RumahCom – Pengembang Thailand mulai menawarkan produk propertinya untuk pasar di Indonesia. Negeri Gajah Putih ini cukup banyak memberikan kemudahan untuk orang asing membeli properti di negaranya mulai dari cara bayar fleksibel hingga pajak yang rendah.

Seperti juga Indonesia, Thailand merupakan negara tetangga yang berada di satu kawasan yang sama dan sesama anggota serumpun negara-negara kawasan di ASEAN. Sama seperti Singapura ataupun Australia, negeri Gajah Putih ini juga memudahkan orang asing untuk membeli properti dengan aturan yang longgar dan regulasi pajak yang relatif rendah.

Menurut Narong Potewanagul, Business Development Director Mahanakorn PCL (CMC Group), pengembang yang berbasis di Somdet Phrachao Road, Dao Khanong, Thonburi, Bangkok, Thailand, setiap orang asing bisa membeli properti di Thailand khusus untuk jenis apartemen dengan harga minimal 1 juta Baht.

“Status kepemilikan untuk orang asing yang membeli properti di  Thailand berlaku hak milik atau freehold dan bisa diwariskan. Ada juga  yang statusnya leasehold (di Indonesia seperti hak guna bangunan atau HGB) untuk lokasi-lokasi tertentu yang prime dan harganya sangat mahal. Porsi leasehold untuk orang asing di Thailand ini juga sangat kecil, hanya sekitar satu persen dari seluruh properti yang dibeli orang asing,” katanya.

Mau investasi di Indonesia walaupun tinggal di luar negeri? pasti bisa. Yuk, simak video berikut ini.

Orang asing yang membeli properti di Thailand juga bisa memanfaatkan pembiayaan dari bank (KPA) dengan maksimal pembiayaan yang bisa diberikan sebesar 50 persen dari harga propertinya. Untuk bank lokal di sini yang bisa membiayai pembelian properti di Thailand yaitu Bank UOB dan Bank CIMB Niaga.

Pola bayarnya seperti ini, konsumen membayar booking sebesar 20 persen dari harga apartemennya kemudian sebulan berikutnya membayar lagi 30 persen sehingga totalnya 50 persen. Untuk pelunasan 50 persen berikutnya dibayarkan setelah produknya siap diserahterimakan.

Keamanan konsumen juga terjamin karena uangnya tidak disetorkan ke pengembang tapi masuk ke bank. Bila kita membeli secara tunai bertahap atau installment, cicilannya juga tidak dibayarkan ke pengembang tapi ke bank. Bila pengembang gagal membangun proyeknya akan diberikan jeda selama satu tahun dan bila jeda ini terlewati seluruh uang konsumen 100 persen dikembalikan plus berbunga dengan rata-rata bunga 6 persen per tahun.

Untuk pajaknya, setiap orang asing akan dikenakan pajak satu persen dari nilai jualnya. Pajak lain dikenakan hanya saat pemilik akan menjual produknya yang akan dikenakan pajak dua persen dan pajak  lainnya sehingga totalnnya menjadi sekitar 3,3 persen. Pemilik akan dibebaskan dari pajak kalau propertinya dimiliki selama lima tahun, jadi kalau dijual setelah lima tahun akan terbebas dari pajak-pajak tadi.

“Properti yang dibeli oleh orang asing juga bebas dijual lagi ke penduduk lokal maupun konsumen asing yang lain bahkan saat masih dalam periode mencicil (installment) juga bisa dijual. Saat ini konsumen asing kami kebanyakan dari Singapura dan Malaysia, untuk Indonesia kami sedang penjajakan dan membangun jejaring dulu,” ujar  Narong.

Untuk diketahui, CMC Group merupakan pengembang dengan pengalaman lebih dari 25 tahun dan sudah menggarap 50 proyek yang sudah jadi maupun masih dalam tahap pengembangan. CMC Group juga mengembangkan produk di sekitaran kampus dan menawarkan pola investasi yang menarik supaya pemilik bisa mendapatkan passive income dari penyewaan unitnya dengan imbal hasil sekitar 6-8 persen per tahun dari harga propertinya.

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.

KIRIM KOMENTAR