Pandemi COVID-19 Sebabkan Pergeseran Minat Aset Properti, Pemodal Bingung

Boy LeonardJuni 2, 2020

Pandemi COVID-19 Sebabkan Pergeseran Minat Aset Properti, Pemodal Bingung

RumahCom–Meskipun pandemi virus corona atau COVID-19 telah menyebabkan ruang perkantoran menjadi sepi dan banyak usaha yang tutup, namun berbeda halnya dengan ruang pergudangan.

Kini, kian banyak masyarakat yang mengandalkan ritel online untuk berbelanja kebutuhan secara online. Hal ini telah membuat penjualan belanja online mengalami peningkatan dan mendukung tingginya keperluan pergudangan yang berasal dari ritel online sebagai perusahaan pemasok keperluan sehari-hari.

Fenomena ini pun membuat para pemodal bertanya-tanya apakah mereka perlu melepaskan bisnis properti mereka atau justru menggandakan pertaruhan mereka di industri ini.

Ketidakpastian masa depan yang menyertai pandemi telah mengguncang berbagai alternatif pemilihan aset para pemodal. Dikutip dari media regional The Business Times (1/06), dinyatakan bahwa para pemodal sedang menghadapi situasi sulit dalam investasi sektor properti. Semua dikarenakan isu COVID-19 di Tanah Air.

Sebagai informasi, properti sendiri sudah lama dinilai sebagai bentuk portofolio investasi yang seimbang, serta disukai oleh institusi dana pensiun dan perusahaan asuransi yang mencari aset dengan menggabungkan antara pertumbuhan nilai capital–seperti yang ditawarkan saham-dengan pendapatan yang aman-seperti investasi obligasi.

Namun, pandemi COVID-19 ditambah dengan kebijakan lockdown di sejumlah negara telah membuat terjadinya perubahan yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh miliaran orang yang hidup dan bekerja. Adapun dampak yang dirasakan adalah terpukulnya nilai dan prospek sewa mal dan gedung perkantoran pencakar langit, sehingga membuat investasi properti berada dalam pertaruhan yang lebih besar.

“Belum jelas apakah kita akan melihat peningkatan atau bahkan penurunan permintaan untuk properti hunian, sebab banyak yang bekerja di rumah dan melakukan social distancing,” kata Joe Stadler, kepala the ultra-high net worth business di UBS, sambil menampilkan fokus kliennya yang masih bersifat teka-teki, sebagaimana dikutip dari The Business Times (1/6).

Adapun untuk wilayah Eropa, harga sewa kantor di zona prima sudah turun antara 2-10% tahun ini, sementara yields di sentra perbelanjaan utama Eropa telah turun sekitar 0.4-5.1% dibandingkan dengan tahun 2019.

Sebaliknya, permintaan untuk properti logistik atau pergudangan diperkirakan akan terus bertumbuh dalam dua sampai tiga tahun ke depan di Amerika Serikat. Sejumlah pemodal yang berani tak hanya bertahan dengan aset properti, tetapi juga dengan meningkatkan nilai investasinya.

Satu firma riset untuk alternative asset, Preqin, baru-baru ini merilis bahwa dana investasi yang berfokus pada properti Eropa sudah mengumpulkan dana senilai US$13.2 miliar (sekitar Rp191.4 triliun) dari para pemodal untuk jangka waktu 1 April-28 Mei 2020. Ini adalah volume dana triwulanan tertinggi sejak kuartal keempat tahun 2017.

Mengganti portfolio investasi properti perkantoran dan retail dengan properti pergudangan dan industri terlihat simpel. Namun sejumlah analis meyakini bahwa perubahan sistem dunia dalam mengaplikasikan properti, termasuk real estate, akan membutuhkan waktu yang panjang, dan perubahan portofolio secara radikal ini dapat merugikan para pemodal.

Firma untuk jasa asset allocators cenderung lebih memilih sikap “netral” untuk properti dewasa ini, sementara banyak perusahaan besar di dunia memberikan sinyal yang bermacam-macam untuk keperluan aset properti mereka kedepannya. Hal inilah yang menambah ketidakpastian bagi para pemilik tanah.

