Pembangunan rumah murah di berbagai daerah di Indonesia dinilai mampu membantu perkembangan industri lokal. Demikian diutarakan oleh Ketua DPP REI Setyo Maharso pada kesempatan diskusi "Mendobrak Hambatan Pertumbuhan Industri Real Estate", Kamis (1/12), hari ketiga Rakernas REI 2011. 

Setyo memberikan data bahwa 70 persen anggota REI yang hadir pada Rakernas 2011 membangun rumah murah. "Seluruhnya menggunakan produk lokal," jelas Setyo. Dengan demikian, menurut Setyo, industri ini harus mendapat dukungan dari pemerintah.

Hal lain yang jadi alasan untuk mendapat dukungan adalah nilai industri real estate secara keseluruhan yang mencapai 700 triliun rupiah, sekitar 9,4 persen dari seluruh pendapatan domestik bruto. "Ini bisa jadi tameng bagi Indonesia menghadapi krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika," kata Setyo yang juga menjelaskan bahwa pertumbuhan 15 persen pada tahun ini dipastikan tercapai. Hanya saja, Setyo agak pesimis untuk tahun depan. "Kami tidak tahu regulasi baru nantinya. Regulasi baru selalu bikin khawatir," ujarnya.

(Baca: Inkonsistensi Aturan Pemerintah Hambat Industri Real Estate

REI juga menilai pemerintah tidak serius menggarap rumah murah. "Jumlah rumah murah yang dibangun pemerintah tidak banyak, sekitar 6.000 unit. Rumah murah yang dibangun anggota REI jauh lebih banyak dari itu. Pemerintah seperti tidak ikhlas membantu rakyatnya," kata Setyo.

Untuk mengatasi hal itu, REI mendesak perbaikan pada otonomi daerah agar kepastian masyarakat memperoleh rumah bisa terjamin.

KIRIM KOMENTAR