Properti Sepekan: Investasi di Sektor Properti Meningkat, Harga Sewa Perkantoran Turun

Wahyu ArdiyantoFebruari 8, 2021

8 Bank Pembangunan Daerah Menjadi Penyalur Dana FLPP

8 Bank Pembangunan Daerah Menjadi Penyalur Dana FLPP

Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun 2021 akan didukung delapan Bank Pembangunan Daerah tambahan sebagai penyalur dana bantuan. BPD Sulselbar, Bank Sulselbar Syariah, BPD Papua, BPD Jateng, Bank Jateng Syariah, BPD Sulteng, BPD Kaltara, serta BPD

Kalteng telah melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Lembaga Kementerian PUPR ini mendapatkan target penyaluran FLPP tahun 2021 sebesar Rp19,1 triliun untuk membiayai sebanyak 157.000 unit rumah. Delapan bank yang didominasi wilayah luar Pulau Jawa ini siap mendukung para konsumen properti untuk mewujudkan impian memiliki rumah sendiri.

“Menurut data kami, area yang paling diminati di luar pulau Jawa sepanjang tahun 2020 adalah Sumatera, dengan Kepulauan Riau sebanyak 14%, Riau 10%, dan Sumatera Selatan 5%,” ujar Marine Novita, Country Manager Rumah.com. Sedangkan pencarian untuk kategori rumah di bawah Rp300 juta di luar pulau Jawa sepanjang tahun 2020 tercatat sebesar 20% jika dibandingkan pencarian dengan kisaran harga lainnya.

Investasi di Sektor Properti Meningkat

Investasi di Sektor Properti Meningkat

Angka investasi di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran pada 2020 itu meningkat bila dibandingkan dengan 2019.

Investasi di sektor properti di Indonesia sepanjang 2020 meningkat 7,45 persen di tengah pandemi Covid-19. Dikutip dari Bisnis.com, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan sepanjang tahun lalu, realisasi investasi di sektor properti yang mencakup perumahan, kawasan industri, dan perkantoran mencapai Rp76,4 triliun.

Angka investasi di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran pada 2020 itu meningkat bila dibandingkan dengan 2019 yang mencapai Rp71,1 triliun. Bahlil mengungkapkan bahwa tahun 2021 diprediksi lebih ringan dibandingkan dengan 2020 karena vaksin sudah mulai berjalan dan adanya UU Cipta Kerja, serta persepsi global sudah mulai bagus.

Tahun 2020 menjadi tahun yang dinamis sekaligus menjadi ujian terhadap keuletan para pelaku industri properti nasional. Sempat digadang-gadang sebagai tahun kebangkitan sektor properti, pandemi COVID-19 membuat optimisme di tahun 2020 meluntur. Meski demikian, pasar berangsur pulih di penghujung tahun. 

“Proses adaptasi dengan kenormalan baru berjalan cukup lancar. Sejumlah pengembang tetap mampu mencatatkan keuntungan, beberapa bahkan tak ragu melakukan peluncuran proyek-proyek hunian baru. Ini pula yang membuat tren suplai properti meningkat pada kuartal ketiga 2020. Jika tren ini berlanjut, pasar properti 2021 akan lebih prospektif dibandingkan 2020,” ujar Marine.

Harga Sewa Perkantoran Menurun

Harga Sewa Perkantoran Menurun

Kebijakan perusahaan seperti memperketat dan mengalokasikan pengeluaran untuk hal-hal yang sifatnya prioritas juga berkontribusi terhadap turunnya harga sewa.

Pasar sewa perkantoran semakin melemah. Banyak unit perkantoran tak terserap karena oversupply, sejak tahun 2015, dan semakin diperparah dengan wabah Covid-19, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Dikutip dari Kontan, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan bahwa banyak perusahaan yang memperketat dan mengalokasikan pengeluarannya untuk hal-hal yang sifatnya prioritas.

Mereka kemudian menunda ekspansi pembukaan kantor baru. Di kawasan central business district (CBD) Jakarta, rata-rata harga sewa terus turun 7 persen secara tahunan dari 2019, menjadi sebesar Rp 257.532 per meter persegi per bulan. Sebelumnya pada 2019, harga sewa turun sekitar 3 persen dibanding periode yang sama tahun 2018.

Dari data Property Market Outlook 2021, sepanjang tahun 2020 pasar sewa perkantoran di Jabodetabek didominasi DKI Jakarta sebanyak 93,9%. Sementara Tangerang Raya mencapai 5,1%, Bogor hanya 0,4%, Bekasi sejumlah 0,5% dan Depok sebesar 0,1%.

