Pasar properti Semarang seakan tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi mengingat atributnya yang merupakan Ibukota provinsi, Semarang tentunya memiliki banyak faktor yang mendorong perkembangan dan pertumbuhan perekonomian Jawa Tengah.

Sektor industri dan perdagangan merupakan sektor utama perekonomian Semarang, kemudian diikuti sektor pariwisata. Bersinarnya pertumbuhan Semarang juga didukung oleh beberapa daerah di sekitarnya, seperti Kota Ungaran, Kabupaten Demak, Kota Kendal, dan Kota Salatiga.

Selain itu Semarang juga didukung beberapa akses jalan tol yang menjanjikan. Mulai dari tol Srondol-Bawen yang mempersingkat waktu tempuh dari Semarang ke Solo, sampai dengan pembangunan jalan Tol Semarang-Batang yang dimulai tahun 2017 ini.

Maka tak heran bila permintaan properti meningkat drastis sejak awal tahun 2016 lalu. Berdasarkan hasil riset Bank Indonesia (BI), Semarang menjadi kota di Pulau Jawa dengan pertumbuhan harga residensial tertinggi, yakni dengan kenaikan rata-rata sebesar 10,35% pada kuartal III/2015.

Rumah.com Property Index mencatat bahwa pada Q3 2017, harga rumah tapak di Semarang di bawah Rp1 miliar kini telah mencapai mencapai Rp4,8 juta per meter persegi. Memang sedikit turun sebesar 0,97% jika dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai Rp4,85 juta per meter persegi.

Dan jika dicermati dari Q3 2016, median harga rumah tapak di Semarang dengan rentang harga di bawah Rp1 miliar memang cenderung mengalami kenaikan hingga puncaknya pada Q2 2017.

tren pasar properti semarang

Terkini, median harga properti di Semarang mencapai Rp8,04 juta per meter persegi.

Jika mengamati grafik berdasarkan Rumah.com Property Index di atas, pasar properti Semarang menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Penurunan yang terjadi pada Q3 bersamaan dengan kondisi pasar properti nasional yang juga melemah.

Sejalan, data Bank Indonesia memperlihatkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga (Q3) 2018 mencapai 5,17% (year-on-year/y-o-y).

Meski lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya (5,27%), ternyata angka ini tetap berada di atas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,14%. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga ini menjadi catatan terbaik sejak 2014 silam.

Ada salah satu faktor yang menyebabkan pasar properti Semarang khususnya rumah tapak naik secara konsisten. Lantaran atributnya yang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah, dengan banyak faktor yang mendorong perkembangan dan pertumbuhan perekonomian di wilayahnya.

Sebut saja seperti sektor industri dan perdagangan yang diikuti sektor pariwisata. Dan hal ini tentunya berimbas pula ke sektor propertinya, termasuk properti residensial seperti rumah tapak dengan harga di bawah Rp1 miliar.

Itu sebab di Q1 2017 median harga rumah tapak di Semarang dengan harga di bawah Rp1 miliar ini mencatat kenaikan yang sangat signifikan. Dari Rp4,49 juta per meter persegi naik menjadi Rp4,78 juta per meter persegi, atau naik sebanyak 6,30%.

Menurut hasil riset Bank Indonesia (BI), Semarang menjadi kota di Pulau Jawa dengan pertumbuhan harga residensial tertinggi. Yakni dengan kenaikan rata-rata sebesar 10,35% pada Q3 2015.

Kenaikan harga tanah tertinggi saat itu berada di wilayah Semarang bagian selatan diikuti Semarang tengah, masing-masing 3,98% dan 3,69%. Khusus untuk wilayah Semarang kenaikan harga disebabkan oleh peningkatan aktivitas komersial dan perumahan.

Untuk kondisi perkembangan rumah menengah atas secara umum pada triwulan kedua terlihat mengalami pertumbuhan. Kenaikan harga tanah dan rumah untuk pasar sekunder terjadi secara merata. Tingkat pertumbuhannya rata-rata 1,9% untuk harga tanah dan 2% untuk harga rumah.

Kehadiran Pengembang Nasional Jadi Pertanda

Geliat pasar properti Semarang juga ditandai dengan banyaknya proyek properti baru yang bermunculan di sejumlah lokasi. Beberapa pengembang raksasa seperti Lippo Group, Sinarmas Land Group, Ciputra Group, PT. HK Realtindo, dan PT. Adhi Persada Properti tak ragu menanamkan investasinya di kota ini.

Nilai investasinya pun terbilang cukup fantastis, mulai dari Rp350 miliar sampai dengan Rp1,5 triliun. Dahsyatnya, rata-rata merupakan proyek multifungsi atau kota mandiri yang mengakuisisi lahan ratusan hingga ribuan hektar.

Salah satu proyek kota mandiri baru yang menarik disimak ialah BSB City garapan Ciputra Group. Residensial ini menawarkan pengalaman bertempat tinggal yang sejuk dan asri. Sebab letaknya berada di pebukitan dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut, 

Pada lingkungan huniannya, BSB City mengusung konsep villa hijau yang berdiri di atas lahan seluas 1000 hektar. Jika sudah rampung, kota mandiri ini akan memiliki fasilitas lengkap dan modern. Mulai dari kawasan bisnis, komersial, pusat perbelanjaan, tempat rekresasi, pendidikan, dan rumah ibadah.

Residensial ini terdiri dari beberapa jenis klaster dan tipe rumah, dengan harga per unit dibanderol mulai dari Rp700 jutaan sampai dengan miliaran rupiah. Harga tanah di BSB City Citraland ini terbilang cukup terjangkau untuk investasi. Harganya di rentang Rp8 juta sampai Rp12 juta per meter persegi.

Jadi, selain Jakarta, Bandung dan Bali, pasar properti Semarang kini bisa menjadi destinasi investasi yang prospektif untuk disasar.

Selain jumlah populasi yang mencapai 2 juta jiwa dan daya beli masyarakat yang tinggi, Semarang juga disanggah oleh area metropolitan. Seperti Kedungsapur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga dan Purwodadi) dengan jumlah penduduk 6 juta jiwa.

Hal ini membuat Semarang menjadi area satelit nomor empat terpadat setelah Jabodetabek, Surabaya Metropolitan, dan Bandung Raya. Potensi inilah yang membuat pasar properti Semarang di pangsa residensial terus tumbuh.