strategi pengembang properti

RumahCom – Memasuki paruh kedua tahun ini, penjualan di pasar properti nampaknya belum akan naik signifikan jika melihat kondisi yang kurang baik selama semester pertama 2019.

Secara fundamental, pasar properti masih mengalami tekanan domestik dan global. Direktur Riset Savills Indonesia, Anton Sitorus mengatakan, perhelatan pemilu yang telah selesai ternyata masih menyisakan ketidakpastian dengan masuknya gugatan ke Mahkamah Konstitusi.

Selain itu, faktor perang dagang Amerika Serikat-Cina ikut mempengaruhi kondisi sektor properti. Sektor bisnis seperti properti tentunya selalu berkaitan dengan pergerakan fundamental ekonomi. “Perkiraan saya, sampai akhir tahun belum ada kenaikan yang signifikan,” katanya.

Namun, lanjut dia, properti akan mengalami rebound cukup kencang pada tahun-tahun mendatang jika ketegangan global juga mereda. Sejumlah faktor selain adanya insentif pemerintah, kenaikan peringkat investasi Indonesia di mata dunia akan membuat Indonesia masih memiliki daya tarik. 

Baca juga: Rumah.com Property Index untuk mencari tahu tren kenaikan harga properti per kuartal di berbagai lokasi favorit

Adapun data riset Savills Indonesia sepanjang kuartal I/2019, menunjukkan bahwa pasokan kondominium baru di Jakarta mencapai 1.100 unit. Sayangnya, penyerapan pasar hanya mencapai 430 unit.

“Tekanan harga jual pun terjadi, harga rata-rata per meter persegi  turun 0,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi senilai Rp26,3 juta,” imbuh Anton.

Kondisi yang tak berbeda jauh dialami oleh kota satelit, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Setidaknya pada triwulan pertama 2019 terdapat 3.800 unit kondominium baru. 

Total pasokan pun bertambah menjadi sebanyak 86.700 unit. Sayangnya, properti yang terjual  hanya mencapai 2.100 unit dengan harga rata-rata Rp15,8 juta per meter persegi. “Serapan yang kurang baik ini menjadi gambaran perlambatan ekonomi,” katanya.

Inilah salah satu opsi investasi yang paling masuk akal, baik dari sisi harga, keunggulan, dan jelas menguntungkan!

Developer Akui Perlambatan

Selama 5 bulan berjalan tahun ini, PT PP Properti Tbk. (PPRO) juga belum mencatatkan kinerja yang memuaskan.

Direktur Keuangan PPRO Indaryanto Per Mei 2019 mengatakan belum mampu mencapai setengah dari target pra penjualan akhir tahun karena terkendala pemilu dan lebaran. Kontribusi penjualan yang masih menarik minat masyarakat dominan berasal dari Grand Shamaya dan Grand Sungkono Lagoon di Surabaya dan Mazo Jhi di Margonda.

“Kami baru merealisasikan pra penjualan masih sekitar 30% dari target atau senilai Rp1 triliun,” ungkapnya.

Dapatkan ulasan lebih mendalam tentang Rumah.com Property Outlook 2019 di sini (https://www.rumah.com/insights/rumah-com-property-market-outlook-2019-326)

PPRO mematok kenaikan target tahun ini dibandingkan tahun lalu sebesar 20% dari Rp3,48 triliun menjadi senilai Rp4,17 triliun.

Menurutnya, capaian penjualan yang lebih baik biasanya memang terjadi pada semester II dengan pertimbangan tidak adanya perhelatan politik. Namun, pada paruh kedua tahun ini, investor juga cenderung melakukan wait and see mengingat masih adanya sengketa Pemilu.

Direktur Utama Ciputra Development Candra Ciputra mengungkapkan, kinerja pada 2019 masih akan stabil dengan mempertimbangkan tingginya sales backlog untuk pengakuan pendapatan pada tahun ini.

Candra menyebut, raihan marketing sales pada kuartal I/2019 senilai Rp1,1 triliun atau 19% dari target 2019 senilai Rp6 triliun.

Meskipun capaian marketing sales kuartal I/2019 mengalami penurunan, pihaknya masih optimistis target senilai Rp6 triliun dapat tercapai.

“Hal itu didukung oleh keragaman produk, luas cakupan geografis, brand, permintaan pasar dan rencana peluncuran beberapa proyek baru,” jelasnya.

Temukan beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com

KIRIM KOMENTAR