Pengembang Kembali Dorong Pemerintah Keluarkan Relaksasi

September 3, 2020

RumahCom – Kalangan pengembang yang tergabung dalam asosiasi REI kembali mendorong pemerintah untuk mengeluarkan relaksasi dan regulasi untuk mendorong peningkatan sektor properti. Bila pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang tepat, properti bisa dijadikan andalan untuk peningkatan perekonomian nasional.

Pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia selama enam bulan ini membuat kalangan pengembang melakukan banyak penyesuaian untuk tetap bisa membukukan penjualan. Kendati situasinya sudah lebih baik dibandingkan masa awal-awal pandemi, secara umum bisnis properti belum bisa dikatakan membaik terlebih jauh sebelum adanya pandemi sektor ini pun tengah menghadapi pelemahan bisnis yang cukup dalam.

Karena itu kalangan pengembang kembali menyuarakan masukannya untuk kalangan pemerintah segera memberikan relaksasi dan regulasi untuk mendorong sektor padat modal ini segera bergerak. Terlebih pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyatakan sektor properti merupakan leading sector untuk percepatan pemulihan perekonomian dengan banyaknya sektor ikutan di belakang industri properti.

Menurut Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Bidang Tata Ruang dan Pengembangan Kawasan Hari Ganie, hingga saat ini asosiasi pengembang yang tergabung di dalam REI masih terus aktif melakukan pendekatan kepada pemerintah untuk kembali memberikan relaksasi  pajak untuk menggairahkan sektor ini.

“Kami kembali mengusulkan supaya pemerintah menghapus dulu beberapa pajak  seperti PPh 21, pengurangan PPh Badan, penurunan PPh Final sewa dari 10 persen menjadi 5 persen, hingga penurunan PPh Final transaksi dari 2,5 persen menjadi 1 persen berdasarkan nilai aktual transaksi dan bukan berdasarkan nilai jual obyek pajak (NJOP),” katanya.

Selain itu, untuk mendorong beberapa sub sektor properti seperti pusat ritel, pusat perbelanjaan, maupun mal, Hari juga mendorong agar pemerintah dan pemerintah daerah memberikan keringanan pajak daerah. Keringanan ini bisa dari pemotongan nilai, penundaan pembayaran, atau penghapusan seiring sepinya pusat komersial saat situasi pandemi ini.

Ketika sudah memutuskan beli rumah, penting untuk perhatikan pengembang perumahan tersebut. Seperti apa pengembang yang terpercaya? simak di video berikut ini!

Termasuk pengurangan biaya maupun pajak untuk sektor hotel dan perkantoran agar diberikan stimulus oleh pemerintah misalnya untuk pengurangan biaya listrik maupun PDAM. Sebagai asosiasi pengembang, REI juga telah berkirim surat secara resmi kepada Kantor Kepresidenan, Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) terkait berbagai usulan ini.

Sebelum ada pandemi Covid-19 atau periode lima tahun ke belakang, sektor properti telah mengalami pelemahan yang trennya terus menurun selama periode itu. Pada periode akhir tahun 2019 lalu sudah mulai ada tren peningkatan tapi langsung terpukul kembali oleh adanya pandemi Covid-19 ditambah dengan pemberlakukan pembatasan sosial berksala besar (PSBB) yang membuat banyak kantor marketing tutup dan tidak ada transaksi penjualan.

Sementara itu kalangan pengembang tetap harus mengeluarkan berbagai biaya operasional termasuk menggaji tenaga marketing. Secara akumulatif, penurunan yang terjadi untuk penjualan sektor hunian komersial mencapai 50 persen, perkantoran turun 70-75 persen, mal 80 persen, dan yang terparah sektor perhotelan anjlok hingga 90-95 persen.

Dari sisi daya beli masyarakat juga terjadi penurunan sehingga ada pergeseran segmen dari sisi pricing-nya. Data REI menyebutkan, daya beli untuk segmen Rp1 miliar menjadi turun ke Rp500 juta, segmen Rp500 juta turun jadi Rp300 juta, dan ini yang membuat segmen di bawah Rp300 juta atau perumahan bersubsidi untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menjadi laku keras. Ini juga yang membuat banyak pengembang besar akhirnya mengubah segmen market ke perumahan untuk segmen MBR.

“Selama ini pemerintah melihat properti sebagai sektor yang glamor karena yang dilihat hanya segelintir pengembang besar padahal mayoritas anggota REI dari kalangan pengembang menengah ke bawah. Properti ini menggunakan 100 persen konten lokal dan menyerap tenaga kerja langsung mencapai 19 juta tapi kontribusi terhadap PDB negara baru 2,7 persen. Dengan relaksasi maupun regulasi yang bagus, untuk ditingkatkan menjadi PDB 10 persen sangat mudah bagi sektor ini,” pungkas Hari.

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Mau Rumah Lebih Sehat, Pastikan Cross Ventilation

RumahCom – Desain rumah sangat penting untuk menunjang seluruh penghuni menjadi lebih sehat khususnya pada masa pandemi Covid-19. Sirkulasi udara yang baik menjadi hal esensial untuk membuat rumah m

Lanjutkan membacaSeptember 2, 2020

Pemerintah Upayakan Sinkronisasi Program Pembangunan Pusat-Daerah

RumahCom – Kementerian ATR/BPN menjadi salah satu instantsi penting untuk mewujudkan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan pusat-daerah di era otonomi. Proses pembangunan kerap terkendala karena k

Lanjutkan membacaSeptember 2, 2020

Bisnis Properti Singapura Tetap Kuat Berkat Orang Indonesia

RumahCom – Bisnis properti di Singapura masih tergolong tangguh. Salah satu faktornya adalah orang Indonesia. Mengapa bisa?Warga Indonesia termasuk orang asing yang berperan penting menggerakkan pas

Lanjutkan membacaSeptember 2, 2020

Kini Konsumen Pertimbangkan Peran Manajemen Properti

RumahCom – Konsumen semakin merasa manajemen properti perlu hadir saat ini karena kondisi pandemi Covid-19.Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto menyatakan, hal in

Lanjutkan membacaSeptember 2, 2020

Masukan