Tren dan indeks harga dan suplai apartemen.

RumahCom – Sektor properti, utamanya apartemen diproyeksikan masih mengalami tekanan dengan masih rendahnya tingkat penyerapan pasar selama semester I/2019.

Pasar properti belum lepas dari perlambatan sejak 2014 lalu setelah mengalami booming pada periode sebelumnya.

Sejumlah faktor di luar pertambatan ekonomi nasional juga turut mempengaruhi seperti pengetatan loan to value ratio (LTV) pada periode itu. Saat ini kemungkinan pemerintah telah merelaksasi sejumlah aturan perpajakan. Namun hasilnya tidak bisa langsung signifikan mengangkat sektor ini.

Direktur Rating PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Vonny Widjaja menyebutkan, rendahnya penjualan dapat dirasakan oleh pengembang yang utamanya berfokus membangun proyek bangunan jangkung atau apartemen.

(Eits, jangan coba-coba beli rumah dan apartemen di pinggir kota tanpa menyimak ulasan wilayahnya di Area Insider Rumah.com!)

Dari sisi resiko, proyek apartemen jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tapak. Hal itu dikarenakan pengembang mau tidak mau harus terus membangun dan menyelesaikan proyek kendati penyerapan pasar masih rendah. Sebagai alternatifnya pengembang mulai meningkatkan hutang untuk menyelesaikan proyek.

Kondisi ini, lanjut dia, terlihat dari PT Intiland Development Tbk yang saat ini fokus di proyek high-rise building. Menurutnya perusahaan itu kesulitan mencapai target penjualan, padahal pendanaan harus terus dikucurkan.

“Properti memang masih kurang bagus. Banyak perusahaan properti yang juga memiliki tingkat utang yang tinggi. Namun, dengan turunnya suku bunga mungkin bisa berdampak positif ke depannya bagi sektor properti,” jelasnya.

Target penjualan pengembang masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor utama yakni lokasi proyek, harga jual, tipe properti hingga strategi pemasaran.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, selama semester I/2019 tambahan pasokan telah mencapai 1.972 unit atau 24% dari total proyeksi pada 2019.

Dengan demikian secara total pasokan apartemen mencapai 205,822 unit 8,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Padahal secara serapan pada kuartal II/2019, secara rata-rata berada di level 87% hampir sama dengan kuartal lalu. Tingkat serapan apartemen tahun 2019 kami perkirakan masih tidak bergerak banyak, masih di level 86-87%,” ungkapnya.

Kunjungi event DealJuara, Pameran Properti Online Terbesar di Indonesia yang digelar Rumah.com mulai 7 Juli sampai 30 September 2019, dengan beragam penawaran menarik mulai dari diskon rumah sampai Rp480 juta, hingga tukar rumah lama dengan rumah baru!

Menurutnya, pasar akan mulai aktif mulai 2020, pada saat pemerintahan baru terbentuk. Permintaan mungkin berasal dari hasil dana repatriasi yang akan “bebas” akhir tahun ini. Disamping itu, relaksasi pajak barang mewah akan membuat permintaan apartemen kelas atas meningkat.

Harga apartemen di Jakarta pun hanya naik tipis hampir 1%, dibandingkan kuartal lalu ke posisi Rp34,2 juta per meter persegi. Harga apartemen tidak akan bergerak banyak hingga akhir 2019 yang berada di level Rp35 juta per meter persegi.

Masih banyaknya stok yang belum terserap di pasar membuat posisi tawar konsumen semakin kuat. Hal tersebut berimplikasi terhadap sulitnya harga apartemen untuk naik lebih jauh.

“Namun harga-harga properti di sekitar MRT masih akan mengalami kenaikan bervariasi tergantung situasi stasiun di dekat properti tersebut. Semakin tinggi trafik stasiun tersebut, semakin tinggi peluang kenaikan harga properti di dekatnya,” katanya.

Kedepannya, seiring dengan harapan makro ekonomi yang membaik pasca pemilu 2019, sampai terbentuknya kabinet pemerintahan yang baru dan beroperasinya infrastruktur baru (LRT dan MRT) guna mendorong harga properti naik.

“Kami perkirakan harga akan naik sekitar 5-6% per tahun hingga 2023,” tekan Ferry.

Temukan beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com

KIRIM KOMENTAR