewa di Surakarta

Menilik 5 Kawasan Hunian Tinggi Potensi Sewa di Surakarta

Solo Baru menempati urutan pertama untuk kawasan hunian tinggi potensi sewa

Perkembangan pasar properti di Surakarta terus bergerak maju. Inilah yang melatarbelakangi wilayah ini diburu pengembang properti termasuk investor. Sebut saja salah satunya keluarga Presiden RI Joko Widodo yang tercatat memiliki sejumlah aset properti di Kota Surakarta.

Terkait kawasan hunian tinggi potensi sewa di Surakarta, Rumah.com merangkum ada lima area dengan persentase tertinggi sepanjang tahun 2020. Berikut pembahasan untuk lima kawasan tersebut.

1. Solo Baru

Secara administratif, Solo Baru berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo, namun kadang sebagian orang menyamakannya dengan kota Solo. Laman Visit Jawa Tengah menyebut, Solo Baru atau SoBa berkembang menjadi Satelite Town penuh dengan bangunan modern. Solo Baru memiliki peranan penting sebagai kota penyangga yang keberadaannya di pinggir kota yang lebih besar.

28 persen masyarakat menempatkan Solo Baru di urutan pertama terkait kawasan hunian tinggi potensi sewa di Surakarta. Jika tertarik untuk berinvestasi properti di kawasan Solo Baru, cek rekomendasinya di sini!

2. Banjarsari

Banjarsari menawarkan banyak pilihan rumah baru dan seken sesuai dengan bujet yang dimiliki. Jika ditelisik, harga rumah di kawasan ini terpaut cukup tinggi. Kondisi tersebut masuk akal, pasalnya di kecamatan ini terletak stasiun Solo Balapan yang melayani perjalanan kereta api menuju Jakarta/Yogyakarta, Surabaya dan Semarang.

Tak hanya itu, Terminal Tirtonadi yang merupakan terminal bus terbesar di Surakarta juga berada di kawasan Banjarsari. Jika tertarik untuk berinvestasi properti di kawasan Banjarsari, cek rekomendasinya di sini!

3. Laweyan

Kawasan Laweyan patut dipertimbangkan bagi investor yang ingin meraih passive income dari bisnis pesanggrahan atau guest house. Lantaran Laweyan menjadi satu dari sekian kawasan yang punya destinasi wisata budaya khas Kota Surakarta.

Laweyan juga merupakan daerah kecil dan tertua di Kota Solo. Area ini merupakan cagar budaya batik, bangunan dan tradisi. Jika tertarik untuk berinvestasi properti di kawasan Laweyan, cek rekomendasinya di sini!

4. Solo Kota

Solo Kota dijuluki sebagai kota ternyaman di Indonesia. Predikat tersebut diberikan oleh Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) pada 2018 lalu. Tak pelak area ini masuk ke dalam lima kawasan hunian tinggi potensi sewa di Surakarta.

Bergantung lokasinya, harga lahan di Solo Kota dipasarkan antara Rp3 juta hingga Rp6 juta per meter persegi. Jika tertarik untuk berinvestasi properti di kawasan Solo Kota, cek rekomendasinya di sini!

5. Jebres

Jebres merupakan kelurahan yang cukup besar sebagai gerbang timur Kota Solo. Terdapat Universitas Sebelas Maret, rumah sakit, dan Techno Park. Universitas menarik banyak mahasiswa sehingga Jebres berkembang pesat.

Kehadiran universitas di Jebres patut dipertimbangkan bagi investor yang berencana memulai bisnis kos-kosan. Jika tertarik untuk berinvestasi properti di kawasan Jebres, cek rekomendasinya di sini!

Jadi mau cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya lewat AreaInsider.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah