Cerita Rumah Amel: Harga Rumah Tinggi Pilih Bangun Sendiri, Beli Tanah Miring dengan Harga Miring

Wahyu Ardiyanto
Cerita Rumah Amel: Harga Rumah Tinggi Pilih Bangun Sendiri, Beli Tanah Miring dengan Harga Miring
“Rumah adalah tempat yang memberikan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan,” – Cerita Rumah Amel
Nekad membeli atau membangun rumah dapat dimotivasi oleh banyak hal. Seperti halnya Amelisa dan suami, Rizani yang nekad membangun rumah lebih cepat dari rencana karena tak bisa memperpanjang kontrak rumah.
Kavling tanah di Cilengkrang, Bandung yang telah mereka beli ketika awal pindah ke Bandung segera diputuskan untuk dibangun tanpa kontraktor, tanpa artistek, mereka desain sendiri. Dengan dana yang terbatas, mereka menerapkan konsep rumah tumbuh supaya pembangunan bisa dilakukan secara bertahap.
Gioia dalam bahasa Italia berarti sukacita. Kata tersebut dipilih pasangan ini untuk nama rumah mungil mereka yang berada di dataran tinggi Bandung. Harapannya, rumah yang memiliki akun Instagram @gioia.house ini bisa memberi kebahagiaan bagi yang tinggal maupun yang berkunjung ke rumah ini.
Mau punya rumah di Kawasan Bandung yang lokasinya strategis, view yang bagus, dan udara yang masih segar seperti rumah Amel? Temukan pilihan huniannya di bawah Rp1 miliar di sini!

Cerita Rumah Amel: Harga Rumah di Bandung Tinggi, Beli Tanah Jadi Solusi

Cerita Rumah Amel: Harga Rumah di Bandung Tinggi, Beli Tanah Jadi Solusi
Setelah Amel ikut suami pindah ke Bandung, mereka mengontrak rumah. Pencarian tanah untuk membangun rumah impian pun mereka lanjutkan.
Sama-sama berasal dari Jambi, setelah menikah, Amel ikut merantau dengan Riza yang bekerja di Bandung. Sebelum pindah, mereka memang berencana membeli rumah di Bandung. Setelah mencari-cari rumah di sana, ternyata harga rumahnya sudah terbilang tinggi, melebihi dana yang telah mereka siapkan. Niat membeli rumah terpaksa mereka batalkan.
“Kami ingin membeli rumah, tapi kalau harus mengambil KPR, kami nggak sanggup memikirkan cicilannya yang sampai 15-20 tahun. Jadi kami siapkan tabungan khusus yang disisihkan dari penghasilan agar impian punya rumah sendiri bisa diwujudkan. Kebetulan sewaktu mau menikah, saya resign dari perusahaan BUMN dan mendapatkan uang jasa yang bisa dipakai buat tambahan dana membeli rumah. Itupun masih belum cukup buat membeli rumah yang kami inginkan,” ungkap Amel .
Akhirnya rencana membeli rumah siap huni dialihkan membeli tanah kavling terlebih dulu, apalagi harganya memang lebih terjangkau dana yang ada. Pertimbangannya, mereka dapat memiliki rumah secara bertahap sesuai ketersediaan dana. Jika sudah punya tanah, pembangunan rumah tinggal dieksekusi apabila dana untuk membangunnya telah tersedia.
“Sewaktu pacaran, Rizan sudah tinggal dan tugas di Bandung, sementara saya masih tinggal di Jambi. Pencarian informasi rumah dan tanah yang dijual saya siasati secara online seperti lewat laman listing properti di jual di Rumah.com. Kalau ada yang ingin disurvei, Rizan yang lakukan karena tinggal di sana,” papar Amel.
Kriteria tanah yang mereka cari diprioritaskan terletak di lokasi yang tak jauh dari pusat kota Bandung dan tempat kerja suami Amel, dan tentunya harga yang terjangkau. Namun, tanah yang mereka cari belum berhasil ditemukan sampai mereka menikah.
Setelah Amel ikut suami pindah ke Bandung, mereka mengontrak rumah. Pencarian tanah untuk membangun rumah impian pun mereka lanjutkan. “Kami naik motor keliling mencari-cari tanah dijual. Ada yang harganya terjangkau, tapi lokasinya jauh dan akses jalannya macet dari tempat kerja suami. Kalaupun ada yang lokasinya seperti keinginan kami, tapi harganya mahal,” jelas pemilik usaha clothing ini.

