RumahCom – Pelemahan bisnis properti ditambah pandemi Covid-19 tentunya membuat bisnis kalangan pengembang menjadi lebih sulit. Tapi secara umum, pengembang masih bisa menjalani bisnisnya karena yang tergerus baru persentase keuntungannya.

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah membuat sektor properti mengalami tekanan berat. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan untuk memutus mata rantai penularan wabah ini membuat aktivitas transaksi properti semakin terbatas sehingga perlu disiasati dengan berbagai hal.

Karena itu pengembang banyak mengeluarkan aneka program kemudahan mulai booking secara online yang diikuti dengan potongan harga, hadiah langsung, hingga berbagai kemudahan lainnya. Hal ini dilakukan untuk tetap menggairahkan pasar sehingga masyarakat yang berdiam diri di rumah tetap tertarik untuk membeli properti dengan berbagai promo ini.

Situasi banyak kemudahan untuk membeli properti ini juga disebut saat yang menguntungkan bagi konsumen. Saat situasi normal, pengembang tidak akan memberikan berbagai kemudahan seperti ini bahkan untuk properti yang penyerapannya tinggi sudah sangat biasa diskonnya pun dikurangi.

Terkait banyaknya kemudahan saat wabah ini, menurut Bagus Adikusumo, Senior Director, Office Services Colliers International Indonesia (CII), sebuah perusahaan riset, konsultasi, dan manajemen properti asal Australia, kalangan pengembang yang memberikan berbagai kemudahan ini tidak bisa dikatakan rugi. Diskon yang diterapkan tidak memotong biaya produksi tapi hanya memangkas margin keuntungannya.

Ketika sudah memutuskan beli rumah, penting untuk perhatikan pengembang perumahan tersebut. Seperti apa pengembang yang terpercaya? simak di video berikut ini!

“Setiap perusahaan developer itu memiliki landasan terkait harga pokok produknya dan berapa keuntungan atau profit yang dia tetapkan. Misalnya dari setiap unit proyek yang dia kembangkan dia patok profitnya itu 30-40 persen. Kemudian terjadi perlambatan transaksi karena Covid-19, dia hanya memangkas profitnyaitu jadi 20 atau 10 persen, jadi secara umum dia masih untung hanya saja persentase keuntungannya yang berkurang,” jelasnya.

Karena itu setiap produk properti yang dijual, katakan seharga Rp1 miliar, bila dipangkas menjadi Rp800 juta atau Rp700 juta sesungguhnya developer belum merugi karena hanya margin keuntungannya yang terpangkas. Lebih dari  itu developer juga telah mendapatkan keuntungan dari peningkatan nilai tanahnya karena biasanya developer melakukan akuisisi tanah sudah sejak lama dan harganya masih sangat murah.

Hal lainnya lagi, periode pelemahan bisnis merupakan suatu hal yang biasa kendati terkait pandemi ini merupakan hal yang baru. Artinya, bisnis secara siklusnya memang selalu mengalami pasang surut dan developer telah mengantisipasi ini dengan menerapkan berbagai strategi produk maupun klasifikasi pricing-nya. Kapan dia mengeluarkan produk saat ekonomi lesu dan seperti apa produk saat situasi eknonomi lebih baik.

Untuk gambarannya, saat bisnis properti mengalami masa yang sangat baik pada periode 2012-2014, developer telah menikmati keuntungan yang cukup besar. Saat situasi bisnis menururun ditambah dengan adanya wabah Covid-19, developer tentu akan melakukan langkah-langkah penghematan dan efisiensi selain strategi lainnya terkait produk, termasuk pemberian banyak kemudahan dan diskon tadi.

“Apalagi kalau bicara pengembang besar, itu secara value perusahaan keuntungannya malah terus meningkat dari kenaikan gain tanah yang diakuisisinya. Karena itu situasi ini pastinya pengembang akan bisa bertahan karena secara umum belum mencatatkan kerugian kok. Untuk sementara strateginya bertahan aja dulu, saat wabah Covid-19  ini berakhir pasar pasti akan kembali ramai karena kebutuhan properti yang besar itu harus dipenuhi,” beber Bagus.

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

KIRIM KOMENTAR