Jakarta, 27 Juni 2019 – Kebijakan pemerintah menerapkan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah-sekolah negeri menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Dalam sistem zonasi, pertimbangan utama pihak sekolah untuk menerima calon peserta didik adalah kedekatan jarak antara sekolah dengan rumah.

Kebijakan ini diadakan pemerintah untuk berusaha membentuk sistem pendidikan yang adil bagi seluruh anak Indonesia dengan melakukan pemerataan kualitas pendidikan sehingga meniadakan sekolah favorit. Kebijakan baru ini cukup membuat kontroversi ini karena selama ini masyarakat selalu memilih sekolah favorit bagi anak mereka tanpa mempertimbangkan kedekatan jarak tempat tinggal dengan sekolah.

Fakta tersebut juga terungkap dari hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019, dimana 5 besar faktor pertimbangan dalam membeli properti, kedekatan jarak rumah ke sekolah tidak menjadi pertimbangan utama. Survei berkala ini dilaksanakan oleh Rumah.com sebagai pemimpin pasar properti portal di Indonesia untuk mengikuti secara langsung perkembangan yang terjadi di pasar, diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Rumah.com bekerjasama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura.

Survei ini diikuti oleh 1000 responden dari kota-kota di seluruh Indonesia dimana sebanyak 69% responden berasal dari rentang usia milenial (22-39 tahun) yang terdiri dari 34% milenial muda (kelahiran 1990-1997), sedangkan 35%-nya adalah milenial tua (kelahiran 1982-1989).

ZOnasi Sekolah IMG2

Lebih banyak pencari properti yang mempertimbangkan jarak ke fasilitas transportasi umum, ketimbang ke sekolah.

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan menjelaskan bahwa mengacu pada hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan responden saat memilih rumah yang cocok. Di antara pertimbangan-pertimbangan tersebut, jarak ke fasilitas transportasi umum menjadi pertimbangan responden terbanyak, yakni sebesar 76 persen.

Kemudian disusul dengan jarak ke tempat kerja, kedekatan ke sarana kesehatan, masing-masing sebesar 47 persen dan 43 persen. Kedekatan jarak antara rumah dengan sekolah belum menjadi pertimbangan utama karena sistem zonasi sekolah baru diterapkan setahun terakhir ini sehingga orang tua bisa bebas menyekolahkan anaknya di sekolah yang selama ini favorit tanpa harus memiliki kedekatan jarak dengan sekolah tersebut.

“Pertimbangan jarak dan lingkungan yang menjadi pertimbangan utama tersebut berkaitan dengan kelompok usia responden yang berencana membeli rumah dalam enam bulan ke depan, yakni usia 21-39 tahun. Usia ini merupakan usia produktif dan akan atau berkeluarga kecil, sehingga mobilitas dan lingkungan yang ramah anak-anak jadi pertimbangan utama.

Selain itu mereka belum terlalu memikirkan pendidikan lanjutan bagi anak-anak mereka untuk jenjang SMP dan SMA sehingga kedekatan rumah dengan sarana pendidikan belum termasuk jadi pertimbangan utama,” kata Ike.

Kebijakan sistem zonasi saat ini terutama diterapkan untuk sekolah negeri jenjang SMP dan SMA. Sehingga jika melihat perjalanan hidup seseorang secara umum, kebijakan ini memang baru akan berdampak ketika mereka berusia 35-40 tahun ke atas dan memiliki anak usia sekolah tingkat lanjut. Sangat mungkin belum terbayang untuk mereka yang baru membeli rumah pertama kali di usia yang relatif masih muda, misal 25-30 tahun, untuk memikirkan tentang kedekatan rumah dengan sekolah yang diinginkan.

Dengan demikian, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah ini. Pertama yang wajib dilakukan adalah mempelajari area rumah baru tersebut. Sangat dianjurkan untuk melakukan pengecekan mengenai rencana tata kota daerah yang bersangkutan. Pengenalan mengenai daerah juga bisa ditemukan melalui fitur AreaInsider di Rumah.com.

Hal kedua yang perlu dipertimbangkan adalah seseorang tidak harus tinggal di rumah yang sama seumur hidupnya. Mereka bisa mempertimbangkan untuk melakukan upgrade atau pindah rumah pada saat membutuhkannya. Dalam kasus ini, ketika anak-anak sudah berusia sekitar 9-10 tahun, mereka bisa upgrade atau pindah ke daerah di mana sekolah incaran tersebut berada.

Dengan demikian, orang tua anak bisa mengurus sesuai prosedur yang berlaku bila sistem zonasi sekolah tetap diberlakukan. Anak-anak pun bisa beradaptasi dulu dengan lingkungan barunya sebelum memutuskan sekolah mana yang nantinya akan diambil.

Kondisi ini juga selaras dengan hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019 lainnya, dimana responden pada kelompok usia 21-39 tahun cenderung untuk lebih memilih properti baru. Pada kelompok usia 21-29 tahun, 55 persen responden memilih untuk membeli properti yang masih baru sedangkan kelompok usia 30-39 tahun, 65 persen responden juga memilih membeli properti baru.

ZOnasi Sekolah IMG3

Mayoritas pencari properti masih mengincar rumah baru, namun tak sedikit pula yang tak keberatan dengan rumah seken atau rumah bekas.

