Hunian MBR Bisa Dibangun Di Tengah Kota, Seperti Ini Konsepnya

Juli 29, 2021

RumahCom – Sebuah kota harus bisa memenuhi dan menampung seluruh segmen masyarakatnya. Karena itu kalangan MBR juga hasur bisa difasilitasi akses hunian sehingga tidak semakin terpinggirkan ke daerah-daerah pinggiran yang menyebabkan urban sprawling semakin tidak terkendali.

Perkembangan sebuah kawasan akan terus terjadi yang ditandai dengan pesatnya sebuah wilayah dengan berbagai sarana akses jalan, fasilitas komersial, dan lainnya. Hal ini membuat harga properti terus terkerek dan perkembangan selanjutnya terjadilah urban sprawling atau fenomena perkembangan kawasan perkotaan yang terus meluas ke berbagai daerah pinggirannya.

Situasi ini membuat kalangan dengan daya beli rendah akan semakin terpinggirkan untuk fasilitas huniannya karena daya belinya tidak akan sanggup untuk mengakses hunian di perkotaan. Hal itulah yang membuat kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) semakin jauh sarana huniannya dari pusat kota.

Pada akhirnya kalangan MBR ini harus mengeluarkan alokasi biaya transportasi yang lebih besar untuk menuju ke tempat kerja maupun pusat-pusat aktivitasnya. Menurut Ketua Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota Institut Teknologi Bandung (KKPPK ITB) Haryo Winarso, saat ini pusat-pusat hunian untuk segmen MBR dipastikan jauh dari berbagai sarana infrastruktur maupun fasilitas kota.

“Tanah yang semakin terbatas dan mendorong kenaikan harga yang tidak terkendali membuat kalangan MBR akan terus semakin jauh dan terpinggirkan untuk sarana huniannya. Pembangunan kota-kota baru maupun township yang dilakukan oleh pengembang besar juga dipastikan tidak akan menyediakan porsi untuk MBR ini,” ujarnya.

Karena itu Haryo mengusulkan sebuah kawasan hunian dengan konsep socio-capitalism yaitu pembangunan yang tidak hanya memerhatikan hukum supply-demand atau permintaan dan persediaan saja tapi juga kebutuhan khusus untuk mewadahi segmen MBR ini.

Untuk itu setiap pembangunan sebuah kawasan harus diintegrasikan dengan berbagai kantor pemerintahan maupun pusat bisnis dan fasilitas lainnya. Misalnya, di setiap kantor kecamatan maupun dinas-dinas bisa dibuat hunian untuk segmen MBR yang berupa vertikal ataupun lowrise building sehingga dekat dengan berbagai sarana kota maupun bisa dijangakau dengan transportasi umum yang lebih mudah.

Lebih teknis lagi, hunian untuk segmen MBR ini bisa dibangun dengan beberapa tipe sesuai kebutuhan. Misalnya tipe studio berukuran 21 m2 untuk segmen pekerja muda yang masih single. Kemudian  tipe 36 m2 untuk keluarga muda dengan 1-2 orang anak hingga tipe 45 m2 untuk keluarga dengan anak yang lebih banyak.

KKPPK ITB juga telah membuat perhitungan, untuk wilayah Jakarta dengan fasilitas pemerinntah yang memiliki lahan minimal 10.000 m2 tersedia di 68 titik yang bisa digunakan. Seluruhnya berlokasi di tengah kota dan bisa dibuat untuk 672 unit hunian berupa lowrise building. Ke-68 lokasi ini bila terbangun semua maka bisa menyediakan 45.696 unit public housing yang bisa digunakan untuk  kalangan MBR.

Bentuk bangunannya vertikal dengan pembagian 1-2 lantai untuk komersial, lantai 3-4 untuk kantor layanan pemerinitah, dan lantai lima ke atas untuk hunian MBR. Konsep ini bisa dibangun di atas lahan milik pemerintah daerah maupun pusat dan MBR membayar sewa sehingga tanahnya tetap dimiliki oleh pemerintah.

“Nanti untuk pengelolaannya bisa diserahkan ke Perumnas yang memang memiliki keahlian untuk itu. Konsep ini bisa menjadi solusi untuk masyarakat yang kesulitan hunian dan menjadi lebih efektif dan efisien karena bisa dekat dengan tempat kerjanya. Kalau konsep ini dilakukan bisa mempercepat penyelesaian backlog perumahan juga,” jelasnya.

Masih bingung cara menghitung bunga KPR? temukan jawabannya di video berikut ini, yuk!

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

KIRIM KOMENTAR

Anda juga mungkin menyukai beberapa artikel ini

Dalam Setiap Proses Pembangunan Harus Memerhatikan Geologi Teknik

RumahCom – Setiap pembangunan harus memerhatikan faktor geologi teknik karena Indonesia merupakan kawasan yang dikelilingi lempeng aktif dan kawasan vulkanik sehingga sangat rawan bencana. Geologi t

Lanjutkan membacaJuli 28, 2021

Bukan Tipe Atau Klaster Baru, Pengembang Ini Luncurkan Township Baru

RumahCom – Kalangan pengembang tetap confident menjalankan berbagai aksi bisnis saat situasi pandemi Covid-19. Paramount Land bersiap untuk meluncurkan township baru di kawasan Bitung, Tangerang, ya

Lanjutkan membacaJuli 28, 2021

Tangguh, Properti Masih Tumbuh Saat Pandemi

RumahCom – Diantara sektor bisnis yang lain, sektor properti masih mencatatkan pertumbuhan yang positif saat perekonomian terkendala pandemi Covid-19. Pasar yang besar hingga pertumbuhan populasi ke

Lanjutkan membacaJuli 28, 2021

Kinerja Penjualan Rumah Tapak Baik, Pengembang Terus Buka Klaster Baru

RumahCom – Pengembang masih akan terus meluncurkan klaster-klaster baru dengan terus meningkatnya permintaan akan rumah tapak. Pengembang APL menjadi salah satu developer yang kinerja penjualannya m

Lanjutkan membacaJuli 28, 2021

Bundling Promo Pengembang-Perbankan Bikin Penjualan Rumah Tetap Meningkat Saat Pandemi

RumahCom – Kerja sama perbankan dan pengembang terus dilakukan sehingga bisa dikeluarkan berbagai kemudahan cara bayar seperti yang dilakukan Bank BTN dan Savasa Cikarang. Program kemudahan yang dit

Lanjutkan membacaJuli 29, 2021

Masukan