Pembangunan Rumah Susun Bisa Hemat Lahan 436%

Anto ErawanSeptember 3, 2014

RumahCom – Kesenjangan antara jumlah rumah terbangun dengan jumlah rumah yang dibutuhkan rakyat (backlog) kian bertambah setiap tahun. Bahkan Sri Hartoyo, Deputi Pembiayaan Perumahan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengatakan, Indonesia bakal memerlukan 31 juta unit rumah. Sebanyak 18,5 juta di perkotaan, sementara sisanya sebanyak 12,5 juta unit di pedesaan.

Menurutnya, jika dibangun rumah tapak, maka akan diperlukan 170.000 hektar lahan. Sementara jika dibangun sebagai rumah susun hanya memerlukan 39.000 hektar.

“Artinya efisiensi yang dihasilkan dari pembangunan rumah susun mencapai 436%,” katanya, dalam diskusi bertajuk ‘Rusunami, Solusi Penyediaan Perumahan bagi MBR di Perkotaan’, Selasa (2/9).

Untuk itu, imbuhnya, pemerintah akan menghentikan KPR subsidi untuk rumah tapak mulai 1 April 2015. Selanjutnya, pembiayaan perumahan bagi MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) melalui FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) hanya untuk memfasilitasi KPR Sarusun (satuan rumah susun). Suku bunga KPR Sejahtera Rusun 7,25% dengan cicilan tetap selama 20 atau 30 tahun.

“Mengenai komposisi rusun (rumah susun sewa dan rumah susun milik) disesuaikan dengan kemampuan masyarakat dan kemampuan pendanaan dari pemerintah,” jelasnya.

Kendati demikian, Sri menyadari bahwa mengubah budaya tinggal di rumah tapak menjadi tinggal di rumah susun perlu waktu.

Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke:antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang

Foto: Anto Erawan

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

FLPP Rumah Tapak Resmi Dicabut

RumahCom – Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) secara resmi mencabut pemberlakuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi rumah tapak. Pemerintah berharap, langkah ini dapat mendo

Lanjutkan membacaMei 9, 2014

Penyerapan KPR Subsidi Jeblok, Ini Penyebabnya!

RumahCom – Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) masih mengevaluasi kapan saat yang tepat untuk mengejar realisasi pengucuran dana Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan menggunakan Fasilitas Likuid

Lanjutkan membacaMei 21, 2014

Kemenpera: Pembangunan Rumah Tapak Berdampak Negatif

RumahCom - Setelah mengeluarkan kebijakan menghentikan subsidi KPR FLPP (kredit pemilikan rumah fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) untuk rumah tapak mulai 31 Maret 2015 mendatang, Kementerian

Lanjutkan membacaJuni 2, 2014

Jual Rumah Subsidi, Konsumen Terancam Sanksi!

RumahCom - Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Sri Hartoyo, meminta kepada masyarakat yang telah memiliki rumah bersubsidi dari pemerintah untuk tidak menjualnya kepada o

Lanjutkan membacaJuni 30, 2014

KPR Masih Jadi Pilihan Utama Konsumen Rumah

RumahCom – Fasilitas KPR (kredit pemilikan rumah) masih menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti. Demikian hasil Survei Harga Properti Residensial selama kuartal II-2014 ya

Lanjutkan membacaAgustus 15, 2014

Masukan