Kaum Urban Butuh Peradaban Baru

Fathia AzkiaJuli 31, 2017

RumahCom – Berbicara tentang problem terbesar masyarakat Jakarta saat ini, semua akan sepakat bahwa kemacetan menjadi masalah serius dan terus menumpuk yang sulit teruraikan.

Secara ekonomi, kerugian yang ditimbulkan akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp28,1 triliun per tahun. Selain kerugian ekonomi, kemacetan juga menimbulkan efek domino yang cukup serius. Salah satunya dampak psikologis.

Rata-rata masyarakat Jakarta memerlukan waktu sekitar lima jam di jalan raya setiap harinya. Stres serta gangguan kesehatan, akan menghantui warga Jakarta yang dari Senin hingga Jumat bahkan hari libur harus mengalami kemacetan.

Padahal Jakarta ibarat magnet yang menjadi tujuan kaum suburban yang selama ini tinggal di sekitarnya, namun memiliki aktivitas harian di ibu kota.

Menurut BPTJ tahun 2016, jumlah kendaraan dari Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi ke DKI Jakarta mencapai 1,4 juta/hari. 423.000 (31%) unit dari Tangerang, 426.000 (32%) unit dari Bogor dan 571.000 unit (38%) dari Bekasi.

Demi menyiasati permasalahan klasik ini, Pemerintah telah mengambil langkah strategis dengan membangun sistem transportasi masal, baik itu commuter line, bus Transjakarta, hingga LRT / MRT yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang.

Tujuannya tak lain untuk mengurai kemacetan yang sangat merugikan, baik secara nilai ekonomi maupun fisik dan mental.

Pembangunan sistem transportasi masal seperti LRT, diharapkan akan mampu mengubah kehidupan masyarakat Jakarta dimana yang selama ini menggunakan sarana transportasi pribadi, beralih menggunakan sarana transportasi umum.

Layaknya sebuah kota megapolitan, Jakarta memerlukan kawasan yang dikembangkan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) sebagai solusi akan kondisi kemacetan yang ada.

Baca juga: 5 Keuntungan Tinggal pada Kawasan Hunian Berkonsep TOD

Dengan adanya kawasan TOD, masyarakat akan diuntungkan, baik untuk hunian maupun komersial, yang terintegrasi dalam satu kawasan dengan sistem transportasi masal.

Konsep TOD sendiri adalah sebuah konsep penataan kota yang dinilai paling tepat untuk solusi jangka panjang masyarakat Jakarta.

Dengan mengedepankan unsur Connect, Compact, Transit, Mix, Shift, Walk, Densify dan Cycle, kawasan TOD akan menjadi solusi baru bagi masyarakat yang tidak hanya memberikan kenyamanan bertempat tinggal, namun lebih dari itu, kawasan ini akan menjadi peradaban baru dalam kehidupan masyarakat kaum urban di Jakarta. 

Pengembang BUMN Ambil Andil

Sejalan dengan kebutuhan masyarakat kaum suburban terhadap kawasan hunian masa depan, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, melalui Departemen TOD dan Hotel, mengembangkan kawasan dengan konsep Transit Oriented Development dengan nama LRT City. 

Proyek ini dibangun dengan pendekatan pengembangan kota yang bersifat kompak, mengadopsi tata campuran (mixed use), serta maksimalisasi penggunaan angkutan masal LRT dengan dilengkapi jaringan prasarana pejalan kaki dan sepeda.

Kepada Rumah.com, Amrozi Hamidi selaku GM Departemen TOD dan Hotel, PT Adhi Karya (Persero) Tbk mengatakan pengembangan superblok ini merupakan upaya perseroan dalam memberikan ruang baru untuk hidup yang lebih berkualitas.

“Kami memiliki beberapa lahan yang berlokasi di titik nol kilometer stasiun LRT Jabodebek, dan itu yang kami kembangkan untuk menjadi kawasan hunian dan komersial. Ini merupakan solusi yang kami tawarkan kepada masyarakat agar terbebas dari kemacetan yang semakin parah,” katanya.

Sementara itu Project Manager LRT City Sentul, Nanang Syafrudin Salim menjelaskan, dari sekian proyek hunian yang akan dibangun dalam LRT City, satu diantaranya yang telah melalui tahap groundbreaking adalah menara apartemen Royal Sentul Park.

Hunian vertikal ini dikembangkan di lahan seluas 14.8 hektare dengan konsep green smart living, yang terintegrasi langsung dengan stasiun LRT.

Tower apartemen pertama dibangun di lahan seluas 2,5 hektare dengan total unit sebanyak 1633 unit. Harga yang dipasarkan Rp360 juta untuk tipe studio. Sesuai dengan perencanaan pembangunan, apartemen ini akan selesai dan bisa diserahterimakan pada tahun Juni 2020,” ujarnya.

Mau cari properti dekat stasiun LRT? Klik dan cari daftar pilihannya dengan harga mulai dari Rp500 Juta hanya di Perumahan Baru Rumah.com.

Salah satu perumahan yang diklaim punya akses singkat dengan stasiun LRT.

Salah satu perumahan yang diklaim punya akses singkat dengan stasiun LRT.

Fathia Azkia
Penulis adalah content writer di Rumah.com. Untuk berkomunikasi dengan penulis, Anda dapat mengirim email ke:Fathiaazkia@rumah.com atau melalui Twitter: @fathianyaa

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

TOD, Solusi Bagi Pekerja Urban

RumahCom – Pekerja urban sepertinya akan lebih leluasa lagi saat beraktivitas dari rumah ke tempat kerja. Hal ini dikarenakan mulai tahun 2017 mendatang, diperkirakan proyek Transit Oriented Devlopm

Lanjutkan membacaJanuari 1, 2016

TOD dan Kota Mandiri, Gambaran Tren Properti Hari Ini

RumahCom – Mengamati laju pertumbuhan kota-kota besar di tanah air tak terlepas dari perkembangan properti yang ada di kawasannya. Dunia properti seakan tak henti mengubah wajah kota sesuai dengan k

Lanjutkan membacaAgustus 11, 2016

LRT: Solusi Terbaik Atasi Kemacetan Jakarta

RumahCom – Sebagai kota megapolitan, Jakarta hari ini tak lepas dari hiruk pikuk dan kepadatan yang seakan menjadi wajah utama Ibukota. Wajar saja, menurut data sensus kependudukan, Jakarta masih m

Lanjutkan membacaMei 19, 2017

Geliat Hunian Berbasis TOD di Jakarta Barat

RumahCom – Pengembangan residensial berbasis Transit Oriented Development (TOD) semakin banyak digencarkan para pengembang real estat. Tujuannya tak lain adalah untuk menawarkan daya pikat dengan ke

Lanjutkan membacaJuni 2, 2017

Apartemen TOD Laris Diburu Investor

RumahCom - Penyerapan pangsa end user di apartemen berbasis Transit Oriented Development (TOD) hingga kini masih relatif minim. Menurut Djoko Santoso selaku Kepala Divisi Transit Oriented Developmen

Lanjutkan membacaJuni 21, 2017

Masukan