Surakarta, kota dengan luas 44,04 km2 ini merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian selatan setelah Bandung dan Malang dilihat dari jumlah penduduknya. Dan Surakarta yang pembangunannya tengah bergeliat juga mulai diperhitungkan sebagai kawasan hunian favorit di Jawa Tengah.

Unik memang, ketika sebuah kota memiliki dua penamaan yang berbeda. Sebutan Surakarta kini digunakan dalam situasi formal pemerintahan. Sedangkan sebutan Solo lebih merujuk kepada penyebutan umum yang dilatarbelakangi oleh aspek kultural untuk kawasan ini.

Solo/Sala dahulu adalah nama sebuah desa tempat istana baru dibangun, sedangkan sura dan karta dalam bahasa Jawa memiliki arti keberanian dan makmur. Seperti kondisinya kini, di mana kotanya terlihat cantik, bersih, berkembang, dan makmur.

Kondisi suasana kota yang nyaman tentunya turut mendongkrak permintaan pasar akan kepemilikan hunian yang nyaman di kawasan ini. Apalagi Surakarta memiliki slogan pariwisata The Spirit of Java (Jiwanya Jawa), yang tentunya membuat pemeliharaan akan keindahan kota sangat diutamakan.

Berminat untuk berinvestasi properti di Solo dan sekitarnya? Simak puluhan pilihannya di sini.

Di sekitar kota ini kini juga banyak berdiri kota-kota satelit yang terintegrasi, di antaranya Kartasura, Solo Baru, Palur, Colomadu, Baki, Ngemplak. Jika perkembangan fasilitas dan infrastruktur Solo kian meningkat sehingga otomatis membuat harga tanah di kawasan tersebut melonjak, kehadiran kota-kota satelit inilah yang memberi pilihan hunian baru yang lebih terjangkau.

Jika ditotal, luas wilayah kawasan ini beserta kota-kota satelit tersebut menjadi seluas 150 km2 dengan penduduk sekitar 1 juta jiwa. Perkembangan Surakarta di segala sektor, baik di sektor industri, infrastruktur, hingga sektor komersial membuat kawasan ini banyak dilirik untuk dijadikan hunian atau investasi properti yang potensial.

Surakarta Tempo Doeloe

Surakarta Tempo Doeloe

Setelah Republik Indonesia memperoleh kemerdekaannya, Kerajaan Surakarta Hadiningrat menyatakan berdiri di belakang pemerintahan pusat RI.  (tumpi.id)

Banyak cerita suram terkait kota ini pada jaman dahulu, mulai dari perebutan kekuasaan, pemberontakan yang diikuti penculikan tokoh-tokoh penting, hingga kerusuhan yang sempat menyebabkan wajah kota yang damai ini menjadi menutup diri.

Surakarta sebelum masa kemerdekaan

Awal berkembangnya Surakarta adalah dari wilayah suatu desa bernama Sala yang berada di tepi sungai Bengawan Solo. Di sini dibangun keraton yang baru karena istana Kartasura yang dipimpin oleh raja Kesultanan Mataram yaitu Sunan Pakubuwana II hancur akibat serbuan pemberontakan Sunan Kuning (Geger Pacinan) di tahun 1742.

Pada masa itu pemberontakan dapat ditumpas dengan bantuan VOC, sehingga keraton Kartasura dapat direbut kembali. Namun beberapa wilayah warisan Mataram menjadi hilang karena diberikan sebagai imbalan atas bantuan dari VOC.

Bangunan Istana Kartasura saat itu dinilai telah tercemar sehingga mulai dicari area baru untuk didirikan istana baru. Saat itu raja membeli tanah dari lurah Desa Sala, yaitu Kyai Sala, sebesar 10.000 ringgit (gulden Belanda) untuk membangun istana Mataram yang baru, yang dinamakan Keraton Surakarta Hadiningrat, dan mulai ditempati pada awal tahun 1745.

Namun kemudian pada tahun 1755 Kesultanan Mataram ini dipecah menjadi dua melalui Perjanjian Giyanti, yaitu menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Perjanjian ini ditandatangani oleh tiga pihak, Sunan Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi, dan Belanda.

Dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1757, melalui Perjanjian Salatiga kawasan ini menjadi lebih luas dengan tambahan wilayah sebelah utara keraton yang diberikan kepada Pangeran Sambernyawa (Mangkunagara I). Sejak itu Sala merupakan kota dengan dua sistem administrasi, yang berlaku hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Surakarta pasca kemerdekaan

Pada masa ini terjadi sejumlah peristiwa politik yang menjadikan kota ini kehilangan hak otonominya. Setelah Republik Indonesia memperoleh kemerdekaannya, Kerajaan Surakarta Hadiningrat menyatakan berdiri di belakang pemerintahan pusat RI. Ditandatangani oleh Presiden Soekarno, dinyatakanlah Daerah Istimewa Surakarta (DIS).

Pergolakan pasca kemerdekaan kemudian menyebabkan munculnya kaum radikal yang berani menculik Pakubuwana XII sebagai bentuk protes terhadap pemerintah RI. Gerakan antimonarki berkembang ke arah kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan tokoh penting, yang pada akhirnya berujung dengan pencabutan status daerah istimewa.

Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada pertengahan tahun 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Surakarta pun kemudian berstatus kota otonom semenjak berlakunya UU Pemerintah Daerah yang memberi banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah.

Lagi cari rumah untuk dihuni atau untuk investasi? Simak 100 Rumah Dijual Terpopuler di Indonesia

Surakarta dan kerusuhan Mei 1998

Kerusuhan Mei 1998 sebagai tragedi yang mencekam di Republik Indonesia cukup berimbas banyak terhadap kondisi Kota Surakarta. Tepatnya pada tanggal 14-15 Mei 1998 terjadi pembakaran dan pengrusakan rumah-rumah penduduk serta fasilitas umum yang menyebabkan Kota Solo ini lumpuh.

Berbagai bangunan di Jalan Slamet Riyadi menjadi sasaran anarki massa, mobi-mobil dihancurkan dan dibakar. Hingga dua bulan setelah kerusuhan lewat, malam hari laksana kota mati. Toko-toko dan bangunan masih porak poranda atau terlihat hangus terbakar.

Perubahan signifikan akan wajah kota ini ditandai dengan bentuk bangunan yang lebih rapat, tertutup, lengkap dengan terali-terali besi. Arsitektur kota seakan mencoba melindungi privasinya dengan rapat, pun masih tercekam ketakutan yang traumatis.

Surakarta Riwayatmu Kini

Surakarta Riwayatmu Kini

Beberapa pasar khas seperti Pasar Klewer, Pasar Triwindu, juga Pasar Gede menjadi daya tarik pelancong yang mengunjungi Surakarta. (lintasdaerah.com)

Surakarta kini memiliki semboyan “Berseri”, yang merupakan akronim dari: Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah. Dan sebagai destinasi wisata seni dan budaya, kota ini memiliki slogan Solo, The Spirit of Java (Jiwanya Jawa), sebagai upaya pencitraan Kota Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Popularitas Surakarta memberinya beberapa julukan, mulai dari Kota Batik, Kota Budaya, Kota Liwet, atau masyarakatnya biasa disebut wong Solo, atau putri Solo. Kemajuan wilayah ini sejalan dengan partisipasi masyarakatnya yang menjaga keindahan kota ini dengan aktif.

Kota ini juga merupakan salah satu kota yang berkembang pesat di Indonesia dan tergolong sebagai kota kelas menengah. Sejak tragedi 1998 pertumbuhan ekonomi kawasan ini terus meningkat pesat. Bahkan Surakarta menjadi barometer pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, selain Kota Semarang.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, tentunya pembangunan infrastruktur Surakarta semakin baik dan lengkap. Di bawah kepemimpinan Jokowi-Rudy, sebelum Jokowi mengundurkan diri dari jabatan Wali kota Surakarta dan menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, Surakarta mengalami perubahan yang pesat.