“Lebih spesifik lagi, tiga kawasan perkantoran  yang paling banyak dicari adalah area kawasan premium di Jakarta Selatan seperti Sudirman, Gatot Subroto, dan Kuningan. Ketiganya memang didukung akses transportasi yang sangat baik dan dikenal sebagai lokasi bisnis bergengsi di jantung ibukota,” tambah Marine.  

Pencarian ruang sewa perkantoran pun didominasi harga sewa di bawah 300 Juta sebesar 97,5%. Untuk rentang harga 300 juta – 750 juta mencapai 1,8%. Ruang sewa pada rentang harga 750 juta – 1 Miliar sebesar 0,1%. Sementara untuk harga sewa 1 Miliar – 1,5 Miliar dan 1,5 Miliar-4 Miliar hanya sebesar 0,2% dan 0,3%. 

Kualitas Rumah Terus Diawasi Pemerintah

Kualitas Rumah Terus Diawasi Pemerintah

Terkait kualitas rumah, terdapat lima komponen struktur pemeriksaan yakni fondasi, sloof, kolom, ring balok dan rangka atap.

Untuk memberikan perlindungan konsumen kepada MBR, Kementerian PUPR terus meningkatkan pengawasan terhadap kualitas rumah melalui rapid assessment terhadap 1.003 unit rumah di 76 proyek perumahan yang tersebar di 11 provinsi pada November 2019 – Januari 2020. Dikutip dari Liputan6, terdapat lima komponen struktur pemeriksaan yakni fondasi, sloof, kolom, ring balok dan rangka atap.

Hasilnya, terdapat rumah yang belum memenuhi persyaratan standar konstruksi. Menindaklanjuti hal tersebut, Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan menyelenggarakan bimbingan teknis kepada pihak terkait dan menegur 37 pengembang yang membangun rumah tidak sesuai standar kualitas.

Selama masa Pandemi COVID-19 bantuan pembiayaan perumahan terus berjalan dengan memanfaatkan sistem informasi dalam penyaluran KPR subsidi perumahan di antaranya melalui aplikasi SiKasep (Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan) dan Sikumbang (Sistem Informasi Kumpulan Pengembang).

Consumer Sentiment Index H1 2021 berada pada angka 57, atau naik dari periode sebelumnya yang berada pada angka 54. Kenaikan ini menunjukkan bahwa konsumen properti merasa puas dengan iklim properti, kebijakan pemerintah, dan suku bunga.

Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang beragam. Sebanyak 52% mengaku menunda proses pembelian properti. Namun angka ini turun dibandingkan periode sebelumnya sebesar 60%. Responden juga menghindari properti di zona merah COVID-19. Sementara itu, responden menjadi semakin sadar dan terdorong untuk memiliki rumah sendiri setelah menghabiskan lebih banyak waktu di rumah di masa pandemi ini.

Mau cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya lewat AreaInsider.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

15 Bank dengan Suku Bunga KPR Rendah Per Juni 2021

RumahCom – Di bulan Juni 2021, ada beberapa bank yang menawarkan suku bunga KPR rendah. Bagi Anda yang berencana membeli rumah dengan KPR, kesempatan bagus ini tentu sayang jika dilewatkan begitu s

Lanjutkan membacaJuni 7, 2021

Simak Lima Area Prospektif di Jakarta Tahun Ini

RumahCom – Pasar properti Jakarta memang seakan tak pernah habis untuk dibahas. Kendati harga tanah di Ibukota terpaut lebih tinggi dibanding kawasan sub-urban, tetap saja pencari properti termasuk

Lanjutkan membacaFebruari 3, 2021

Properti Sepekan: Dana Taperum Cair, Harga Rumah Subsidi Tidak Naik

Dana Taperum Cair. PNS dan Pensiunan Bisa Beli atau Renovasi RumahDana Tabungan Perumahan (Taperum) bagi 367.740 PNS pensiun atau ahli waris telah dicairkan oleh BP Tapera bekerja sama dengan PT Taspe

Lanjutkan membacaFebruari 3, 2021

Kubisme, Art Deco, dan Skandinavia: Mengapa Tren Arsitektur Ikonik ini Kembali Popular

Tren memang datang dan pergi, tetapi desain yang abadi akan tetap adaTren biasanya menunjukkan preferensi orang pada periode waktu tertentu, baik dalam seni, budaya pop, teknologi, atau gerakan sosial

Lanjutkan membacaFebruari 5, 2021

Masukan