Mengenal 3 Sistem Pembayaran Rumah

Fathia AzkiaJanuari 6, 2016

RumahCom – Aktivitas berkelana mencari rumah pertama bersama pasangan atau keluarga tercinta merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan. Apalagi jika akhirnya Anda menemukan rumah idaman yang menawarkan uang muka dan harga yang sesuai dengan kemampuan.

Tinggal langkah selanjutnya yang harus dipikirkan, yakni sistem pembayaran yang dipilih. Tentunya hal ini berdasar pada dana yang Anda miliki. Pilihan pembiayaan properti yang baik bisa dilakukan dengan cara tunai atau kredit.

Jika selisih suku bunga dengan deposito tinggi, lebih dari 5% (misalnya bunga deposito 10% dan suku bunga KPR 17%), lebih baik membeli properti secara hard cash. Tetapi jika selisih suku bunga deposito dengan KPR antara 3% – 5% (misalnya bunga deposito 10% dan suku bunga KPR 14%), belilah dengan soft cash. Pembayaran soft cash bisa dengan cara mencicil bertahap atau bisa membayar DP besar dengan kredit KPR kecil.

Sementara itu, jika selisih bunga deposito dengan KPR kecil, yakni kurang dari 3% (misalnya bunga deposito 10% sementara suku bunga KPR 12%), belilah properti secara kredit dengan tenor selama mungkin (15 – 20 tahun). Untuk lebih mengetahui pengertian antara KPR, tunai keras, dan tunai bertahap, simak ulasan berikut ini.

Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

KPR merupakan singkatan dari Kredit Pemilikan Rumah, yaitu produk pembiayaan untuk pembeli rumah dengan skema pembiayaan sampai dengan 90% dari harga rumah. Hingga saat ini KPR disediakan oleh perbankan, walaupun sudah ada perusahaan pembiayaan yang menyalurkan pembiayaan dari lembaga sekunder untuk pembiayaan perumahan (housing financing).

Pengembang biasanya sudah bekerja sama dengan bank untuk mempermudah proses pengajuan KPR. Oleh sebab itu, salah satu pertimbangan saat membeli rumah adalah bank yang menyalurkan KPR. Permohonan KPR diajukan dengan mengisi formulir pemesanan unit dari pengembang serta melunasi biaya pemesanan dan uang muka.

Dokumen standar yang harus terpenuhi dalam mengajukan KPR meliputi; usia kurang dari 50 tahun ketika mengajukan permohonan KPR, fotokopi KTP, akta nikah atau cerai, kartu keluarga, surat keterangan WNI (untuk WNI keturunan), dan dokumen kepemilikan agunan (SHM, IMB, PBB).

Sedangkan dokumen tambahan untuk karyawan terdiri dari; slip gaji, surat keterangan dari tempat bekerja, buku rekening tabungan yang menampilkan kondisi keuangan 3 bulan terakhir, dokumen rambahan untuk wiraswasta atau profesional, bukti transaksi keuangan usaha, catatan rekening bank, NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), SIUP, surat izin usaha lainnya, serta Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

Tunai keras (hard cash)

Bagi Anda yang punya bajet besar, sistem pembayaran rumah dengan cash keras sangat direkomendasikan. Tunai keras merupakan sistem pembayaran yang dilakukan dalam waktu paling lambat satu bulan, sejak adanya kesepakatan antara pembeli dan pengembang.

Sistem ini memiliki banyak keuntungan, karena biasanya pengembang akan memberikan potongan harga rumah yang menggiurkan (sekitar 10% – 15%). Tak hanya itu, Anda juga tidak akan dipusingkan dengan urusan cicilan tiap bulannya. Selain harga rumah yang didapat sedikit lebih murah, keuntungan lain adalah Anda tak perlu risau terkait fluktuasi suku bunga pinjaman yang kerap melambung tinggi seperti di sistem KPR.

Tunai bertahap (cash installment)

Bila Anda sanggup mencicil rumah dalam jumlah besar dengan kurun waktu terbatas, fasilitas installment alias mencicil kepada developer bisa dijadikan opsi yang tepat. Cara ini banyak dipilih, karena cicilan Anda tak akan terpengaruh fluktuasi bunga bank.

Waktu pembayaran tunai bertahap biasanya berlangsung selama kurang lebih 6-24 bulan, dengan besaran bunga yang ditetapkan dari pihak pengembang. Karena jangka waktunya sangat singkat, maka pembeli diwajibkan untuk menyerahkan uang muka yang jumlahnya cukup besar. Kisarannya 30% – 50% dari harga rumah, tergantung keputusan si pengembang.

Saat kata sepakat telah terucap dari kedua belah pihak, langkah selanjutnya yang harus Anda lakukan adalah membuat surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Hal ini guna menghindari adanya permasalahan di masa yang akan datang. Di dalam surat tersebut tertera spesifikasi rumah, harga, cara pembayaran, serah terima rumah, pemeliharaan rumah, lengkap dengan hak dan kewajiban masing-masing serta sanksi-sanksinya. PPJB itu harus dipahami benar sebelum menandatanganinya.

Fathia Azkia
Penulis adalah content writer di Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke: Fathiaazkia@rumah.com atau melalui Twitter: @fathianyaaa

Foto: Anto Erawan

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Tips Cerdik Pembiayaan Properti

RumahCom – Pilihan pembiayaan properti yang baik bisa dilakukan dengan cara tunai atau kredit. Jika selisih suku bunga dengan deposito tinggi, lebih dari 5% (misalnya bunga deposito 10% dan suku

Lanjutkan membacaJuni 13, 2013

Mau Cicilan KPR Cepat Lunas, Begini Caranya!

RumahCom – Membayar cicilan KPR (kredit pemilikan rumah) memang cukup melelahkan, karena bisa berlangsung 20 tahun. Untuk melunasi KPR Anda supaya lebih cepat, Anda bisa mencoba tiga cara berikut in

Lanjutkan membacaFebruari 20, 2015

Tips Menentukan Cicilan KPR Sesuai Penghasilan

RumahCom – Fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) memang banyak membantu konsumen dalam membeli rumah. Kendati demikian tidak sedikit konsumen yang pada akhirnya kesulitan melunasi cicilan dan berbu

Lanjutkan membacaMaret 31, 2015

Tips Agar Tidak Dicurangi Pengembang

RumahCom – Membeli rumah dari pengembang memang lebih mudah ketimbang membangun rumah sendiri. Dengan uang muka 20% - 30% dari harga rumah, konsumen dapat memiliki rumah dan mencicil sisanya selama

Lanjutkan membacaJuni 18, 2015

Simulasi Menghitung Biaya dan Cicilan KPR

RumahCom - Sebelum Anda memutuskan membeli rumah dengan KPR, ada baiknya Anda melakukan simulasi KPR. Simulasi ini bukan acuan mutlak pinjaman KPR yang akan Anda terima, tapi setidaknya Anda bisa memi

Lanjutkan membacaAgustus 31, 2015

Masukan