Cerita Rumah Amel: Beli Tanah Kavling Berkontur Miring, Harga Ikutan Miring

Cerita Rumah Amel: Beli Tanah Kavling Berkontur Miring, Harga Ikutan Miring
Setelah dibangun rumahnya jadi kelihatannya besar karena tampak depan lebih lebar, padahal rumahnya mungil.
Hasil pencarian mereka berakhir di kompleks kavling yang terletak tak jauh dari rumah kontrakan mereka. Lokasinya strategis, namun harganya cukup terjangkau. Selain karena tanahnya tidak terlalu luas, kontur tanahnya miring yang membuat harganya jadi ikutan miring dibandingkan tanah datar.
“Luas tanahnya hanya 70 meter persegi, tetapi insya Allah cukup. Kekurangannya adalah berada di lahan yang miring sehingga perlu pondasi yang cukup dalam. Tapi yang membuat kami jatuh cinta sama tanah ini karena berada di dataran tinggi sehingga view-nya langsung menghadap kota Bandung dan udaranya masih sejuk,” jelas Amel.
Namun Amel dan suami harus ambil keputusan cepat karena tanah incaran mereka hanya tersisa beberapa kavling saja. Ada dua pilihan kavling di kompleks tersebut yang menjadi pertimbangan mereka. Meskipun sama-sama memiliki luas 70 meter persegi, namun satu lahan lebar 4,8 meter persegi yang memanjang ke belakang, sedangkan satunya lagi dengan lebar 7,6 meter persegi.
Lagi cari rumah, ruko, apartemen, atau investasi properti? Pahami potensi wilayahnya mulai dari fasilitas, infrastruktur, hingga pergerakan tren harganya pada laman AreaInsider
“Kami hampir ambil yang lebar 4,8 meter persegi, tapi Papa saya sarankan yang 7,6 meter persegi saja biar kelihatan lebih lega, dan ternyata benar. Setelah dibangun rumahnya jadi kelihatannya besar karena tampak depan lebih lebar. Padahal rumah ini mungil,” ujar penyuka dekorasi rumah dan bercocok tanam ini.
Hanya butuh waktu dua minggu untuk proses pembelian tanah yang harganya tidak sampai 30 persen dibandingkan harga pasaran beli rumah jadi. Untuk pembayaran langsung ke sang pemilik secara tunai bertahap, 50 persen di awal, sisanya diberi waktu maksimal 3 tahun untuk pembayarannya. Juni 2020, empat bulan setelah kepindahan Amel ke Bandung, tanah tersebut telah sah menjadi miliknya.
“Setelah beli tanah, kami tidak langsung bangun rumah. Rencana kami sekitar empat tahun baru bangun rumah. Kami harus mengumpulkan dananya dulu, karena kami juga tidak berani ambil Kredit Bangun Rumah,” jelas Amel.

Cerita Rumah Amel: Ditolak Perpanjang Kontrakan, Bangun Rumah Tumbuh Jadi Pilihan