Perusahaan besar seperti Mastercard, Visa, dan American Express dikabarkan sudah meninggalkan harapan akan kemungkinan untuk cepat kembali bekerja di kantor dan berencana untuk mengkonsolidasikan gedung-gedung kantor mereka apabila para karyawannya lebih menyukai untuk bekerja di rumah. Sedangkan, perusahaan finansial seperti Exane, anak perusahaan BNP Paribas, dikabarkan sedang memperluas kantor mereka di London untuk bisnis cash equity.

Menurut para analis, penurunan ekonomi global akan menekan harga sewa dan memicu kekosongan unit properti dalam berbagai macam aset, namun fundamental pasar yang luas tetap akan menunjang prospek investasi properti yang dikerjakan dengan akurat.

Dengan hasil obligasi pemerintah di pasar global yang cenderung turun, serta sekitar 15% obligasi korporasi yang mengalami penurunan rating, dan pembatalan dividen saham secara besar-besaran, para pemodal pun kini mencari pendapatan yang bisa dipenuhi oleh aset properti.

Ekspektasi adanya paket stimulus global besar-besaran untuk menyelesaikan imbas COVID-19 akan memicu naiknya inflasi pada tahun 2021. Ini diperkirakan akan menaikkan permintaan untuk properti, yang bisa menjadi hedging untuk melindungi tekanan inflasi.

Para pemodal juga khawatir rally di pasar saham AS akhir-akhir ini tak akan bertahan lama. Sejumlah pemodal akan berupaya mengunci profit mereka, yang memungkinkan lebih banyak arus dana masuk ke aset-aset alternatif.

Mengingat adanya ketidakpastian untuk arus kas pada properti perkantoran dan retail, beberapa penasihat investasi pun menyatakan bahwa investasi perumahan atau hunian adalah daerah investasi teraman untuk keadaan sekarang ini.

UBS menyuarakan bahwa apartemen di AS saat ini menghasilkan rata-rata koleksi sewa tertinggi dari segala macam properti, dengan tingkat vacancy triwulan pertama tahun ini sama dengan triwulan sebelumnya.

Perubahan gaya hidup dan preferensi kerja akibat COVID-19 ini, dan sesudahnya, diawali dengan fase new normal dinilai akan berimbas terhadap pola permintaan konsumen kepada produk sektor properti.

Artikel di atas menampilkan ada penurunan permintaan di sektor perkantoran dan pertokoan retail, namun ada peningkatan untuk sektor logistik atau pergudangan dan mungkin juga pada hunian yang memberi kenyamanan ruang kerja dari rumah.

Meskipun seberapa besar pergeseran ini masih menjadi teka-teki, tetapi prospek investasi pada properti masih terbuka, apalagi untuk hunian yang real demand mengingat backlog yang masih besar. Pemodal, pengembang, pemasar, dan pelaku industri properti lainnya perlu mencermati arah ke mana pergeseran permintaan properti ke depannya.

Sumber: Vibiznews

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Siap Hadapi ‘New Normal’, Pengembang Minta Dukungan Pemerintah

RumahCom - Kebijakan pemerintah untuk menerapkan sistem normalitas baru atau new normal pada di tengah masa pandemi virus corona (Covid-19) ini, disambut positif oleh kalangan pengembang. Hal ini dik

Lanjutkan membacaMei 30, 2020

Nasib Sektor Properti Di Tengah Hadirnya New Normal

RumahCom - Penghitungan ulang target pembangunan rumah saat ini tengah dilakukan oleh Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia. Hal tersebut dinilai efektif dan juga berguna untuk mendukung pencanan

Lanjutkan membacaMei 30, 2020

Tak Selalu Buruk, Krisis Jadi Peluang Untuk Bisnis Properti

RumahCom – Beberapa penggiat properti di Indonesia semakin hari kian optimis dengan hadirnya kebijakan baru dari Pemerintah perihal new normal. Hal tersebut disinyalir karena sebelumnya sektor prope

Lanjutkan membacaJuni 2, 2020

Masukan