REI Mohon Perbankan Cepat Tanggap Soal Pemangkasan Suku Bunga BI

Boy LeonardJuni 23, 2020

REI Mohon Perbankan Cepat Tanggap Soal Pemangkasan Suku Bunga BI

RumahCom.comDPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) mendesak perbankan untuk cepat merespons penurunan suku bunga kredit. Hal ini sejalan dengan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen.

Menurut Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Perbankan, dan Pembiayaan DPP REI Umar Husin, penurunan suku bunga BI7DRRR tentunya angin segar untuk sektor properti.

Umar berharap, kebijakan tersebut bisa menjadi daya topang dan mendorong pertumbuhan ekonomi juga stimulus bagi perbankan dan dunia usaha, termasuk industri properti di masa pandemi Covid-19.

Adapun Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan rumah di pasar primer selama kuartal I/2020 turun signifikan hingga 30,52 persen atau 43,19 persen secara tahunan. Hal ini membuat industri properti membutuhkan amunisi agar dapat bangkit lagi.

“Turunnya suku bunga BI7DRRR dapat menurunkan suku bunga kredit menjadi lebih murah sehingga dapat meringankan beban biaya bagi dunia usaha,” ujar Umar, sebagaimana dikutip dari Bisnis.com, Selasa, 23 Juni 2020.

Sayangnya, Umar menuturkan, penurunan suku bunga acuan kerap kali direspons lambat oleh perbankan. Becermin dari pengalaman selama ini, apabila BI sudah memangkas suku bunga acuan, perbankan tidak serta merta langsung dapat menurunkan suku bunga kreditnya.

Pihaknya pun menyayangkan adanya perbankan yang baru merespons pemangkasan suku bunga BI satu tahun kemudian. Apalagi, ia menambahkan, suku bunga kredit konstruksi saat ini rata-rata masih di atas 10 persen.

Umar menilai, hal ini amat  memberatkan pengembang di tengah bisnis properti yang masih lesu, selian juga tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang masih terhitung tinggi. Bukan cuma itu, perbankan pun belum optimal dalam menyalurkan restrukturisasi kreditnya.

“Mengingat disaat pandemi Covid-19 ini dunia usaha termasuk para pengembang terdampak bisnis usahanya, maka perlu dibantu oleh perbankan dan diberikan stimulus dan relaksasi di kredit,” tuturnya.

Ia mengingatkan, jika bisnis properti tak dapat bergerak, maka ada kurang lebih 174 sektor ikutannya yang bisa terdampak, yang juga meliputi tenaga kerja.

Umar melanjutkan, ada yang tak kalah penting, yakni jika bisnis properti berhenti, maka akan menimbulkan risiko meningkatnya kredit macet atau non-performing loan di perbankan.

Untuk itu, dengan adanya pemangkasan suku bunga REI diharapkan semua pihak mampu bersinergi dan berkolaborasi agar bisa kembali mengakselerasikan dunia usaha, termasuk sektor properti. Dengan begitu roda perekonomian Indonesia akan bergerak dan meningkat meski kini sedang pandemi.

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Pengembang Kawasan Industri Berharap Pada Kesaktian ‘New Normal’

RumahCom – Para pengembang kawasan industri berharap penjualan produknya kembali membaik dan transaksi ikut naik seturut jalannya wacana penerapan kenormalan baru alias ‘new normal’.Erlin Budima

Lanjutkan membacaJuni 22, 2020

Ribuan Paket Proyek Dipercepat Untuk Kurangi Dampak Pandemi

RumahCom – Kementerian PUPR mempercepat penyerapan anggaran untuk bisa menggerakan perekonomian nasional yang terkendala karena pandemi Covid-19. Anggaran Kementerian PUPR akan dimaksimalkan untuk m

Lanjutkan membacaJuni 23, 2020

Pengamat Optimistis Pasar Properti Indonesia Membaik di Kuartal II/2020

RumahCom – Analis properti optimistis pasar properti Tanah Air akan mulai membaik pada kuartal II/2020. Hal ini disebabkan daya beli masyarakat yang bergerak positif."Daya beli masih ada dan institu

Lanjutkan membacaJuni 23, 2020

Masukan