RumahCom – Di tengah bisnis properti yang semakin cerah belakangan ini, para pengembang harus bersiap-siap menghadapi hal buruk. Pasalnya, pemerintah berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Untuk kenaikan BBM, pemerintah belum menentukan waktu dan besarannya, sementara kenaikan TDL akan dilakukan pada April 2012 dengan besaran 10%.

Menurut Artadinata Djangkar, Direktur Ciputra Property, Tbk., jika benar BBM dan TDL naik, maka hal itu akan memengaruhi properti komersial seperti mal. “Tentu saja hal itu akan menambah operation cost, terutama untuk biaya pemakaian listrik,” kata Artadinata. “Dan dalam praktiknya, terpaksa kami menaikkan harga service charge bagi para tenant mal.”

Mungkin harga service charge pun tidak bisa langsung dinaikkan, kata Artadinata. Dengan kenaikan service charge yang bertahap, maka developer juga ikut menanggung akibat kenaikan BBM dan TDL ini. Dia menambahkan, rental rate bagi para tenant mungkin tak akan terpengaruh akibat kenaikan ini.

Di sisi lain, ada kekhawatiran kenaikan BBM dan TDL akan berpengaruh pada harga jual properti. Namun menurut Artadinata, menaikkan harga jual harus terlebih dahulu memerhatikan kenaikan biaya konstruksi (construction cost).

“Biasanya, sejak awal pengembang sudah mengalokasikan dana untuk hal-hal tak terduga. Jika kenaikannya (biaya konstruksi-red) kecil, mungkin kami tidak perlu menaikkan harga. Tetapi jika kenaikan besar, kami juga harus menjual properti lebih mahal lagi,” kata Artadinata yang mengatakan pihaknya belum menghitung proyeksi kenaikan harga secara pasti.

Sementara itu, Sugwantono menjelaskan, kenaikan TDL inilah yang lebih berpengaruh pada bisnis properti komersial seperti mal. Pasalnya, penggunaan listrik di mal memang sangat signifikan. “Jika kenaikan TDL 10%, maka secara umum cost yang harus dikeluarkan pengelola mal bisa naik sekitar 10%-15%,” jelas Direktur Ritel PT Ciputra Property, Tbk ini.

Anto Erawan
(antoerawan@rumah.com)

KIRIM KOMENTAR