Bicara tren pasar properti, khususnya tren harga rumah di Serpong, memang menarik mengingat letaknya yang strategis juga potensi kawasannya. Secara geografis wilayahnya berada di antara Jakarta Selatan dan Kabupaten Bogor, yang mana kedua wilayah tersebut sama-sama tengah giat membangun infrastruktur.

Dan perlahan Serpong kini juga menjadi salah satu kawasan hunian mapan karena diapit tiga kawasan terpadu sekaligus: Bintaro Jaya, BSD City, dan Alam Sutera. Itu sebabnya di kawasan ini terdapat banyak perkantoran, sentra bisnis, hipermarket, sekolah internasional, sport center, dan rumah sakit bertaraf internasional.

Tren Harga Rumah di Serpong

Tren Harga Rumah di Serpong

Dilihat dari pergerakan harganya, properti di kawasan Serpong sepertinya memang tidak ditujukan untuk investasi jangka pendek atau menengah.

Harus diakui, Serpong kini memang mulai menjadi kawasan hunian favorit. Itu sebabnya, harga lahan di sini pun sudah tinggi. Sekarang bahkan sudah cukup sulit untuk menemukan hunian dengan harga di bawah Rp600 juta di Serpong.

Sadar dengan tingginya harga lahan, pengembang di kawasan ini kini lebih banyak menawarkan unit dengan dua lantai. Secara harga, unit dua lantai terasa lebih ‘masuk akal’ ketika dipasarkan dengan harga tinggi, ketimbang memasarkan unit satu lantai dengan harga di atas Rp500 juta, terutama bagi kompleks perumahan berskala menengah.

Dan berdasarkan data Rumah.com Property Index, median harga rumah di Serpong pada Q1 2019 ini sudah mencapai Rp13,88 juta per meter persegi. Sedang di Q1 tahun sebelumnya berada di angka Rp13,33 juta per meter persegi.

Jika mengamati angkanya median harga rumah di Serpong memang terlihat mengalami kenaikan, tapi sebenarnya tren harga rumah di Serpong saat ini bisa dibilang jalan di tempat. Hal ini mengingat data di Q1 2017 mencatat median harga rumah di Serpong juga pernah berada di angka Rp13,89 juta per meter persegi.

Berkaca dari data Property Index Rumah.com, pergerakan harga rumah di Serpong belakangan ini memang cenderung stagnan. Banyaknya kemudahan akses dan perkembangan infrastruktur justru memicu harga rumah di Serpong jadi tinggi. Dan ironisnya ini membuat median harga rumah di Serpong mendekati titik jenuh.

Data index Rumah.com juga menunjukkan bahwa kenaikan harga properti di Serpong hanya berada di kisaran 3-5% dalam satu tahun. Dilihat dari pergerakan harganya, properti di kawasan Serpong sepertinya memang tidak ditujukan untuk investasi jangka pendek atau menengah.

Namun jangan buru-buru skeptis dengan kawasan ini. Jika melihat perkembangan infrastrukturnya yang pesat, kemudahan akses, dan semakin lengkapnya fasilitas, punya hunian di kawasan ini dapat dipastikan akan menguntungkan di masa depan. Serpong layak dijadikan investasi untuk jangka panjang.

Nah, jika Anda sedang cari hunian sekaligus investasi untuk jangka panjang di masa depan, berarti saatnya perlu memikirkan opsi untuk punya hunian di kawasan ini.

Tren Harga Apartemen di Serpong

Harga Apartemen di Serpong

Tren median harga apartemen di Serpong justru lebih dinamis dan bergerak positif.

Dan yang tak kalah menarik untuk dibahas justru pergerakan median harga apartemen di Serpong. Jika tren harga rumah di Serpong cenderung stagnan, tren median harga apartemen di Serpong justru lebih dinamis dan bergerak positif.

Mengacu data Rumah.com Property Index, median harga apartemen di Serpong di Q1 2017 tercatat Rp16,67 juta per meter persegi. Dan median harga apartemen di Serpong terus naik hingga di Q1 2018 menyentuh angka Rp18,27 juta per meter persegi.

Bahkan sampai akhir tahun 2018 lalu atau di Q4, angkanya sampai menyentuh harga  Rp19,74 juta per meter persegi. Tapi sayangnya memasuki awal tahun 2019 atau di Q1, median harganya sempat turun hingga 4,81%.

Hal yang wajar mengingat awal tahun banyak investor yang mengambil sikap wait and see, membaca pergerakan pasar berdasarkan kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah. Tambah lagi ini adalah tahun politik, ada agenda Pilpres yang sedikit banyaknya akan memengaruhi keputusan orang untuk membeli properti.

Namun di Q2 2019 harga terkoreksi, kembali naik sebanyak 2,36% atau menjadi Rp19,23 juta per meter persegi. Ini semua bisa terjadi karena Serpong memang sudah bermetamorfosis menjadi kawasan hunian favorit.

Bagi Anda yang mencari hunian di pusat kawasan Serpong dengan harga terjangkau, apartemen jelas pilihan yang masuk akal. Dengan dana mulai Rp350 jutaan, Anda sudah bisa mendapatkan hunian dengan akses dan fasilitas umum yang baik dan lengkap. Bandingkan dengan harga rumah di Serpong yang kebanyakan dibandrol mulai dari Rp500 jutaan!

Dilihat dari data Property Index Rumah.com, harga jual kembali properti di kawasan Serpong memang tidak terlalu tinggi, namun, kesempatan bisa lebih besar jika Anda membelinya di awal saat masih inden.

Sementara itu, apartemen di Serpong punya prospek sewa yang lebih baik ketimbang rumah tapak. Dengan harga sewa sekitar Rp3 juta per bulan untuk tipe Studio, dengan harga unit yang Rp360 jutaan, maka investasi Anda bisa balik modal dalam waktu 10 tahun ditambah dengan prospek kenaikan harga jual kembali hingga 100%.

Itulah informasi seputar tren harga rumah di Serpong. Jadi mau cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya lewat Area Insider.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah