Infrastruktur Makassar menjadi salah satu fokus Pemerintah sejak empat tahun lalu. Terkini, proyek yang sudah bisa dinikmati masyarakat adalah Jalan Layang Maros sepanjang 2,8km. 

Flyover ini berada di Jalan Lintas Tengah Sulawesi Selatan yakni ruas Maros–Bone. Jalan layang ini merupakan paket pembangunan elevated road segmen I, yang dikerjakan sejak Desember 2015 oleh BBPJN XIII.

Infrastruktur Makassar tersebut dibangun guna mengatasi kondisi jalan yang memiliki tanjakan dan tikungan tajam serta sempit. Sehingga rawan kecelakaan dan kemacetan panjang. Selesainya jalan layang ini juga diperkirakan mampu meningkatkan kenyamanan dan keamanan lalu lintas, terutama untuk angkutan logistik sehingga tidak memutar.

Bila sebelumnya angkutan logistik dari Makassar ke Bone atau sebaliknya harus menempuh Jalan Lintas Selatan Sulawesi sepanjang 350km, kini berbeda kondisinya.  Sebab pengendara hanya perlu berkendara sejauh 166km.

Sebelum dibangun jalan layang, terdapat 8 tikungan tajam dengan jalan lebar 5 meter. Sekarang, hanya ada satu tikungan dengan jalan yang dilebarkan menjadi 2 meter bahu jalan, 7 meter jalan dan 2 meter bahu jalan. Pengendara pun bisa melintas dengan kecepatan 40 km/jam.

Dari total panjang 2,8km, sepanjang 313 meternya berupa konstruksi layang. Konstruksi layang dilakukan lantaran kawasan tersebut merupakan kawasan hutan lindung serta merupakan jalur wisata.

Jalan Layang Maros pun disebut bisa menjadi jalur wisata, seperti Jembatan Kelok 9 di Sumatera Barat. Ini karena di kawasan tersebut terdapat obyek wisata Taman Nasional Bantimurung–Bulusaraung yang dikenal dengan air terjun, habitat kupu-kupu dan kawasan karst.

Makassar Punya Hutan Kota Terbaik

Tidak hanya jalan layang baru, infrastruktur Makassar lain yang tak kalah menarik adalah ruang terbuka hijau (RTH) di Universitas Hasanudin. RTH seluas 2,4 hektare ini menjadi tempat baru warga kota untuk menikmati hijaunya taman dan danau. 

Konsep rancangan lansekap RTH Unhas mengoptimalkan empat unsur yakni maritim, konektivitas, danau dan rawa, serta ruang terbuka hijau. Pembangunan RTH sendiri memaksimalkan interaksi dengan tepian air. 

Kondisi eksisting lahan yang terdiri dari komposisi rawa, danau dan dataran, menghadirkan konsep unik RTH Unhas. Keberadaan penangkaran rusa juga tetap dipertahankan.

Pembangunan RTH juga termasuk pekerjaan perbaikan akses pedestrian untuk pejalan kaki ke dalam kampus yang sebelumnya rusak. Jalur pedestrian diintergrasikan dengan saluran air untuk memurnikan air buangan dan air hujan, serta memaksimalkan penyerapan air.