Perkembangan Harga Rumah dan Tanah di 8 Kota Besar di Indonesia

Anto Erawan30 Mei 2016

RumahCom – Harga properti residensial di pasar sekunder pada kuartal I-2016 terpantau mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi di empat kota, yaitu Surabaya, Makassar, Medan, dan Semarang, sementara Jakarta mengalami kenaikan harga (0,75%, qtq).

Demikian hasil Survei Harga Properti Residensial Pasar sekunder yang dilakukan Bank Indonesia pada Kuartal I-2016. Bagaimana pasar properti sekunder di delapan kota di Indonesia? Berikut ini pemaparannya.

Jakarta

Harga rumah sekunder di Jakarta pada kuartal I-2016 menunjukkan  kenaikan sebesar 0,75% (qtq), setelah pada kuartal sebelumnya mencatat penurunan sebesar -0,23% (qtq). Kenaikan harga terjadi pada seluruh tipe rumah, seiring dengan pesatnya pembangunan infrastruktur di wilayah Jakarta. Berdasarkan wilayah, kenaikan tertinggi terjadi di Jakarta Timur (0,99%, qtq), terkait rencana pemerintah membangun Light Rail Transit (LRT).

Harga tanah di pasar sekunder Jakarta juga menunjukkan kenaikan sebesar 1,59% (qtq) di bandingkan kuartal sebelumnya (0,82%, qtq). Berdasarkan segmen, kenaikan harga tanah terjadi di semua tipe. Secara wilayah, harga tanah di Jakarta Timur mencatat kenaikan harga tertinggi sebesar 2,60% (qtq).

Surabaya

Pada kuartal I-2016, harga rumah sekunder di Surabaya mengalami penurunan tipis sebesar -0,08% (qtq), terutama pada rumah tipe besar (-0,17%, qtq). Berdasarkan wilayah, sebagian besar wilayah Surabaya mengalami penurunan harga, kecuali Surabaya Barat dan Surabaya Timur yang mengalami kenaikan harga masing-masing 0,85% (qtq) dan 0,13% (qtq).

Kenaikan harga rumah sekunder di Surabaya Barat dipicu oleh pembangunan fasilitas yang dilakukan pengembang besar, seperti Ciputra Development dan Pakuwon Jati. Sementara itu, kenaikan harga rumah sekunder di Surabaya Timur didorong oleh keberadaan universitas ternama, area komersial, dan pembangunan infrastruktur.

Sementara itu, harga rumah sekunder di Surabaya Utara mengalami penurunan harga tertinggi (-0,62%, qtq) yang disebabkan banyaknya properti dengan status legalitas milik pemerintah daerah sehingga tidak memungkinkan untuk dijual kembali.

Di lain sisi, harga tanah di Surabaya masih menunjukkan pertumbuhan positif (0,34%, qtq), meskipun melambat dibandingkan kuartal sebelumnya (1,07%, qtq). Berdasarkan wilayah, pertumbuhan harga tanah tertinggi terjadi di Surabaya Barat (1,64%, qtq).

Makassar

Keadaan ekonomi yang belum membaik sebagaimana tercermin dari menurunnya permintaan masyarakat terhadap hunian rumah sekunder. Hal ini menyebabkan harga rumah sekunder di Makassar pada kuartal I-2016 turun sebesar -0,41%, (qtq), setelah pada kuartal sebelumnya mencatat pertumbuhan positif (0,60%, qtq).

Penurunan harga terjadi pada seluruh tipe rumah. Berdasarkan wilayah, penurunan harga tertinggi terjadi di Makassar Selatan (1,46%, qtq) sejalan dengan menurunnya permintaan terhadap rumah di wilayah tersebut.

Penurunan harga juga terjadi pada harga tanah (-0,16%, qtq) terutama pada rumah tipe besar (-0,40%, qtq). Berdasarkan wilayah, harga  tanah di Makassar Selatan mencatat penurunan harga terbesar (-0,80%, qtq).

Medan

Harga rumah sekunder di Medan pada kuartal I-2016 menurun sebesar -0,68% (qtq), setelah mengalami kenaikan sebesar 0,29% (qtq) pada kuartal sebelumnya.

Seluruh wilayah di Medan mengalami penurunan harga rumah, dengan  penurunan tertinggi terjadi di Medan Pusat (-1,15%, qtq) disebabkan oleh pembangunan properti yang mengarah keluar kota Medan, terutama untuk properti kelas menengah bawah.

Searah dengan penurunan harga rumah, harga tanah di Medan juga menunjukkan tren penurunan, dari 0,67% pada kuartal IV-2015 menjadi -0,22% (qtq) pada kuartal I-2016. Penurunan harga tanah terjadi di dua wilayah, yaitu Medan Selatan (-2,11%, qtq) dan Medan Timur (-0,64%, qtq).

Semarang

Harga rumah sekunder di Semarang pada kuartal I-2016 mengalami pertumbuhan negatif (-0,49%, qtq), setelah mengalami kenaikan sebesar 0,25% (qtq) pada kuartal sebelumnya. Wilayah Semarang Timur mencatat penurunan harga terbesar (-0,90%, qtq) karena kurangnya pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut.

Searah dengan harga rumah, harga tanah di Semarang juga menunjukkan tren penurunan (-0,37%, qtq).

Bandung

Harga rumah sekunder di Bandung pada kuartal I-2016 mengalami kenaikan dibanding kuartal sebelumnya, dari 0,07% (qtq) menjadi 0,41% (qtq). Kenaikan harga rumah terjadi di semua tipe bangunan.

Berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah terutama terjadi di Bandung Pusat (0,97%, qtq). Hal ini didorong oleh berkembangnya proyek-proyek komersial mewah di sekitar gedung sate dan tingginya harga bangunan yang bernilai sejarah di wilayah tersebut.

Selain Bandung Pusat, kenaikan harga yang cukup tinggi juga terjadi di Bandung Selatan, terkait dengan rencana pembangunan jalan tol Soreang – Pasir Koja (Soroja) dan kehadiran proyek properti skala besar seperti Summarecon Bandung.

Sejalan dengan kenaikan harga rumah sekunder, harga tanah di Bandung juga meningkat (1,08%) dan terjadi di semua segmen rumah. Menurut wilayah, kenaikan harga tanah tertinggi terjadi di Bandung Pusat dan Bandung Selatan, masing-masing sebesar 1,70% (qtq) dan 1,41% (qtq).

Balikpapan

Perekonomian di Balikpapan yang ditopang sektor jasa, perdagangan dan pertambangan (minyak, gas, dan batubara) menyebabkan harga rumah hunian di wilayah tersebut mengalami peningkatan pada kuartal I-2016 (0,15%, qtq). Kenaikan harga tersebut terjadi pada seluruh tipe rumah.

Seluruh wilayah mengalami kenaikan harga kecuali wilayah Balikpapan Timur yang mengalami penurunan harga sebesar -0,44% (qtq), terkait dengan rencana pengembangan wilayah Balikpapan Timur untuk hunian rumah primer. Dengan naiknya pasokan rumah primer tersebut, maka minat masyarakat Balikpapan terhadap rumah sekunder menjadi berkurang.

Searah dengan kenaikan harga rumah, harga tanah di Balikpapan juga mengalami kenaikan sebesar 1,20% dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan harga tanah terjadi di semua wilayah dengan kenaikan tertinggi di Balikpapan Barat (1,44%, qtq).

Denpasar

Pada kuartal I-2016, harga rumah sekunder di Denpasar mengalami kenaikan sebesar 1,13% (qtq). Berdasarkan tipe, kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah terutama rumah tipe menengah (1,29%, qtq).

Menurut wilayah, kenaikan harga rumah terjadi di semua wilayah dengan kenaikan tertinggi di Denpasar Barat (2,96%, qtq) karena pesatnya perkembangan bisnis di wilayah tersebut serta letaknya yang strategis yaitu dekat dengan Universitas Udayana.

Sejalan dengan kenaikan harga rumah, harga tanah di pasar sekunder Denpasar juga mengalami kenaikan (1,74%, qtq), bahkan lebih tinggi dibanding kenaikan harga rumah. Menurut wilayah, kenaikan harga tanah tertinggi terjadi di Denpasar Barat (2,48%, qtq).

Anto Erawan
Penulis adalah editor Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke: antoerawan@rumah.com atau melalui Twitter: @AntoSeorang

Foto: Anto Erawan

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Kenaikan Harga Hunian di Kota-kota Ini Tertinggi di Indonesia

RumahCom – Pertumbuhan harga properti residensial pada kuartal IV-2015 terpantau melambat. Indeks Harga Properti Residensial pada kuartal IV-2015 berada pada level 190,02 atau tumbuh 0,73% (qtq), me

Lanjutkan membaca19 Feb 2016

Pertumbuhan Harga Rumah di Empat Kota Ini Lesu

RumahCom – Pertumbuhan penjualan properti residensial pada kuartal IV-2015 terpantau melambat. Hasil Survei Harga Properti Residensial yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan, dibanding kuartal sebe

Lanjutkan membaca22 Feb 2016

Properti Komersial, Pasokan Tak Sebanding Permintaan

RumahCom – Indeks pasokan properti komersial pada kuartal IV-2015 menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya, dari 0,45% (qtq) menjadi 0,88% (qtq). Survei Perkemban

Lanjutkan membaca23 Feb 2016

Harga Properti Komersial (Masih) Fluktuatif

RumahCom – Di kuartal terakhir 2015, harga properti komersial secara kuartalan mengalami perlambatan (0,43%, qtq). Padahal, di kuartal sebelumnya harga terpantau naik sebesar 0,64% (qtq). Demikian h

Lanjutkan membaca23 Feb 2016

Batam Alami Kenaikan Harga Rumah Tertinggi

RumahCom - Survei Harga Properti Residensial yang dilakukan Bank Indonesia selama kuartal I-2016 menunjukkan, volume penjualan properti residensial mengalami perlambatan. Hal ini sejalan dengan mening

Lanjutkan membaca17 Mei 2016

Masukan