Pertumbuhan Harga Rumah di Empat Kota Ini Lesu

Anto ErawanFebruari 22, 2016

RumahCom – Pertumbuhan penjualan properti residensial pada kuartal IV-2015 terpantau melambat. Hasil Survei Harga Properti Residensial yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan, dibanding kuartal sebelumnya, penjualan properti residensial melambat dari 7,66% (qtq) menjadi 6,02% (qtq).

Perlambatan penjualan terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe besar. Kondisi perekonomian yang melambat berpengaruh pada penurunan permintaan terhadap properti residensial, sehingga terjadi perlambatan penjualan.

Dari sisi pasokan, aturan LTV (loan to value) terbaru yang mengharuskan jaminan tambahan dari pengembang dinilai sangat memberatkan cashflow perusahaan.

Berdasarkan lokasi, perlambatan pertumbuhan penjualan rumah terutama terjadi di Manado, Denpasar, Batam, dan Surabaya.

Perlambatan Harga Berlanjut

Kenaikan harga properti residensial yang melambat diperkirakan masih akan berlanjut pada kuartal I-2016. Di kuartal I-2016 ini, indeks harga properti residensial secara kuartalan (qtq) masih mengalami kenaikan (0,44%), namun melambat dibandingkan 0,73% pada kuartal IV-2015.

Lewat survei tersebut, Bank Indonesia memprediksi kenaikan harga terendah diperkirakan masih terjadi pada rumah tipe besar (0,29%). Berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah terendah diperkirakan terjadi di Batam dan Medan. Hal ini disebabkan harga rumah di kedua kawasan ini diperkirakan tidak mengalami perubahan.

Kenaikan harga properti residensial yang melambat juga diperkirakan terjadi secara tahunan (yoy). Pada kuartal I-2016 harga properti residensial meningkat 3,58% (yoy), atau melambat dibandingkan kenaikan harga pada kuartal sebelumnya yang menyentuh 4,62% (yoy).

Dilihat berdasarkan tipe bangunan, kenaikan harga rumah terendah diperkirakan terjadi pada rumah tipe besar (2,27%). Sementara berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah terendah diperkirakan terjadi di Pontianak.

Sementara itu, sebagian besar responden berpendapat bahwa faktor utama yang dapat menghambat pertumbuhan bisnis properti adalah suku bunga KPR (20,92%), uang muka rumah (20,04 %), kenaikan harga bahan bangunan (17,48%), serta perijinan (16,13%).

Berdasarkan lokasi proyek, suku bunga tertinggi KPR terjadi di Maluku Utara (12,95%) sedangkan suku bunga KPR terendah berada di Nanggroe Aceh Darussalam (10,29%).

Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke: antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang

Foto: Anto Erawan

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Harga Rumah Tipe Kecil Bakal Naik Paling Signifikan

RumahCom – Lewat Survei Harga Properti Residensial yang belum lama ini dirilis, Bank Indonesia memprediksi kenaikan harga properti residensial pada kuartal II-2014 diperkirakan masih akan berlanjut

Lanjutkan membacaAgustus 15, 2014

10 Negara dengan Kenaikan Harga Hunian Tertinggi di Dunia

RumahCom - Global House Price index yang dirilis Knight Frank mencatat pertumbuhan tahunan terlemah selama tiga tahun terakhir, yakni hanya naik 0,3%, terhitung hingga Maret 2015. Beberapa negara b

Lanjutkan membacaJuni 12, 2015

Ini Kendala WNA untuk Miliki Properti di Indonesia

RumahCom – Rencana Pemerintah mengizinkan warga negara asing (WNA) memiliki properti di Tanah Air agaknya masih menemui sejumlah kendala. Pasalnya, rencana tersebut tidak didukung dari kebijakan per

Lanjutkan membacaJuni 30, 2015

Tips Lengkap Membeli Rumah dengan KPR

RumahCom - Kredit Pemilikan Rumah (KPR) membuat Anda dapat memiliki rumah dengan mudah. Namun, banyak konsumen yang belum mengerti pengertian, syarat, proses, biaya, dan keuntungan KPR. Pengertian

Lanjutkan membacaJuli 3, 2015

Kenaikan Harga Hunian di Kota-kota Ini Tertinggi di Indonesia

RumahCom – Pertumbuhan harga properti residensial pada kuartal IV-2015 terpantau melambat. Indeks Harga Properti Residensial pada kuartal IV-2015 berada pada level 190,02 atau tumbuh 0,73% (qtq), me

Lanjutkan membacaFebruari 19, 2016

Masukan