Sudah sering saya melihat-lihat brosur tentang perumahan. Tetapi waktu itu hanya sekedar melihat, belum terpikir untuk benar-benar memilih salah satu untuk membelinya.

Alasannya cukup sederhana, suami tidak suka tinggal di area perumahan karena lahan tidak terlalu luas, juga karena mutu bangunan yang ‘pas-pasan’.

Saya melihat-lihat brosur karena tertarik dengan model-model rumah tergambar di brosur, begitu cantik dan minimalis. Kami terus menabung berharap suatu saat uang terkumpul dan bisa untuk beli tanah di daerah tempat tinggal kami yang letaknya di pinggiran kota. Sejak kami menikah tahun 2008 hingga 2013, harapan untuk membeli tanah tak kunjung tercapai, karena harga tanah melejit sangat cepat, tabungan kami tidak mampu mengejarnya.

Akhir tahun 2014, tepatnya Oktober, saya bertekad untuk membeli perumahan saja. Saya ‘berembug’ dengan suami dan akhirnya mengiyakan keinginan saya. Dari sekian brosur yang saya ambil dari beberapa pameran dan ambil di lokasi perumahan, saya tertarik dengan perumahan di daerah Prambon, Sidoarjo. Lokasi cukup dekat dengan lokasi saya tinggal saat ini dan harganya masih relatif murah.

Tanggal 26 Oktober 2014 kami mendatangi kantor pemasaran perumahan. Kami membayar booking fee dan menandatangangi surat pemesanan rumah. Marketing menerangkan ke kami surat-surat apa saja yang harus kami siapkan, sambil mengangsur uang muka dan pembangunan rumah. Janjinya enam bulan dari approval bank, rumah kami sudah bisa ditempati.

Pada 19 Agustus 2015 kami diminta ke bank untuk realisasi KPR, padahal rumah saya saat itu pembangunannya masih 80%. Akses jalan juga belum dibuat. Tapi waktu itu kami berpikir barangkali setelah akad kredit rumah kami segera cepat diselesaikan.

Ternyata harapan tinggal harapan. Setelah akad KPR pembangunan rumah kami seakan berhenti dan sepertinya kami ditinggal begitu saja. Kalau saya tanya ‘upgrade’ rumah saya kepada pihak marketing, jawabannya saya diminta yang sabar. Yah.. kami hanya bisa bersabar. Kami mencoba berkirim surat ke pihak developer maupun ke bank, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali.

Januari 2016 kami ditelepon marketing untuk mengambil kunci rumah. Alhamdulillah… Lega rasanya hati kami. Rumah itu akhirnya akan menjadi milik kami seutuhnya karena kami sudah memiliki kunci rumah.

Tetapi kami harus kecewa lagi. Rumah itu bisa kami buka dan masuki, tetapi tidak bisa kami tinggali karena listriknya belum terpasang. Lelah rasanya kami menunggu dan terus menunggu, apalagi saat ini musim penghujan. Cat dan tembok rumah kami rusak karena lembab, belum lagi sarang laba-laba karena rumah kami tidak berpenghuni.

Hingga saya menulis cerita ini, rumah impian kami belum bisa ditempati. Listrik belum dipasang, jalan juga belum dipaving. Musim penghujan seperti saat ini membuat jalanan masuk blok rumah kami becek dan licin. Kami hanya bisa pasrah dan terus berdo’a semoga listriknya bisa segera terpasang.

Pernah saya telepon teknisi perumahan menanyakan status listrik yang tak kunjung disambung dan janjinya sekitar Oktober atau November listriknya akan dipasang. Saya ingin sekali bulan November nanti lampu rumah kami bisa menyala. Saya ingin memberi hadiah terindah untuk suami yang berulangtahun November nanti. Mudah-mudahan.

Lik Kismawati, Sidoarjo. Ingin terhidar dari kejutan yang tidak diinginkan saat membeli rumah seperti yang dialami Lik? Baca Review Properti agar Anda dapat mengambil keputusan secara tepat. Jika Anda punya pengalaman menarik dalam menemukan rumah idaman, kirim ke IniCeritaSaya.com. Hadiah jutaan menanti Anda.

KIRIM KOMENTAR