Pada pertengahan tahun ini, harga jual properti residensial terus merangkak naik, baik dihitung secara kuartal maupun tahunan.

RumahCom – Pasar properti nasional secara umum menunjukkan pergeseran ke arah buyers market pada kuartal IV (Q4) tahun 2016. Penjual properti memilih menahan diri sembari melihat pergerakan harga.

Rumah.com Property Index secara nasional mencapai 103,3 pada Q4, ini menunjukkan penurunan 2,1% secara quarter-on-quarter (q-o-q) dari 105,5 di Q3 2016. Penurunan ini sekaligus menunjukkan perlambatan dari Q2 dan Q3, di mana harga tetap stagnan di kisaran 105.

Dilihat dari data tahunan (y-o-y), Index menurun 0,8%. Ini mencerminkan indikasi penurunan harga-harga. Meski demikian, tren jangka panjang tetap positif.

 

RPI Index Indonesia Grafik -graphs2-01

Sementara itu, pertumbuhan suplai properti nasional hanya naik tipis 1,9% (q-o-q). Selisihnya jauh jika dibandingkan kuartal sebelumnya, yang mencapai 10,6%.

Penurunan pertumbuhan suplai properti nasional ini mengindikasikan pihak penjual sedang menahan diri atau berhati-hati memasuki pasar.

Lebih lanjut, penurunan Rumah.com Property Index secara nasional dipengaruhi oleh penurunan di sejumlah area seperti Banten (9,8%), Jawa Timur (0,5%), dan Yogyakarta (0,4%). Harga properti Bali stagnan, sedangkan Jakarta meningkat 2,4%.

RPI Index Indonesia Grafik -graphs2-05

Analisis Ahli (Nasional)

Sepanjang 2016, pengeluaran Pemerintah di sektor infrastruktur mengalami penurunan karena pemotongan anggaran. Ini menyebabkan pertumbuhan GDP sebesar 5,02% year-on-year (y-o-y) pada Q3 tahun 2016.

Namun, kenaikan ini masih sedikit di bawah ekspektasi sebesar 5,1%. Hal ini tercermin pada perlambatan dalam Properti Market Index terutama memasuki penghujung tahun, di mana harga rumah seringkali menjadi indikator perlambatan perfroma ekonomi.

Namun, Pemerintah Indonesia mengindikasikan bahwa mulai Januari hingga September 2016, pengeluaran infrastruktur mengalami peningkatan (y-o-y), meski sedikit, yakni 1,97%.

Dibarengi dengan situasi makroekonomi yang melemah secara global, harga rumah secara keseluruhan mengalami kenaikan tipis atau bertahan. Hal ini juga memiliki dampak terjadinya cooling effect pada suplai, memberikan waktu pada developer real estat dan penjual rumah untuk menahan diri sebelum menjual propertinya.

Namun secara fundamental, perekonomian Indonesia terlihat sehat. Jumlah pengangguran menunjukkan tren menurun. Biro Pusat Statistik Indonesia melaporkan bahwa angka jumlah pengangguran sebesar 7 juta di akhir 2016, menurun dari 7,6 juta tahun sebelumnya. Lebih jauh, jumlah tenaga kerja tumbuh dari 122,4 juta menjadi 127,7 juta pada periode yang sama.

Relaksasi LTV Belum Berdampak Signifikan

Upaya Pemerintah untuk menggairahkan pasar properti lewat relaksasi Loan to Value (LTV) tampaknya belum berdampak signifikan. Saat ini, uang muka untuk rumah pertama hanya 15%, setelah sebelumnya sempat mencapai 30%.

Pun demikian, rata-rata pertumbuhan penjualan properti pada Q4 adalah 5,06%, masih jauh dari rata-rata pertumbuhan penjualan properti dalam tiga tahun terakhir, 16,01%.

Menurut data hasil Riset Ekonomi Bank Indonesia dan Bank Permata, sebagian besar masyarakat (77,2%) di Q4 2016 memilih cara pembayaran kredit, sementara hanya 6,9% yang membayar secara cash keras, sisanya cash bertahap.

Persentase jumlah masyarakat yang memilih membayar secara kredit ini naik 2,4% (q-o-q).

Masih menurut riset yang sama, penetrasi kredit secara total di Indonesia baru mencapai 35,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, penetrasi kredit pemilikan rumah hanya 3% dari PDB.

Penetrasi kredit pemilikan rumah ini tetap stabil, di mana dalam empat tahun terakhir berada pada rataan 2,95%.

Unduh laporan lengkap RPI Q4 2016 di sini!

KIRIM KOMENTAR