Mengapa Bubble Bisa Terjadi Jika WNA Miliki Properti?

Anto ErawanJuli 7, 2015

RumahCom – Isu kepemilikan properti oleh warga negara asing (WNA) belakangan ini menimbulkan kesimpangsiuran informasi. Jika mengacu pada Undang-undang Pokok Agraria (UUPA), maka WNA dimungkinkan memiliki properti di Indonesia menggunakan Hak Pakai.

Menurut Ali Tranghanda, hal yang saat ini perlu dikaji, apakah hak pakai tersebut dapat langsung diperpanjang selama 70 tahun.

“Namun, jika pemerintah merevisi agar orang asing dapat membeli dengan Hak Milik misalnya, tentu hal itu telah menyalahi undang-undang dan dosa bagi masyarakat Indonesia,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Properti Watch ini.

Menurutnya, kepemilikan asing di Indonesia cuma masalah waktu. Namun demikian, sebelum diberlakukannya kebijakan kepemilikan asing, Indonesia harus siap dengan sistem perumahan nasional, termasuk penyelesaian penyediaan public housing.

“Pemerintah perlu sadar benar bahwa dengan dibukanya kepemilikan asing, maka sebagian penerimaan dari sisi pajak misalkan dapat dipergunakan untuk penyediaan rumah murah dengan mekanisme yang jelas. Tanpa mekanisme yang direncanakan, maka bisa dipastikan tidak ada subsidi bantuan yang dapat diharapkan untuk membantu masyarakat menengah bawah,” urai Ali.

Selain itu, imbuhnya, pemerintah juga harus dapat menjamin harga tanah tidak akan naik tak terkendali pasca-dibukanya kepemilikan asing. Terkait pengendalian harga tanah, pemerintah harus dapat membuat instrumen seperti bank tanah sehingga dapat meminimalkan risiko melambungnya harga tanah.

Bila langkah-langkah nyata tidak dilakukan, Ali memprediksi pasar properti Indonesia akan mengalami bubble dalam lima tahun. Hal ini yang terjadi di negara-negara yang membuka keran kepemilikan asing dalam skala luas.

“Mengapa di Indonesia saat ini tidak terjadi bubble, meskipun terjadi kenaikan tanah yang tinggi? Hal ini lebih dikarenanya pasar properti Indonesia didominasi pasar lokal, bukan regional. Dengan dibukanya kepemilikan asing, maka batasan harga properti menjadi skala regional, yang tadinya harga properti Rp2 miliar—misalkan—dapat langsung dikerek naik menjadi Rp5 miliar agar dapat dibeli oleh asing,” jelasnya panjang lebar.

Selisih harga itu yang merupakan indikasi awal terjadinya harga semu dan bubble serta rentan terhadap kondisi regional yang dapat mengakibatkan harga jatuh sewaktu-waktu bila kondisi regional tidak menguntungkan.

“Karenanya, kami mengharapkan kajian terkait batasan harga yang ada dijadikan patokan minimum untuk properti asing. Selain itu, batasan zonasi, jumlah unit yang boleh dibeli, siapa saja yang boleh membeli, komposisi jumlah dalam satu tower juga harus dikaji,” pungkas Ali.

Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke:antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang

Foto: Anto Erawan

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Pasar Rumah Melemah, Segmen Menengah Bergairah

RumahCom - Pasar perumahan Indonesia selama kuartal II-2014 masih dibayangi tren perlambatan. Riset yang dilakukan Indonesia Property Watch (IPW) menunjukkan, nilai penjualan kuartalan masih membukuka

Lanjutkan membacaSeptember 2, 2014

Aturan (Baru) Pajak Jadi Batu Sandungan Sektor Properti

RumahCom - Menurunnya target penerimaan pajak di sektor properti membuat Dirjen Pajak berwacana membuat kebijakan pajak properti barang mewah (PPnBM) 20%. PPnBM hanya dikenakan untuk properti yang dij

Lanjutkan membacaFebruari 11, 2015

Lampu Hijau untuk WNA Beli Properti di Indonesia

RumahCom – Menyusul penolakan revisi Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) bagi properti di atas Rp5 miliar, Real Estat Indonesia (REI) mengusulkan agar warga negara asing (WNA) diizinkan memili

Lanjutkan membacaMei 15, 2015

Asing Boleh Miliki Properti di Indonesia, Asal…

RumahCom - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberi lampu hijau dibukanya kemungkinan warga asing untuk membeli properti di Tanah Air. Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro mengatakan, kepemi

Lanjutkan membacaMei 18, 2015

‘Kepemilikan Asing Tak Bikin Bubble Properti’

RumahCom – Pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro yang memberi peluang warga negara asing (WNA) untuk memiliki properti di Tanah Air (foreign ownership) mengundang pro dan kontra

Lanjutkan membacaMei 19, 2015

Masukan