Tren eco-friendly yang digaungkan sejak beberapa tahun lalu, kini makin mengejawantah di tengah masyarakat. Para pecinta lingkungan pun melakukan beragam kegiatan kongkret guna mengurangi efek pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim yang terasa belakangan ini. Salah satunya lewat pertanian kota alias urban farming.

Wikipedia mendefinisikan urban farming sebagai pertanian yang meliputi tanaman pangan, peternakan, dan kehutanan, di dalam atau di pinggiran kota yang dilakukan di lahan pekarangan, balkon, atau atap-atap bangunan, pinggiran jalan umum, atau tepi sungai, yang bertujuan menambah pendapatan atau menghasilkan bahan pangan.

Pertanian kota dapat dilakukan dengan beberapa teknik, pertama vertikultur atau pola bercocok tanam yang menggunakan wadah tanam vertikal untuk mengatasi keterbatasan lahan. Kedua, aquaponik yang merupakan kombinasi antara akuakultur dan hidroponik, yakni mendaur ulang nutrisi, dengan menggunakan sebagian kecil air daur ulang, hingga memungkinkan pertumbuhan ikan dan tanaman secara terpadu. Teknik ini mirip dengan teknik tumpang sari.

Ketiga, hidroponik, yakni pola bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah. Sebagai gantinya, media tanam menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara, seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lainnya.

“Pertanian Kota sangat baik dilakukan karena dapat meningkatkan mata pencaharian dan membantu mengurangi dampak perubahan iklim,” jelas Sinta Kaniawati, General Manager Yayasan Unilever Indonesia, yang belum lama ini memberikan pelatihan Urban Farming kepada kader program Jakarta Green and Clean. “Tidak hanya lingkungan mereka yang hijau dan bersih, tetapi ada nilai tambah yang akan mereka dapatkan dari bertanam sayuran, buah-buahan, dan tanaman herbal di pekarangan mereka.”

Sinta menambahkan, keuntungan langsung yang dirasakan oleh pelaku Pertanian Kota adalah mendapatkan bahan pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman herbal, dalam keadaan segar, karena langsung dari hasil kebun sendiri. Hasil dari pertanian kota ini juga dapat dijual kepada masyarakat sekitar, sehingga dapat memberikan penghasilan tambahan bagi penduduk kota. Harga hasil dari metode Pertanian Kota ini lebih ekonomis, karena mengurangi dan menghemat biaya transportasi dan pengemasan.

Manfaat lain dari Pertanian Kota adalah memberikan kontribusi dalam penyelamatan lingkungan melalui pengelolaan sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (3R). Selain itu, secara estetika lingkungan pun menjadi lebih indah, tanpa sampah.

Anto Erawan

KIRIM KOMENTAR