SMI Terbitkan Obligasi Green Bond, Simak Peluangnya

RumahCom – PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan alias green bond. SMI menjadi emiten pertama di Indonesia yang menerbitkan green bond. Sementara itu, mereka juga merencanakan jika total nilai obligasi ramah lingkungan yang akan diterbitkan SMI sebesar Rp3 triliun pada Juli 2018 lalu.

SMI menggulirkan dana tersebut untuk membiayai beberapa proyek infrastruktur ramah lingkungan. Di antaranya energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan pengelolaan air bersih. SMI mendapatkan bantuan arahan dari World Bank Group dalam penyusunan kerangka kerja obligasi ramah lingkungan ini.

Ada enam proyek ramah lingkungan yang akan dibiayai lewat penerbitan obligasi ini. Tiga proyek berhubungan dengan pembiayaan Light Rail Transit (LRT)dan tiga proyek lainnya adalah pembangkit listrik minihidro di Sulawesi Utara dan Sumatera Barat, serta proyek pengolahan air bersih di Cilegon, Banten.

Untuk menggenjot investasi ramah lingkungan, ada sejumlah insentif fiskal maupun non-fiskal yang diberikan Pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menyatakan komitmennya dalam Conference of Parties (COP) 15 pada 2009 lalu untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26 persen (dengan usaha sendiri) dan sebesar 41 persen (jika mendapat bantuan internasional) pada 2020.

Proses transisi menuju pembangunan rendah emisi GRK ini butuh investasi dan pembiayaan yang tidak sedikit. International Finance Corporation (IFC), anak usaha dari World Bank Group, menaksir Indonesia butuh investasi sebesar US$274 miliar atau hampir Rp3.870 triliun hingga 2030.

Pembiayaan dan investasi sebesar ini terbilang sulit ditanggung semuanya oleh pemerintah. Perlu partisipasi banyak pihak, termasuk lembaga-lembaga keuangan untuk membiayai transisi menuju pembangunan berkelanjutan.

Dalam laporan Green Finance Opportunities in Asean yang diterbitkan oleh Bank DBS, disebutkan bahwa estimasi kebutuhan pembiayaan investasi ramah lingkungan di negara-negara Asean dari 2016 hingga 2030 sebesar US$3 triliun. Kebutuhan pembiayaan tersebut tersedot ke sektor infrastruktur, energi terbarukan, efisiensi energi, dan pertanian pangan. Indonesia akan menyedot porsi terbesar 36 persen dari kebutuhan pembiayaan itu.

Pada akhir 2014, Otoritas Jasa Keungan telah menyusun Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan (Sustainable Finance Roadmap). Definisi Keuangan Berkelanjutan menurut Peta Jalan ini adalah dukungan menyeluruh dari industri jasa keuangan untuk pertumbuhan berkelanjutan yang dihasilkan dari keselarasan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

Menyusul Peta Jalan, OJK menerbitkan peraturan tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik pada Juli 2017. Lembaga jasa keuangan wajib menyerahkan rencana aksi tahunan keuangan berkelanjutan mereka mulai Januari 2019. 

Tahun 2020 sendiri, pemerintah berencana menerbitkan kembali Sukuk Ramah Lingkungan Global. Sukuk jenis ini pertama kali diterbitkan Indonesia pada 2018 silam dengan nilai US$3 miliar.

Sumber: Wartaekonomi

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.

KIRIM KOMENTAR