Cerita Rumah Amel: Ditolak Perpanjang Kontrakan, Bangun Rumah Tumbuh Jadi Pilihan
Sementara menunggu rumah selesai dibangun, Amel meminta perpanjangan kontrak rumah sampai 3 bulan, sesuai estimasi rumah selesai dibangun.
Setelah dua tahun kontrak rumah, tiba-tiba Amel dan suami tidak bisa memperpanjang kontrakannya. Terbayang perjuangannya harus mencari-cari kontrakan baru. Hingga mereka putuskan untuk segera membangun rumah di aset tanah yang mereka punya.
Membangun rumah di atas tanah yang miring tentu membutuhkan penanganan khusus dibandingkan tanah yang datar. Awalnya mereka ingin memakai jasa arsitek dan kontraktor. Namun setelah mengetahui RAB pembangunan rumahnya dari arsitek, mereka memutuskan untuk tidak memakai arsitek.
“Dana yang kami kumpulkan belum cukup untuk RAB yang dibuat oleh arsiteknya. Kami putuskan mendesain dan membangun pakai pemborong karena dananya bisa dikeluarkan secara bertahap, tidak sekaligus di muka,” tutur Amel.
Mau bangun atau renovasi rumah tapi dananya terbatas? Simak rekomendasi model rumah sederhana di video ini
Pertimbangan keterbatasan dana pula, Amel dan suami menerapkan konsep rumah tumbuh. Di atas tanah seluas 70 meter persegi, rumah impian mereka akan dibangun dua lantai. Namun bertahap dibangun satu lantai terlebih dulu. “Prioritas bangun rumah agar bisa kami tempati daripada mencari-cari kontrakan baru karena dana buat bangun rumah masih terbatas,” kata Amel.
Pembangunan rumah mulai dilakukan pada Maret 2022. Sementara menunggu rumah selesai dibangun, mereka meminta perpanjangan kontrak rumah sampai 3 bulan, sesuai estimasi rumah selesai dibangun. Membangun rumah di atas tanah berkontur miring tentu saja membutuhkan perhatian khusus.
Amel sempat ragu apakah bisa dilakukan tanpa bantuan arsitek dan kontraktor. Namun diyakinkan oleh orangtua Amel yang beberapa kali membangun dan merenovasi rumah, konsultasi dengan kerabat yang ahli bangunan, dan mendapatkan pemborong yang berpengalaman. “Kami mendesain sendiri rumahnya, dan pemborong sanggup mewujudkan desain rumah yang kami buat,” ujar Amel.

Cerita Rumah Amel: Tantangan Bangun Rumah Sendiri, Mendesain Sendiri, Cari Material Sendiri

Cerita Rumah Amel: Tantangan Bangun Rumah Sendiri, Mendesain Sendiri, Cari Material Sendiri
Amel berbelanja material secara bertahap. Di luar dugaan, harga materialterus mengalami kenaikan setiap minggunya.
Selama proses pembangunan rumah, Amel terus mengawalnya. “Setiap hari saya datang ke kavling untuk mengecek pekerjaan tukangnya. Kalau ada kesalahan atau hal yang kurang tepat, saya bisa langsung beritahu ke tukangnya untuk diperbaiki supaya lebih cepat. Bahkan saya hunting dan membeli bahan materialnya sendiri,” papar Amel.
Dengan kontur tanah yang miring, pondasi harus dipasang cukup dalam, bahkan bagian belakang rumah Amel butuh pondasi sampai 4 meter, serta pemasangan cakar ayam dan sloof. Akibatnya, bahan baku yang dibutuhkan jadi lebih banyak, tentu saja biayanya jadi lebih besar dibandingkan tanah yang datar.
Supaya tidak mengeluarkan dana besar sekaligus, Amel berbelanja material secara bertahap. Di luar dugaan, harga material saat pembangunan rumahnya terus mengalami kenaikan setiap minggunya. Kondisi ini sempat membuat Amel khawatir apakah sanggup membangun lantai satu ini sampai selesai.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
Dengan konsep rumah tumbuh, bangunan rumah Amel telah menggunakan pondasi untuk dua tingkat dan atap didak beton. Area calon tangga ke lantai atas telah disiapkan pula, namun sementara difungsikan sebagai ruang penyimpanan dan pakai GRC sebagai dinding supaya mudah dibongkar nantinya. Begitu pula dapur dan kamar mandi sengaja dibuat konsep industrial yang tanpa keramik karena hanya sementara.
Rezeki bangun rumah memang nyata dan mereka merasakannya. Perjuangan bangun rumah dengan bujet minim diakuinya harus memutar otak, menguras pikiran dan tenaga.
“Mulai dari mendesain sendiri, hunting material sendiri, memantau kerjaan tukang, meminimalisir finishing sesuai kebutuhan, bukan keinginan, dan yang paling deg-degan mengontrol keuangan supaya cukup sampai selesai. Tapi kami senang banget menjalani setiap prosesnya,” kenang Amel.

