Cerita Rumah Andriyaningsih: Drama Keluarga, PHK, yang Berujung Indah

“Terlepas dari besar kecilnya, sederhana atau mewah, rumah adalah tempat kita bisa berkumpul dengan keluarga. Dan kita adalah raja di rumah sendiri.”
Cerita Rumah Andriyaningsih: Drama Keluarga, PHK, yang Berujung Indah
Kisah pencarian rumahnya memang sudah lama, namun spirit perjuangan dan sepak terjangnya menjadi kekuatan bagi keluarga, bahkan mampu memotivasi semangat hingga ke anak-anaknya.

RumahCom - Berbincang dengan Andriyaningsih, seperti sedang membaca sebuah kisah panjang tentang betapa pentingnya sebuah rumah sebagai tempat bernaung yang nyaman bagi keluarga.

Bagi ibu dari tiga anak ini, besar atau kecilnya sebuah rumah, sederhana atau pun mewah, dan senyaman apa pun hotel yang kita inapi, tak ada yang lebih nyaman selain memeluk guling dan bantal di rumah sendiri.

Kisah pencarian rumahnya memang sudah lama, namun spirit perjuangan dan sepak terjangnya menjadi kekuatan bagi keluarga, bahkan mampu memotivasi semangat hingga ke anak-anaknya.

Istri dari Jushak Harianto yang hingga kini masih bekerja di sebuah perusahaan trading, kini merasa hidupnya sudah cukup nyaman. Bahkan di rumah inilah Andriyaningsih akhirnya bisa menyalurkan hobi masaknya, yang kemudian semakin menambah pundi-pundinya.

Lagi cari rumah dengan harga terjangkau di kawasan Bekasi dengan harga mulai dari Rp350 juta? Cek aneka pilihan rumahnya di sini!

Cerita Lalu Nan Pilu di Rumah Keluarga Angkat

Cerita PHK Datang Tiba-Tiba, Impian Punya Rumah Sendiri Semakin Nyata

Andriyaningsih mengaku sempat ada penyesalan sedikit memilih pensiun dini, tapi itu terbayar karena ia dan keluarga jadi punya rumah sendiri.

Tidak pernah ada yang tahu jalan cerita hidup seseorang. Bagaimana alur kisahnya, dan ke mana akan berujung. Andriyaningsih kecil bersama kakak lelakinya sejak balita diangkat anak oleh seorang sepupu jauh dari ayah kandungnya dan menetap di Jakarta.

Saat itu tak ada pilihan lain, ia dan sang kakak menjadi anak dari pasangan suami istri yang tidak memiliki keturunan. Andriyaningsih memanggilnya Papi dan Mami. Namun sangat disayangkan, ketika berusia 7 tahun sang kakak meninggal dunia karena mengalami panas yang sangat tinggi dan tidak tertolong.

Sebagai anak satu-satunya, kehidupan Andriyaningsih selanjutnya tak semanis bayangan akan sebuah keluarga yang hangat. Andriyaningsih dibesarkan dengan Papi yang sangat menyayanginya, di sisi lain sang Mami punya karakter keras dan kaku. Kondisi tersebut membuat Andriyaningsih menjelma dari gadis kecil menjadi sosok perempuan yang tegar.

“Sampai umur 25 tahun saya tinggal bersama Mami, karena Papi sudah lebih dulu meninggal. Saya kemudian menikah, dan sempat bersama suami tinggal di rumah tersebut selama 2 tahun,” cerita Andriyaningsih.

Kemudian Andriyaningsih mendapat rumah sangat murah di Bekasi. Di tahun 1993 tersebut, sebuah rumah kecil ia beli. Namun di tahun 1996 ibu angkat Andriyaningsih meninggal dunia. Karena rumah keluarga angkat tersebut kosong, maka Andriyaningsih memutuskan kembali ke rumah tersebut agar rumah tidak rusak dan bisa ia rawat.  

“Mami saya dulu sudah punya anak sebelum menikah dengan Papi. Salah satu anak Mami saat itu baru saja menetap di Jakarta, dari Jawa Timur. Lalu saya berpikir, saya dulu diberi karunia diasuh sebagai anak, sekarang rasanya egois kalau rumah ini saya tempati sendiri besama keluarga kecil saya. Saya kasian melihat mereka berpindah-pindah kontrakan,” papar Andriyaningsih.

Akhirnya ia mengajak anak kandung Mami dan keluarganya, suami istri dan dua anak, untuk tinggal bersama-sama di rumah keluarga angkat tersebut. Sejak awal Andriyaningsih sudah merasa ada banyak gesekan dengan anak kandung sang Mami. Namun waktu terus berjalan, sekitar empat tahun kemudian anak kedua Andriyaningsih lahir.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

Cerita Penyesalan Andriyaningsih Jual Rumah Di Bekasi

Cerita Penyesalan Andriyaningsih Jual Rumah Di Bekasi

Saat ia menjual rumahnya memang belum ada rasa yang kuat ingin keluar dari rumah Mami yang saat itu ia tinggali bersama keluarga anak Mami tersebut.

“Dalam satu rumah, ada dua keluarga tinggal berbarengan itu ternyata sangat sulit,” kenang Andriyaningsih. Sebagai anak angkat sah, di Akta Kelahiran Andriyaningsih tercantum nama sang Papi dan Mami sebagai orang tuanya. Hal itu yang membuat Andriyaningsih merasa harus bertanggungjawab merawat rumah keluarga angkatnya tersebut.

Saat itu Andriyaningsih dan keluarga sebenarnya sudah tidak betah tinggal bersama keluarga anak dari sang Mami. Ia dan keluarganya, juga seorang asisten rumah tangga yang telah setia bekerja dengannya (sejak tahun 2000 hingga sekarang), ingin sekali keluar dari rumah tersebut. Tapi apa daya, rumah mungil di Bekasi miliknya sudah ia jual.

“Jujur sampai sekarang saya menyesal jual rumah itu,” kata Andriyaningsih sambil tertawa. “Setelah saya kembali ke rumah Mami, rumah di Bekasi itu sempat saya kontrakkan. Cuma terakhir-akhir saya kesal karena yang mengontrak berkali-kali tidak membayar sewa dengan dalih uangnya dipakai untuk renovasi bagian rumah yang rusak,” kenangnya.

Faktanya si pengontrak ternyata tidak melakukan perbaikan apa pun. Karena merasa tertipu tahun 2004 Andriyaningsih pun menjual rumah tersebut. Saat ia menjual rumahnya memang belum ada rasa yang kuat ingin keluar dari rumah Mami yang saat itu ia tinggali bersama keluarga anak Mami tersebut.

Baca juga: Trik Gaet Penyewa Rumah

Cerita PHK Datang Tiba-Tiba, Impian Punya Rumah Sendiri Semakin Nyata

Cerita Lalu Nan Pilu di Rumah Keluarga Angkat

Sebagai anak satu-satunya, kehidupan Andriyaningsih selanjutnya tak semanis bayangan akan sebuah keluarga yang hangat.

Di tengah-tengah masalah internal di rumah yang selalu mendera, permasalahan di kantor pun tak kalah peliknya. Andriyaningsih yang telah bekerja sejak tahun 1990 di salah satu perusahaan milik Sinar Mas terancam kena PHK sebagai dampak dari krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998.

Masa itu adalah masa yang berat. Dalam beberapa gelombang, mulai tahun 1998 hingga 2001, Sinar Mas melepas hingga 1200 karyawannya. Namun bisa dibilang Andriyaningsih adalah salah satu karyawan yang cukup beruntung, sebagai karyawan yang telah bekerja selama lebih dari 10 tahun dirinya ditawari pensiun dini.

“Setelah bertahun-tahun mendambakan memiliki rumah sendiri, Tuhan menjawab doa kami dengan cara yang unik,” ungkap Andriyaningsih. Ia berpikir saat itu masih muda dan bisa mencari pekerjaan yang lain. Ini adalah kesempatan emas, jadi dengan yakin ia mengambil tawaran pensiun dini itu.

“HRD bertanya ke saya saat itu, mau dipakai untuk apa uangnya, dan langsung saya jawab mau beli rumah!“ kenangnya. Andriyaningsih mengaku sempat ada penyesalan sedikit memilih pensiun dini, tapi itu terbayar karena ia dan keluarga jadi punya rumah sendiri.

Dengan kalkulasi uang pesangon sebesar 23 kali dari gaji, Andriyaningsih merasa sangat lega dan langsung mencari informasi tentang rumah yang dijual. “Saya merasa harus menyegerakan membeli rumah, karena suasana di rumah Mami sudah sangat kisruh. Bahkan mbak saya saja pernah kabur karena tidak tahan,” papar Andriyaningsih.

100 Apartemen Terpopuler di Indonesia

Mengajukan KPR dan Mengatur Cicilan

100 Apartemen Terpopuler di Indonesia

Cerita Andriyaningsih Membeli Rumah yang Dijual Murah

Cerita Andriyani Membeli Rumah yang Dijual Murah

Hanya dalam beberapa minggu saja, Andriyaningsih berhasil mendapat informasi bahwa ada rumah dijual murah

Andriyaningsih pensiun dini bisa dibilang mengantongi uang pesangon yang cukup besar saat itu. Langsung ia menyebar berita sedang mencari rumah murah di komunitas gereja dimana ia cukup aktif berorganisasi.

