RumahCom – Dinding bata ekspos—tanpa diplester atau dicat—mulai digemari masyarakat. Alasannya beragam, mulai faktor artistik hingga finansial.

Arsitek dari studio Akanoma, Yu Sing, menjelaskan, penggunaan bata ekspos memiliki beberapa kelebihan. Pertama, mengurangi material dan biaya untuk memplester dan mengaci dinding. Kedua, dapat mengurangi biaya perawatan, karena relatif tidak perlu dijaga mulus seperti dinding yang dicat. Ketiga, dapat menciptakan suasana ruang yang berbeda dan lebih artistik.

Di sisi lain, imbuhnya, penggunaan bata ekspos pun memiliki kekurangan. Jika tanah diambil berlebihan untuk dibuat bata, tentu akan berdampak kurang baik bagi lingkungan. “Bata ekspos juga kerap berdebu dan menyerap air, sehingga perlu dilapis dengan cairan pelapis,” kata pria kelahiran 5 Juli ini kepada Rumah.com.

Menurut arsitek jebolan  ITB ini, semua jenis bata yang cukup keras dan tak mudah pecah atau gompal dapat digunakan untuk bata ekspos. Namun, yang paling kuat tentu bata terakota yang dibakar cukup lama dengan suhu tinggi. Tidak semua kota punya bata merah, tetapi kebanyakan diproduksi oleh industri kecil.

Soal harga, cukup bervariasi. Menurut data Rumah.com, harga bata berkisar Rp500 per buah untuk bata biasa, hingga Rp2.500 per buah untuk bata terakota. Perlu diperhatikan pula bahwa bata biasa berukuran lebih kecil dari bata terakota atau bata yang khusus dibuat sebagai bata ekspos.

Tips Memasang dan Merawat Bata
Agar susunan bata tampak apik dan lurus, saat pemasangan perlu dibantu benang. Terkadang bata perlu dipotong jika ukurannya terlalu berbeda jauh. Pola pemasangan bata pun dapat didesain dengan variasi tertentu, sehingga terlihat lebih artistik.

Bagian yang cukup sulit dilakukan adalah saat bata bertemu dengan kusen jendela atau pintu. Menurut Yu Sing, di bagian ini perlu penguat. Jika kusen cukup kuat untuk menahan dari lantai sampai balok atas, maka kusen dapat difungsikan sebagai penguat. Jika kurang kuat, perlu kolom praktis beton atau adukan semen. Diperlukan pula stek dari kusen yang masuk ke kolom praktis atau sela-sela bata, agar dinding bata lebih kokoh.

Jika dinding akan digunakan untuk menggantung barang-barang berat, perlu dipikirkan materi lain, misalnya penggantung yang bertumpu pada balok atas. Jika barang terlalu berat, sebaiknya tidak digantung di dinding bata.

Agar dinding bata ekspos tak mudah rusak dan menyerap air, sebaiknya dinding dilapis menggunakan pelapis anti air atau lem kayu putih yang diencerkan. Cukup bersihkan secara berkala atau beri pelapis anti air jika dirasa sudah perlu dilapis kembali.

Anda tertarik?

Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke:antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang

Foto: Anto Erawan

 

KIRIM KOMENTAR