Melalui pembenahan tata kota yang tertata baik, Surakarta berhasil menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia pada tahun 2006. Bahkan pada tahun 2008 Surakarta menjadi tuan rumah konferensi organisasi tersebut.

Fasilitas pendukung dan aksesibilitas Surakarta

Melihat berbagai keunggulan dari Surakarta, kawasan ini tentunya menjadi pilihan hunian yang nyaman dengan berbagai fasilitas penting yang banyak tersebar, serta pembangunan infrastruktur yang terus ditingkatkan.

Apa saja sih keunggulan yang dimiliki Surakarta?

  • Jarak relatif dekat ke beberapa kota besar lainnya. Ke Yogyakarta bisa ditempuh 1 jam 50 menit (63,4 km), ke Semarang 1 jam 32 menit (107 km) via tol, ke Surabaya 3 jam 5 menit (260,4 km) via tol.
  • Banyaknya pilihan moda transportasi. Berbagai moda transportasi bisa mencapai kawasan ini. Dengan bus, Surakarta memiliki terminal utama Tirtonadi. Juga ada Batik Solo Trans (BST) yang telah memiliki 6 koridor.

Kemudian jalur kereta api ke seluruh kota besar di Pulau Jawa pun melewati Stasiun Solo Balapan di Surakarta. Untuk moda transportasi pesawat, Surakarta memiliki Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo yang berada sekitar 14 km di sebelah utara Surakarta.

  • Kota ini memiliki lebih dari 50 fasilitas kesehatan mulai dari rumah sakit besar, puskesmas, hingga klinik yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kota Batik ini.
  • Pusat perbelanjaan dari mulai pasar tradisional hingga superblok mal sudah ada di sini. Bahkan beberapa pasar khas seperti Pasar Klewer, Pasar Triwindu, juga Pasar Gede menjadi daya tarik pelancong yang mengunjungi Surakarta.
  • Fasilitas pendidikan terbaik pun dimiliki oleh kota ini. Berbagai pilihan sekolah favorit dari tingkat pra-sekolah, sekolah dasar, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi menjadi pilihan pendidikan bagi masa depan anak-anak Anda. Di sini ada Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang sangat terkenal.
  • Kota ini juga banyak memiliki akses tol ke berbagai kota besar, di antaranya Jalan Tol SemarangSolo, Jalan Tol Joglo (YogyakartaSolo), Jalan Tol Solo-Ngawi, Jalan Tol Trans Jawa (SurabayaSolo), dan juga tersambung ke Jalan Tol JakartaSolo sepanjang 496,84 km.

Ingin mencari kawasan lain yang potensial dijadikan hunian, Perumahan Rp500 Juta di Solo Raya Patut Jadi Buruan!

Tertarik berburu perumahan baru di Surakarta? Rumah.com merekomendasikan klaster perumahan yang bisa Anda lirik.

Puri Artha Sentosa berlokasi di Jalan Mangesti Raya, Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Berdiri di atas lahan seluas 9800 meter persegi, Puri Artha Sentosa menawarkan rumah tipe satu lantai dengan mulai tipe 45 sampai tipe 70. Perumahan ini menawarkan 51 unit rumah dengan segmentasi pasar kelas menengah ke bawah.

Pada awal penjualan tipe 45 dipasarkan pada kisaran harga 280 jutaan, dalam jangka waktu 7 bulan saja harga sudah mengalami kenaikan menjadi pada kisaran harga 330 jutaan dengan tipe rumah yang sama. Kini, harga untuk unit 45/104 sudah menyentuh kisaran Rp500jutaan.

Beralih ke kawasan SoloTawangmangu Karanganyar, ada perumahan yang mengusung konsep premium dan harga yang relatif terjangkau. Selain dekat dari tempat wisata Tawangmangu, akses menuju pusat kota juga hanya sekitar 20 menit. Waktu tempuh juga bisa dihemat jika flyover Palur mulai beroperasi.

