Ini Penyebab Lambatnya Kenaikan Harga Rumah!

Anto ErawanMei 30, 2016

Populasi tunawisma di kota ini membengkak sebesar 12% selama tahun lalu karena kurangnya perumahan yang terjangkau.

RumahCom – Pertumbuhan penjualan properti residensial pada kuartal I-2016 terpantau melambat. Survei Harga Properti Residensial yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan, penjualan properti residensial  selama kuartal I-2016 turun menjadi 1,51% (qtq) dibandingkan kuartal sebelumnya (6,02%, qtq).

Perlambatan penjualan ini disinyalir merupakan akibat kondisi perekonomian yang melambat sehingga berpengaruh pada penurunan permintaan terhadap properti residensial.

Perlambatan penjualan terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe kecil, seiring dengan tingginya harga rumah tipe kecil. Berdasarkan lokasi, perlambatan pertumbuhan penjualan rumah terutama terjadi di Manado, Denpasar, Batam, dan Jakarta.

Empat Faktor Penghambat

Harga properti residensial diperkirakan tumbuh melambat pada kuartal II-2016. Pada kuartal II-2016, indeks harga properti residensial secara kuartalan (qtq) masih mengalami kenaikan (0,36%, qtq), namun melambat dibandingkan 0,99% (qtq) pada kuartal I-2016.

Kenaikan harga terendah diperkirakan masih terjadi pada rumah tipe besar (0,33%). Berdasarkan wilayah, harga rumah di Jabodebek-Banten diperkirakan mengalami penurunan sebesar -0,07% (qtq).

Perlambatan kenaikan harga properti diperkirakan akan terjadi pada kuartal II-2016. Pada kuartal II-2016, harga properti residensial meningkat 3,10% (yoy), namun melambat jika dibandingkan kenaikan harga sebesar 4,15% (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Dilihat berdasarkan tipe bangunan, kenaikan harga rumah terendah diperkirakan terjadi pada rumah tipe besar (2,12%). Sementara berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah terendah diperkirakan terjadi di Jabodebek-Banten.

Sementara itu, sebagian besar responden berpendapat bahwa faktor utama yang dapat menghambat pertumbuhan bisnis properti adalah suku bunga KPR (19,40%), uang muka rumah (17,09%), kenaikan harga bahan bangunan (15,97%), serta perizinan dan pajak (15,85%).

Berdasarkan lokasi proyek, suku bunga tertinggi KPR terjadi di Nusa Tenggara Timur (13,83%) sedangkan suku bunga KPR terendah berada di Nanggroe Aceh Darussalam (10,48%).

KPR Tetap Diminati

Dana internal perusahaan tetap menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial, sementara konsumen lebih memanfaatkan fasilitas KPR.

Dari sisi pembiayaan, sebagian besar pengembang (57,29%) mengungkapkan bahwa hingga saat ini dana internal perusahaan tetap menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti. Berdasarkan komposisi, sumber pembiayaan pembangunan properti dari dana internal perusahaan sebagian besar berasal dari modal disetor (45,93%), laba ditahan (45,53%), lainnya (5,95%), dan joint venture (2,59%).

Sementara itu dari sisi konsumen, fasilitas KPR tetap menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti. Hasil survei mengindikasikan bahwa sebagian besar konsumen (77,82%) memilih Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial, terutama rumah tipe kecil dan menengah. Tingkat bunga KPR yang diberikan oleh perbankan khususnya kelompok bank persero berkisar antara 9% – 12%.

Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke:antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang

Foto: Dok. Rumah.com

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Pembangunan Infrastruktur Bisa Bikin Harga Rumah Tak Terjangkau!

RumahCom – Melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (kemenpupera) Pemerintah tengah menggenjot pembangunan infrastruktur. Tak hanya itu, pemerintah juga membuat zoning pusat industri

Lanjutkan membacaFebruari 27, 2015

Kenaikan Harga Rumah Mewah di Bali Nomor Tiga di Dunia

RumahCom – Bali menduduki peringkat ketiga sebagai lokasi dengan kenaikan harga rumah mewah tertinggi di dunia. Dalam setahun terakhir, rata-rata  kenaikan harga hunian mewah di Pulau Dewata mencap

Lanjutkan membacaMaret 13, 2015

Pertumbuhan Harga Rumah di Kawasan Ini Tertinggi di Indonesia

RumahCom – Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan harga properti residensial pada kuartal II-2015 melambat. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial yang dilakukan BI di 16 kota, harga properti r

Lanjutkan membacaAgustus 20, 2015

Harga Rumah di 4 Kawasan Ini Tidak Akan Naik

RumahCom - Pertumbuhan penjualan properti residensial pada kuartal II-2015 melambat dibanding kuartal sebelumnya, yakni dari 26,62% (qtq) menjadi 10,84% (qtq). Demikian Survei Harga Residensial yang d

Lanjutkan membacaAgustus 20, 2015

Harga Rumah Mewah Naik 20%, Imbas dari Anjloknya Rupiah

RumahCom -  Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini menembus level resistance di Rp14.000 per USD (21/08/15). Nilai ini diprediksi bergerak melemah ke arah resistance. Penuru

Lanjutkan membacaAgustus 21, 2015

Masukan