MRT Beroperasi Tepat Waktu, Hunian TOD Bermunculan

Boy LeonardJuni 18, 2019

Sempitnya lahan di kota membuat pengembang mengincar lahan di atas jalur transportasi kota, seperti MRT. Seperti apa?

Rumah.com – Transportasi Mass Rapid Transit (MRT) telah beroperasi secara komersial pada Maret 2019 lalu. Momentum sebelum beroperasionalnya MRT telah dimanfaaktkan pengembang untuk merilis proyek-proyek berbasis Transit Oriented Development (TOD).

Rute yang dilewati oleh stasiun MRT memebentang dari  Bundaran Hotel Indonesia, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, Istora, dan Senayan. Dari stasiun Senayan, kereta akan naik ke jalur layang menuju stasiun Sisingamangaraja, Blok M, Blok A, Haji Nawi, Cipete Raya, Fatmawati, dan Lebak Bulus.

Sebagai stasiun pemberhentian terakhir pada fase I, stasiun Lebak Bulus sekaligus menjadi stasiun depo atau tempat parkir kereta MRT yang sedang tidak beroperasi.

PT Synthesis Development, misalnya, telah lama membeli lahan di daerah Cirendeu yang cukup dekat dengan stasiun Lebak Bulus. Pada Juli ini, proyek bertajuk Synthesis Home teresbut akan mulai diluncurkan.

Sales & Marketing Manager Synthesis Homes, Andreas Pangaribuan, mengatakan ketika membeli lahan tersebut perusahaan sempat ragu apakah MRT akan terealisasi tepat waktu. Namun, sejak uji coba yang dilakukan Presiden Jokowi bahwa keberadaan MRT yang ternyata mampu mempersingkat waktu tempuh di kawasan segitiga emas menjadi 40 menit saja, permintaan hunian di area tersebut juga bertambah.

Permintaan makin meningkat ketika infrastruktur yang terbangun sudah di depan mata dan bisa langsung digunakan.

Andreas mengungkapkan bahwa sejatinya sudah cukup banyak perumahan dari Cirendeu ke arah Bintaro, akan tetapi belum banyak yang ukuran dan luas tanahnya cukup besar. Dengan demikian ketika mulai menawarkan Nomor Urut Pembelian atau NUP pada 22 April 2019, belum ada pembanding yang serupa.

Simak juga: Kelebihan Properti TOD.

Synthesis mencoba melengkapi daya tarik perumahan ini dengan konsep smart home. Perusahaan menawarkan dengan harga mulai Rp1,1 miliar. Hingga kini dari  97 unit yang ditawarkan telah ada tanda masuk sebanyak 83.

Menurutnya, saat ini rata-rata di Cirendeu dengan luasan 6×10 meter dan rata-rata bangunan 70 meter persegi, harga perumahan sekunder di klaster lebih kecil telah mencapai Rp1,1 miliar.  Dia mengatakan potensi kenaikan harga di kawasan ini masih bisa lebih tinggi dengan kisaran di atas 6% per tahunnya. Kawasan ini berpotensi mengejar ketertingalannya dari Bintaro.

Kawasan Jakarta Selatan masih menjadi primadona di antara kawasan DKI Jakarta lainnya. Hal ini karena letaknya yang strategis, dengan akses yang relatif dekat ke pusat kota, seperti Senayan-Sudirman-Thamrin. Selain itu juga dekat dengan kawasan bisnis lain seperti TB Simatupang dan Kuningan.

Kawasan Jakarta Selatan juga lebih nyaman dan sejuk karena kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan hijau Jakarta. Tertarik? Lihat beragam pilihan rumah dan apartemen di Jakarta Selatan.

 “Dengan area yang mulai dekat transportasi masal rasanya gap yang ada di antaa kita dengan Bintaro Masih single digit di atas lima,” jelasnya.

Ketersediaan fasilitas transportasi publik juga dinilai oleh PT Intiland Development Tbk. sebagai faktor kunci bagi sebagian besar masyarakat dalam memilih properti.

Direktur Pengembangan Bisnis emiten berkode saham DILD Permadi Indra Yoga mengatakan, integrasi moda transportasi yang modern dan memadai mutlak diperlukan masyarakat. Perusahaan berusaha menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan proyek-proyek properti yang menawarkan kemudahan mobilitas dan konektivitas masyarakat dalam beraktivitas.

Yoga menyebutkan hal itu menjadi pertimbangan perusahaan untuk membangun proyek yang rata-rata berjarak 500 meter dari sekitar jalur MRT. Hal ini membuat waktu tempuh pejalan kaki atau penghuni kurang dari 10 menit.

DILD memiliki empat properti yakni kawasan mixed-use dan high rise South Quarter di TB Simatupang, Fifty Seven Promenade di Thamrin, Intiland Tower di Sudirman, dan Grand Whiz Poins Square di Lebak Bulus sekitar jalur MRT.

Data Rumah.com Property Index menunjukkan bahwa median harga properti di kawasan Jakarta Selatan berada pada kisaran Rp17 juta-Rp40 juta per meter persegi, dengan kenaikan 2-3% per kuartalnya.

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Ingin Nambah Anak? Siapkan Hunian yang Ideal!

RumahCom – Setelah anak pertama tumbuh besar, tak jarang para orangtua memiliki keinginan untuk menambah anak kedua, anak ketiga, bahkan seterusnya. Rencana baik ini sepatutnya dibarengi juga denga

Lanjutkan membacaJuni 15, 2019

Apartemen Dekat Sarana Transportasi Umum Jadi Incaran

RumahCom – Semakin menipisnya lahan hunian yang dekat dengan pusat kota membuat suplai hunian bergeser ke wilayah perbatasan. Bagi pencari hunian, lokasi boleh jauh dari pusat aktivitas, asalkan tra

Lanjutkan membacaJuni 15, 2019

Meski Masih Melambat Pengembang Tetap Genjot Penjualan

Rumah.com - Tren penjualan properti yang melambat selama lebaran sudah menjadi siklus yang wajar. Namun, bukan berarti para pengembang pasrah dan menghentikan aktivitas penjualan begitu saja.Sejumlah

Lanjutkan membacaJuni 12, 2019

Properti Sekunder Jadi Primadona di Kelapa Gading

Rumah.com - Hadirnya infrastruktur-infrastruktur transportasi baru mendorong geliat pasar properti di Jakarta Utara, khususnya di kawasan Kelapa Gading. Harga properti di Kelapa Gading mulai mengalam

Lanjutkan membacaJuni 17, 2019

Masukan