Di dalam lingkungan perumahan terdapat fasilitas keamanan dan taman hijau yang ditata rapi. Satu unitnya dengan tipe 50/120 dijual dengan harga Rp500 jutaan. Untuk investor, pengembang menjanjikan Return of Investment (ROI) hingga dua kali lipat untuk 2 – 3 tahun ke depan.

Surakarta Menuju Masa Depan Gemilang 

Surakarta Menuju Masa Depan Gemilang

Kota yang dilalui banyak sungai ini memfokuskan pada pembangunan drainase untuk mengantisipasi banjir, terutama di daerah aliran sungai Bengawan Solo. (pu.go.id)

Fasilitas dan infrastruktur di Surakarta menjadi fokus perhatian pembangunan daerah. Peningkatan kualitas jalan dari yang awalnya jalan berbatu menjadi jalanan yang seluruhnya beraspal.

Kota yang dilalui banyak sungai ini memfokuskan pada pembangunan drainase untuk mengantisipasi banjir, terutama di daerah aliran sungai Bengawan Solo. Jaringan drainase pada sistem jalan ini dikembangkan untuk mencegah genangan air dan banjir di Surakarta bagian selatan, karena tingkat kelerengannya relatif lebih landai.

Surakarta yang kian berbenah juga telah rata dalam membuat jaringan listrik, air bersih, dan sistem telekomunikasi ke seluruh bagian kota. Sistem persampahannya pun sudah terintegrasi antara TPS dan TPA, sehingga ke depannya kota ini terjaga kebersihan dan keindahannya.

Cek di sini untuk mengukur kemampuan cicilan KPR dari rumah yang Anda taksir di Solo.

Pembangunan dari sektor komersial di Surakarta juga terus meningkat. Deretan ruko dan pusat perbelanjaan di koridor Jalan Ir. Soekarno dirambah oleh banyak tenant berkelas internasional. Sehingga memicu minat investor dari luar kota untuk berinvestasi di kawasan ini.

Tak heran jika perkembangan properti di kota ini semakin signifikan dan harga rumah tapak pun secara konsisten naik. Pembangunan gedung pencakar langit juga terus meningkat disusul dengan tren hunian superblok.

Hunian vertikal di Surakarta

Rencana Pemerintah Kota Surakarta membangun Kota Solo menjadi Kota Bisnis dengan pembangunan superblok di ujung barat Jalan Adi Sucipto sudah pasti akan mendorong peningkatan harga.

Dua kecamatan di Solo Utara juga diproyeksikan akan menjadi pusat kegiatan bisnis, yaitu Kec. Banjarsari dan Kec. Mojosongo. Di Kec. Banjarsari ada tiga kawasan yang dibangun yaitu Joglo, Komplang, dan Tirtonadi. Sementara di Kec. Mojosongo yang akan menjadi pusat kegiatan bisnis yaitu di kawasan bagian timur dan utara Surakarta.

Untuk mengurai kemacetan di kota ini akibat adanya perlintasan sebidang jalur rel kereta SoloYogyakarta, Kempupera membangun flyover Manahan sepanjang 600 meter dengan lebar 9 meter.

Infrastruktur lain yang mendongkrak Surakarta salah satunya dengan adanya Stadion Manahan Solo yang telah direnovasi dan diresmikan Presiden pada bulan Februari 2020 lalu. Stadion berkapasitas 20.000 penonton ini menggunakan kursi tunggal yang dihiasi motif batik kawung sebagai ciri khas budaya Solo.

Pengembangan kawasan Surakarta ke kota-kota satelit yang berbatasan langsung memberikan pilihan pemukiman bagi para pemburu hunian yang sebagian besar melakukan kegiatan ekonomi di kota ini. Salah satunya Solo Baru.

Solo Baru adalah salah satu kawasan yang dimekarkan dari Surakarta. Di sini banyak dibangun perumahan sedang dan mewah serta fasilitas-fasilitas penting sebagai penunjang. Meskipun termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukoharjo, tetapi secara ekonomi dan politis daerah Solo Baru lebih dekat ke Surakarta karena letaknya berbatasan langsung.

Beberapa perumahan di Solo Baru

Jadi mau cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya lewat AreaInsider.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah