Dengan menipisnya suplai di Jakarta dalam jangka pendek, serta tren harga yang terus meningkat, situasi ini akan menguntungkan penjual.

RumahCom – Di saat rata-rata harga perumahan secara nasional menunjukkan perlambatan, Rumah.com Property Index untuk pasaran properti di DKI Jakarta tetap menunjukkan tren yang solid sepanjang 2016 lalu.

Pada kuartal keempat (Q4) 2016, Rumah.com Property Index (Nasional) mencapai 103,3 atau turun 2,1% secara quarter-on-quarter (q-o-q) dari 105,5 di kuartal 2016. Penurunan ini menunjukkan akselerasi perlambatan dari Q2 dan Q3 2016, di mana harga tetap stagnan di kisaran 105.

RPI Index Indonesia Grafik -graphs2-03

Sementara untuk di Jakarta, Rumah.com Property Index mencapai 114,5 atau naik 2,4% secara quarter-on-quarter (q-o-q) dari 112,2 di Q4 2016. Kenaikan ini melanjutkan tren positif di Q2 dan Q3 2016.

Kenaikan Index pada Q4 ini disebabkan oleh kenaikan di area Jakarta Selatan, Jakarta, Timur, dan Jakarta Pusat.

Kenaikan ini tak lepas dari penurunan volume suplai yang mencapai 5,6% (q-o-q). Lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya 4%.

Jakarta Pusat menunjukkan kenaikan terbesar (7,5%, q-o-q) dari Q3 2016, disusul Jakarta Selatan (6,6%). Sebaliknya, Jakarta Utara dan Jakarta Barat menurun, masing-masing 5,6% dan 0,1%.

RPI Index Indonesia Grafik -graphs2-06

Tingkat inflasi di Ibukota pada Desember 2016 adalah 0,27%. Di Jakarta, perkembangan di transportasi, komunikasi, dan layanan keuangan menjadi kontributor inflasi yang utama, terutama tarif transportasi udara dan komunikasi seluler.

Karena tingkat inflasi tertinggi di Jakarta berasal dari sektor perumahan, Pemerintah Daerah DKI Jakarta akan bekerja sama dengan pengembang perumahan milik negara Perum Perumnas untuk membangun apartemen murah di dekat stasiun KRL atau terminal. Dengan demikian, orang-orang yang bekerja di Jakarta bisa tinggal juga di Jakarta.

Kebijakan terbaru Pemda DKI adalah menghapuskan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk perumahan di Jakarta dengan harga di bawah Rp2 miliar. Ini akan mendorong pemilik rumah dan pemilik lahan untuk membuat sertifikat dan mendorong transaksi properti.

Pada level nasional, Tax Amnesty tahap pertama, yang berakhir pada 30 September 2016, mengalami sukses, setelah sempat tersendat di permulaan pada Juli 2016.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak, aset senilai Rp141 triliun dijanjikan akan direpatriasi sebelum 31 Desember 2016. Kebijakan Tax Amnesty diharapkan menambah likuiditas bank, yang akan mendorong bank-bank untuk mengurangi suku bunga, yang pada akhirnya menurunkan suku bunga cicilan perumahan.

Pertumbuhan ekonomi Jakarta masih solid

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari Riset Bank Indonesia dan Bank Permata, tren pertumbuhan ekonomi Jakarta terus melemah dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2014, pertumbuhan ekonomi Jakarta berada pada 5,91%, kemudian turun menjadi 5,89% pada tahun berikutnya. Sementara di tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat hanya mencapai 5,85%, atau turun 0,04% dari tahun 2015.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Jakarta tetap yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir jika dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Nasional maupun Pulau Jawa. Pada 2016, pertumbuhan ekonomi Nasional mencapai 5,02% (naik 0,14% dari tahun sebelumnya), sementara pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa adalah 5,59% (naik 0,12%).

Perlambatan pertumbuhan ekonomi Jakarta ini disinyalir tak lepas dari sejumlah peristiwa yang terjadi pada akhir tahun lalu, yakni Pemilihan Kepala Daerah (Gubernur) DKI Jakarta, serta aksi besar-besaran terkait kasus penistaan agama.

Sementara itu, ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Eddy Kuntadi, menargetkan pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai 6% di tahun 2017.

Menurutnya, selama ini pertumbuhan ekonomi Ibukota bergantung pada sektor dagang dan jasa. Kedua sektor tersebut menyumbang sekitar 60% dari pertumbuhan ekonomi Jakarta.

“Pertumbuhan ekonomi di Jakarta itu banyak dari perdagang dan jasa. Jika ini berjalan cukup signifikan, bisa diatas 6 persen.‎ Dari jasa dan perdagangan seperti hotel, ‎bengkel, dan lain-lain. Itu porsinya sekitar 60 persen,” katanya, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Dengan menipisnya suplai di Jakarta dalam jangka pendek, serta tren harga yang terus meningkat, situasi ini akan menguntungkan penjual.

Unduh laporan lengkap RPI Q4 2016 di sini!

Boy Leonard

KIRIM KOMENTAR