Cerita Rumah Amel: Rumah Hemat Energi Bujet Rp184 Juta, Gaya Art Deco dan Skandinavia

Cerita Rumah Amel: Rumah Hemat Energi Bujet Rp184 Juta, Gaya Art Deco dan Skandinavia
Dengan bukaan yang relatif besar, rumah Amel mendapatkan pencahayaan alami, sirkulasi udara yang baik, dan taman yang asri walaupun kecil.
Tiga bulan berlalu, masa perpanjangan kontrak rumah Amel habis. Amel dan suami akhirnya memutuskan langsung menghuni rumah mereka meskipun masih proses finishing di bagian luarnya, termasuk pagar yang belum terpasang.
Rumah yang dibangun dari nol selesai dalam waktu 3,5 bulan. Di atas lahan seluas 70 meter persegi dengan bangunan seluas 56 meter persegi pembangunan rumah Amel menghabiskan dana Rp184 juta. “Alhamdulillah meskipun karena kepepet, kami bisa membangun rumah dua tahun setelah membeli tanah, padahal targetnya empat tahun. Hasilnya pun melebihi ekspektasi kami,” ujar Amel yang mulai menempati rumah barunya pada Juni 2022.
Eksterior Gioia House, rumah Amel, mengarah pada gaya art deco, utamanya fasad yang berbentuk curve, pemakaian dinding roster sebagai pagar, dan pot untuk tanaman lee kwan yew di atas carport. Sedangkan desain interiornya mengadaptasi gaya skandinavia dengan pemilihan warna netral seperti dominasi ‘white & wood’.
Untuk perabot Amel memilih detail minimalis, dekorasi natural menggunakan tanaman indoor, serta dipadukan sentuhan industrial dari kusen alumunium warna hitam untuk pintu dan jendela. Amel mengakui rumah impiannya adalah memiliki living room dengan pintu kaca besar yang menghadap ke patio atau taman.
Impian tersebut berhasil diwujudkan meskipun ukurannya terbilang mungil. Dengan bukaan yang relatif besar, rumah mendapatkan pencahayaan alami, sirkulasi udara yang baik, dan taman yang asri walaupun kecil. Tambah lagi rumah Amel menghadap timur laut, jadi berhadapan langsung dengan sinar matahari pagi.
"Kelebihannya dari pagi sampai sore rumah menjadi terang, tapi nggak panas, sehingga nggak perlu menyalakan lampu, jadi hemat listrik banget. Ditambah udara yang masuk dari area taman bikin ruangan ini adem, nggak panas sama sekali walaupun di luar lagi terik banget. Rumah ini memang nggak ada AC dan kipas angin,” ujar Amel.

Cerita Rumah Amel: Cicil Beli Furniture dari Awal Menikah untuk Mengisi Rumah

Cerita Rumah Amel: Cicil Beli Furniture dari Awal Menikah untuk Mengisi Rumah
Dari awal menikah, Amel memang telah menyicil pembelian perabot meskipun masih mengontrak, tujuannya untuk mengisi rumah mereka kelak.
Sisa lahan di bagian belakang rumah Amel dimanfaatkan sebagai inner courtyard (patio). Dengan bentuk trapesium, ukuran panjang 3,2 meter, lebar kiri 1,1 meter, dan kanan 1,6 meter, patio dibuat dengan taman kering yang terbuka.
“Awalnya taman ini mau dijadikan taman basah, tetapi gagal mungkin karena tanahnya kurang subur dan di bawahnya banyak bongkahan sisa bahan bangunan, jadi tanaman dan rumputnya nggak hidup. Akhirnya kami ubah menjadi taman kering dengan menutup permukaan tanah dengan batu split dan menambahkan beberapa tanaman di dalam pot biar tetap bisa lihat yang hijau-hijau,” jelas Amel.
Furnitur di rumah ini dibawa Amel dari rumah kontrakannya. Dari awal menikah, Amel memang telah menyicil pembelian perabot meskipun masih mengontrak. Ketika akan pindah, Amel baru menyadari kalau barang yang mereka punya sudah cukup untuk mengisi rumah barunya.
“Setiap beli furnitur, kami memprioritaskan kegunaan dan kualitasnya, dan mengupayakan pilih warna yang netral, atau sesuai colortone rumah impian kami nantinya. Barang-barang yang masih layak pakai bisa kami boyong ke rumah kami, jadi bisa hemat, nggak perlu beli furnitur lagi,” papar Amel yang menargetkan pembangunan lanjutan rumah tumbuhnya akan dilakukan dalam empat tahun mendatang.
Itulah cerita perjuangan Amel yang berani wujudkan mimpi untuk punya rumah sendiri. Harga rumah tinggi pilih bangun sendiri, beli tanah berkontur miring malah dapat harga miring. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Siti Rahmah, Foto: Raden Nucky

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Keterjangkauan

Ketahui kemampuan mencicil Anda berdasarkan kondisi keuangan Anda saat ini.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini