Pengembang Fokus Tambah Land Bank di Tengah Pandemi

Boy LeonardApril 30, 2020

Pengembang Properti Fokus Menambah Land Bank di Tengah Pandemi Virus Corona

RumahCom–Pengembang properti saat ini sedang fokus belanja lahan dan menambah land bank di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 yang masih mewabah di Tanah Air. Hal ini dilakukan mengingat properti merupakan salah satu sektor yang bisa dikatakan terkena dampak paling besar akibat virus corona atau Covid-19.

Dampak yang diterima sektor properti akibat mewabahnya virus corona atau Covid-19 tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Pengaruh Pandemi Covid-19 ini telah membuat banyak bisnis properti mengalami kemandekan yang terjadi baik dalam matriks serapan maupun pasokan baru. Bahkan berbagai stimulus yang telah diberikan oleh pemerintah, baik moneter ataupun fiskal, itu semua belum bisa membuat sektor properti bergerak naik.

Sebut saja, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 3 Tahun 2020 tentang insentif pajak untuk wajib pajak terdampak wabah virus Corona. Dalam PMK tersebut disebutkan bahwa properti (real estate) termasuk yang memperoleh insentif perpajakan dengan tiga Klasifikasi baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).

Terkait hal ini, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus pun mengakui dan menilai bahwa sejumlah stimulus belum berpengaruh signifikan kepada pemulihan sektor properti. Hal ini dikarenakan bantuan stimulus yang diberikan masih bersifat terbatas, hanya bisa digunakan oleh para karyawan dan membantu arus kas (cashflow) perusahaan.

“Karena sifatnya terbatas. Jadi, hasilnya pun belum signifikan dan mempengaruhi pemulihan sektor properti,” sebut Yustinus, dikutip dari Grid.

Colliers International Indonesia pun mengonfirmasi bahwa sektor properti memang belum akan bangkit dalam waktu dekat. Bahkan, Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto memprediksi sektor properti akan lepas landas setidaknya di akhir tahun 2022. Hal ini, kata Ferry, masih bergantung pada fundamental dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan dunia.

Mobilisasi Lahan

Ferry menyatakan, perhotelan adalah sub-sektor properti yang paling terdampak wabah Covid-19. Meskipun demikian, Ferry menegaskan bahwa ini bukan berarti sub-sektor lainnya berjalan dengan mulus, justru tantangannya sama beratnya.

Jumlah kunjungan semakin berkurang, penyelesaian pekerjaan fisik proyek tertunda, dan eksekusi pembelian yang juga mengalami penundaan, itu adalah sedikit dari gambaran besar tantangan yang ikut berkontribusi dalam perlambatan sektor properti saat ini. Bahkan tantangan ini tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi di pasar daring pun, pencarian properti mengalami penurunan drastis. Managing Director Lamudi Indonesia, Mart Polman menyebutkan, tingkat pencarian properti pada website Lamudi tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pertumbuhan.

“Ini tak seperti yang kami harapkan. Kalau melihat traffic website Lamudi, itu kita mengalami penurunan kunjungan sekitar 15 persen diperbandingkan dengan situasi normal,” jelas Mart.

Angka yang lebih buruk digambarkan pada matriks penjualan bulan Maret dengan penurunan mencapai 25 persen dari transaksi normal. Dan, Mart pun menilai angka penjualan ini masih akan lebih menurun lagi di bulan April.

Untuk menghadapi keadaan sulit yang penuh tantangan ini, banyak pengembang yang merasa perlu menyesuaikan diri saat Pandemi Covid-19 dan memilih alternatif untuk berbelanja lahan sebagai persediaan bank tanah mereka.

Hal ini dikarenakan lahan adalah bahan baku utama perusahaan properti. Oleh karena itu, hal ini terus dijalankan untuk mendorong konsisten beroperasinya perusahaan. Contohnya, PT. Ciputra Development Tbk yang tidak pernah berhenti belanja lahan.

“Kami tak akan pernah stop belanja lahan, sebab Pandemi Covid-19 benar-benar susah diprediksi,” kata Direktur Keuangan yang juga merupakan Sekretaris Perusahaan PT. Ciputra Development Tbk Tulus Santoso.

Ciputra Development sendiri berfokus pada belanja lahan di Jadebotabek, dan Surabaya sebagai dua wilayah utama proyek mereka. Dari total dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 1.5 triliun pada tahun 2020, beberapa akan digunakan untuk belanja lahan dan menambah land bank.

Menariknya lagi, mobilisasi lahan ini juga terjadi di sub-sektor kawasan industri (KI). Hal ini terungkap dari hasil riset Leads Property Indonesia pada April 2020. Dalam hasil riset ditemukan bahwa para pengembang dan pemilik KI akan berfokus pada penyediaan bank tanah atau land bank, dan mengonsolidasi lahan yang tak terserap pasar.

“Ini opsi yang paling realistis. Dan wilayah Jadebotabek masih menjadi kawasan unggulan,” ungkap CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono dalam keterangannya (26/4/2020).

Wilayah Jadebotabek, Karawang, dan Purwakarta menguasai porsi 73 persen distribusi lahan KI, sehingga total pasokan kumulatif yang tercatat pada Kuartal I/2020 mencapai 12.532 hektar. Sementara total permintaan kumulatif sekitar 11.533 hektar, sedikit mengalami pertumbuhan 0,2 persen secara kuartalan.

Adapun permintaan lahan industri ini berasal dari perusahaan otomotif, bahan kimia, dan barang-barang konsumsi yang terjadi di Tangerang dan Bekasi selama dua bulan pertama tahun 2020.

Meskipun demikian, Hendra menilai sampai saat ini, para industrialis masih bersikap hati-hati untuk memperluas lahan mereka. Hal ini mengingat pertumbuhan ekonomi yang menurun.

Pertumbuhan juga terjadi pada segmen penjualan sebesar 0.18 persen menjadi 92.03 persen, karena tidak ada pasokan tanah tambahan. Angka pertumbuhan ini memang benar-benar jauh berbeda daripada saat tahun 2012-2016. Hal ini dikarenakan banyak perusahaan yang merupakan tenant utama KI, melakukan optimalisasi kapasitas produksi, alih-alih ekspansi.

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Membeli Properti Di Australia, Cukup Sediakan Dana Awal 10 Persen

RumahCom – Australia merupakan salah satu negara yang memudahkan orang asing untuk membeli properti. Calon konsumen cukup menyediakan dana awal 10 persen yang akan disimpan di trust account. Pengena

Lanjutkan membacaApril 29, 2020

Para Pengembang Besar Diprediksi Revisi Target Penjualan

RumahCom– Menghadapi wabah virus corona, pengembang mulai gelisah sebab penjualannya turut terkena imbas. Apalagi, beberapa tahun belakangan ini situasi pasar properti juga belum sepenuhnya pulih. D

Lanjutkan membacaApril 29, 2020

Sulit Karena Pandemi, Pengembang Harus Fokus Pada Segmen Investor

RumahCom – Situasi sulit yang dialami pengembang karena pandemi Covid-19 bisa disiasati dengan berbagai cara. Salah satunya dengan fokus pada konsumen end user dan terus mempermudah marketing produk

Lanjutkan membacaApril 30, 2020

Masukan