Persaingan Dua “Jenderal” di Bisnis Properti Jakarta

Anto ErawanOktober 30, 2015

RumahCom – Kendati merupakan jalan arteri, namun perkembangan Jalan Jenderal Gatot Subroto masih kalah dibanding Jalan Jenderal Sudirman. Padahal, jalan yang membentang sepanjang 6,7 kilometer dari Patung Pancoran sampai Pejompongan, Bendungan Hilir ini memiliki infrastruktur yang prima, termasuk jalur busway dan jalan tol dalam kota.

Menurut Julius J. Warouw, Direktur PT Sintesis Kreasi Utama, kawasan Gatot Subroto seperti berlian yang belum diasah.

“Jalan Gatot Subroto merupakan jalan arteri yang termasuk jalan nasional. Di sini banyak terdapat instiusi negara. Infrastruktur di sini lebih baik dibanding kawasan Sudirman, namun perkembangannya masih tertinggal,” kata Julius.

Baca juga: Properti di Jakarta

Beberapa developer, imbuhnya, mulai melihat potensi Gatot Subroto dan membangun di kawasan ini, seperti St. Regis dan Mangkuluhur City.

“Kawasan Gatot Subroto akan menjadi alternatif bagi kawasan CBD yang mulai kehabisan lahan, yang membuat harga lahan di kawasan tersebut meroket,” tutur Julius.

Beberapa Kelemahan
Senada dengan apa yang dikatakan Julius, Anton Sitorus, Head of Research Savills PCI menjelaskan, bilangan Gatot Subroto banyak dilirik karena harga lahannya yang lebih murah ketimbang Sudirman. Berada di pusat kota, kawasan ini cocok dijadikan lokasi pengembangan perkantoran, apartemen, dan mixed-use development.

“Akan tetapi, Kawasan Gatot Subroto juga memiliki kelemahan. Daerah ini adalah kawasan yang macet juga jalur 3 in 1. Selain itu, akses untuk memutar ke seberang jalan jauh, sementara infrastruktur untuk pejalan kali—yang ingin menggunakan jembatan penyeberangan—masih minim,” kata Anton kepada Rumah.com.

Dengan kondisi tersebut, ujar Anton, capital gain di Jalan Gatot Subroto hanya berkisar 20% per tahun, sementara di Jalan Sudirman bisa menyentuh 30%.

Berbicara seputar kemacetan di Gatot Subroto, Julius memaparkan, hal tersebut disebabkan penumpukan di titik-titik tertentu. Dia optimistis, seiring dengan penambahan infrastruktur jalan dan transportasi, kemacetan bisa terurai.

“Dengan rampungnya fly over Kuningan, jalur LRT (light rail transit), dan munculnya sentra-sentra bisnis baru di Gatot Subroto, saya yakin kemacetan akan terurai,” imbuhnya. “Apalagi saat ini mulai banyak eksekutif yang memilih transportasi publik yang dinilai lebih efisien.”

Di sisi harga, kawasan Gatot Subroto adalah sebuah anomali. Jika biasanya harga jual lahan lebih tinggi dari nilai jual objek pajak (NJOP), maka di Gatot Subroto berlaku sebaliknya.

Berdasarkan data 2014, NJOP di kawasan Gatot Subroto dipatok Rp59 juta per meter persegi, sementara harga jualnya hanya Rp35 juta – Rp40 juta per meter persegi.

Menurut Anton, angka NJOP—yang ditentukan pemerintah daerah—lebih tinggi dari harga transaksi, karena demand tidak setinggi yang diperkirakan pemerintah.

Sedangkan, di sisi lain, Julius menilai penetapan harga NJOP yang tinggi di Jalan Gatot Subroto, karena pemerintah daerah melihat potensi wilayah tersebut. Dia juga optimistis pemerintah akan berbuat sesuatu untuk mengembangkan kawasan tersebut.

Proyek-proyek Baru di Jalur Gatot Subroto
Setidaknya ada delapan proyek baru yang tengah dikembangkan di Jalan Gatot Subroto dari 16 proyek yang direncanakan:

1. Mangkuluhur City dikembangkan PT Kencana Graha Optima di atas lahan 4 hektar. Dibangun dengan dana Rp1,85 triliun, Mangkuluhur City memiliki dua menara apartemen, satu menara hotel, dan dua menara perkantoran.

2. Gayanti City yang dibangun PT Buana Pacifik International akan memiliki dua menara apartemen dan satu menara perkantoran. Dengan total lahan 1,5 hektar, nilai proyek ini mencapai Rp1,1 triliun.

3. The St Regis Jakarta besutan Rajawali Group yang di dalamnya terdapat hotel, kantor, dan ruang ritel seluas 141.000 m2 dengan nilai proyek USD400 juta.

4. Telkom Landmark Tower dibangun PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk dengan investasi Rp1,4 triliun.

5. Wisma Mulia 2 dikembangkan Mulialand Group di kawasan perkantoran Mulia Office Park dengan total area 80.000 m2.

6. Centennial Tower yang dikembangkan PT Citratama Inti Persada memiliki luas bangunan 148.300 m2.

7. The Tower milik PT alam Sutera Realty Tbk yang dibangun dengan investasi Rp1,5 triliun.

8. Synthesis Square yang dikembangkan PT Sintesis Kreasi Utama di atas lahan 1,5 hektar. Proyek ini akan memiliki dua menara perkantoran dan satu menara apartemen: The Residence.

Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke: antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang

Foto: Anto Erawan

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Inilah Kawasan Hunian Pilihan Ekspatriat di Jakarta

RumahCom – Secara umum, para ekspatriat yang bekerja di Jakarta gembira dengan hasil pemilihan presiden tahun lalu dan berharap kondisi ekonomi Indonesia membaik. Hal ini sedikit banyak membuat mere

Lanjutkan membacaJanuari 15, 2015

Survei Membuktikan: Jakarta Kota Termacet di Dunia!

RumahCom – Setelah beberapa waktu lalu disebut sebagai kota paling tidak aman, kini Jakarta ‘dinobatkan’ sebagai kota paling macet di dunia. Menurut indeks Stop-Start yang dilakukan Castrol M

Lanjutkan membacaFebruari 4, 2015

Mimpi Ahok Bangun Rumah Susun di Atas Pasar

RumahCom - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama agaknya memiliki obsesi menerapkan konsep superblok untuk rusunawa bagi masyarakat menengah ke bawah. Namun dia mengatakan, rencananya tersebut

Lanjutkan membacaJuni 11, 2015

2017, Sejumlah Kelurahan di Jakarta Bebas Banjir

RumahCom - Pembangunan sodetan Ciliwung ke Kanal Banjir Timur kini sudah mencapai sekitar 54,37%. Panjang sodetan kini sudah mencapai 564 meter (line 1 & line 2) dari 1,27 km panjang sodetan yang

Lanjutkan membacaOktober 13, 2015

Synthesis Kembangkan Proyek Mixed Use di Gatot Subroto

RumahCom – Ruas Jalan Gatot Subroto mulai dipadati proyek properti anyar nan modern. Tak hanya apartemen, proyek multi fungsi (mixed use) juga mulai menjamur. Salah satu developer yang mengembang

Lanjutkan membacaOktober 26, 2015

Masukan