Properti baru memang masih menjadi idaman para responden. Namun, hampir separuh dari total responden mengaku tak bermasalah membeli properti seken. Bagi responden ini, kedekatan dengan sarana-sarana penunjang seperti transportasi umum, pendidikan, kesehatan, dan perbelanjaan tampaknya lebih penting ketimbang kondisi rumah itu sendiri.

Berdasarkan usia, kalangan milenial adalah kalangan yang paling resisten terhadap rumah seken. Total, 61 persen dari kalangan milenial hanya menghendaki rumah baru, hanya 39 persen yang tak keberatan dengan rumah seken. Sebaliknya, dari kelompok umur yang lebih tua (40-59 tahun), hanya 34 persen yang hanya menginginkan rumah baru.

Namun perumahan baru yang ada saat ini biasanya memang memiliki lokasi yang relatif jauh dari sekolah-sekolah negeri sehingga akan menyulitkan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah negeri pilihan mereka jika tidak masuk ke area sistem zonasi sekolah tersebut.

Oleh karena itu, survei langsung ke lokasi properti idaman penting untuk dilakukan. Selain bisa mengetahui langsung kondisi lingkungan perumahannya, fasilitas dan potensi sekitar, konsumen juga bisa mengukur jarak tempuh dan mempelajari akses transportasi dan fasilitas umum yang ada. Untuk tips dan panduan mencari rumah yang lebih komprehensif bisa dengan mengunjungi www.rumah.com/panduan.

Selain itu untuk mengetahui informasi seputar infrastruktur wilayah hunian yang menjadi incaran para pencari properti, Rumah.com juga menyediakan konten AreaInsider, bisa diakses melalui   www.rumah.com/areainsider yang mengulas perkembangan terkini sebuah wilayah, mulai dari fasilitas umum, infrastruktur, prospek properti, hingga fakta-fakta unik lain yang tidak banyak diketahui masyarakat.

“Harus diakui, kebijakan zonasi sekolah akan mempengaruhi industri properti karena bisa memicu kebutuhan akan hunian di sekolah-sekolah yang selama ini menjadi favorit masyarakat. Dengan memiliki hunian di dekat sekolah pilihan akan memudahkan para penghuninya mendapatkan akses pendidikan terbaik,” pungkas Ike.

---- selesai -----

 

Tentang Rumah.com

Rumah.com adalah portal properti terdepan di Indonesia. Bersama dengan kelompok usaha secara keseluruhan, portal ini terpilih sebagai Asia’s Most Influential Brand for Online Property Search oleh konsumen pada 2016. Rumah.com juga merupakan meraih penghargaan The Best in Experiential Marketing dalam ajang Marketing Award 2017. Rumah.com membantu lebih dari 5,5 juta orang dalam mencari dan menemukan rumah idaman mereka di Indonesia – setiap bulan.

Perusahaan juga mengoperasikan platform teknologi pemasaran proyek terkemuka, ePropertyTrack, dan menyelenggarakan berbagai program yang telah diakui dalam industri properti, seperti publikasi, event dan penghargaan. Aplikasi mobile yang telah memenangkan 4 penghargaan telah diunduh oleh lebih dari 1 juta pengguna hingga saat ini. Beroperasi di Indonesia, bersama dengan RumahDijual.com, Rumah.com memimpin perolehan market share sebesar 50% dari seluruh pangsa pasar online properti di Indonesia (data SimilarWeb per Maret 2018).

Rumah.com adalah bagian dari PropertyGuru group, perusahaan properti online terbesar di Asia.

Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi Rumah.com.

 

Tentang PropertyGuru Group

 PropertyGuru Group adalah perusahaan properti online terkemuka di Asia dan tujuan bagi lebih dari 25 juta pencari properti untuk menemukan rumah idaman mereka, setiap bulannya. PropertyGuru dan jaringan perusahaannya memberdayakan pencari properti dengan opsi terluas lebih dari 2 juta rumah, wawasan yang mendalam tentang hunian dan solusi yang memungkinkan mereka untuk membuat keputusan properti yang meyakinkan di Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Vietnam.

 

PropertyGuru.com.sg diluncurkan pada 2007 dan merevolusionerkan pasar properti Singapura secara online dan membuat membuat pencarian properti menjadi lebih transparan. Selama satu dekade, grup ini telah berkembang dari kekuatan media properti regional menjadi perusahaan teknologi yang berkembang pesat dengan portofolio yang kuat dari portal properti No.1, aplikasi seluler pemenang penghargaan; platform pemberdayaan penjualan pengembang terbaik di kelasnya, ePropertyTrack dan sejumlah aktivitas properti terkemuka di industri seperti awards, event, dan publikasi - di sebelas negara di Asia.

Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi www.propertyguru.com

PropertyGuru Group of Websites:

Indonesia            : Rumah.com | RumahDijual.com

Singapore            : PropertyGuru.com.sg | CommercialGuru.com.sg

Malaysia              : PropertyGuru.com.my

Thailand              : DDproperty.com

Vietnam              : Batdongsan.com.vn

Asia                      : AsiaPropertyAwards.com | Property-Report.com | ePropertyTrack.com

 

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi:

Ike N. Hamdan                                                                             Heru Widodo

Head of Marketing, Rumah.com                                                  Mediatrust PR

Email      : ikehamdan@rumah.com                                              Email      : heru@mediatrustpr.com

Telp        : 021 – 80681008                                                           Telp        : 021 – 5367 5807