Hanya dalam beberapa minggu saja, ia berhasil mendapat informasi bahwa ada rumah dijual murah di daerah Kalimati, Jakarta Utara. Langsung ia dan Jushak sang suami survei ke lokasi dan melihat kondisi rumah tersebut. Sebuah rumah dengan luas tanah kurang lebih 75 m2 dengan posisi berada di sebuah gang kecil..

“Kami merasa cocok saat melihat lebar rumah tersebut. Walau fisik rumah terlihat kurang bagus dan berada di dalam gang, tapi yang penting punya rumah dulu deh pikir saya. Harga yang diberikan saat itu juga cocok. Tanpa banyak pertimbangan langsung kami putuskan untuk membelinya,” kenang Andriyaningsih.

Andriyaningsih dan Jushak hanya melakukan survei satu kali. Saat itu memang sudah terbayang harus melakukan beberapa renovasi dan mengalokasikan sebagian dana. Proses pembelian rumah secara kontan langsung dilakukan, prosesnya pun hanya memakan waktu satu bulan saja.

Cerita Survei Rumah yang Tidak Teliti Bikin Bengkak Biaya Renovasi

Cerita Survei Rumah Andriyaningsih yang Tidak Teliti Bikin Bengkak Biaya Renovasi

Karena kondisi rumah yang baru dibeli banyak butuh perbaikan, renovasi awal pun jadi memakan dana yang nilainya cukup lumayan besar.

Setelah proses pembelian rumah selesai, renovasi pun langsung dilakukan. Andriyaningsih dan Jushak menyadari jika biaya renovasi yang telah disisihkan nantinya kurang, maka rencananya renovasi akan dilakukan secara bertahap saja.

Awalnya renovasi dilakukan agar rumah tersebut lebih nyaman. Kondisi beberapa ruangan yang gelap, tangga yang reyot dan tidak aman, dan menambah kamar di loteng menjadi fokus awal. Namun ternyata, dinding di rumah baru tersebut bukan dari tembok, tapi menggunakan tripleks!

Akhirnya renovasi pembongkaran dinding tripleks seluruh sisi ruangan seluas 3,5 x 4,5 meter pun dilakukan. Juga dinding panjang mulai dari teras hingga dapur belakang. Tak ayal hal ini membuat dana renovasi pun membengkak tak terduga.

“Saat survei mana kepikiran untuk mengetuk-ketuk dinding rumah. Apalagi surveinya juga cuma satu kali. Eh, ternyata temboknya dari tripleks!” ujar Andriyaningsih. “Rumah tersebut ternyata banyak hal tidak wajarnya, hal lainnya itu di dapur bagian belakang kita bisa langsung melihat langit,” tambahnya sambil terbahak.

Karena kondisi rumah yang baru dibeli banyak butuh perbaikan, renovasi awal pun jadi memakan dana yang nilainya cukup lumayan besar. Bahkan sampai menggunakan dana yang diambil dari uang Jamsostek kantor lama. Jushak pun turut membantu biaya renovasi dengan penghasilannya yang disisihkan. Andriyaningsih benar-benar memaksimalkan dana yang didapat dari kantor lama untuk mewujudkan rumah impiannya.

Namun biaya renovasi terus membengkak. Sisa uang pensiun dikurangi harga kontan rumah juga digunakan untuk menambah-nambah biaya renovasi, dan nyatanya belum cukup juga. Motor satu-satunya yang mereka miliki pun terpaksa dijual juga.

Renovasi pun berjalan dengan mempertimbangkan efisiensi. Tidak mengubah ruang utama seperti ruang tamu dan kamar utama dilakukan agar budget tidak bertambah. Loteng pun waktu itu dibuat menggunakan kayu.

“Karena budget membengkak, saya berpikir dapur belakangan saja. Kita nabung dulu,” papar Andriyaningsih. Di dapur yang bisa langsung melihat langit tersebut mereka memasak dengan hati-hati, terlebih di saat musim hujan.

“Sisi yang ada atapnya hanya pinggir-pinggir saja, sedih sekaligus lucu rasanya. Si mbak bahkan sempat masak sambil kehujanan. Pernah sambil pegang payung, sampai si mbak pernah pakai jas hujan segala,” kenang Andriyaningsih. Menurutnya ini seperti cerita drama, tapi nyatanya itulah yang mereka alami.

Tip Rumah
Saat survei rumah penting untuk meneliti kualitas bangunan dan juga potensi kawasannya. Jika memungkinkan bawa ahli bangunan atau setidaknya tukang sehingga saat ditempati nanti Anda tidak perlu keluar biaya besar saat akan melakukan renovasi.

Cerita Biaya Renovasi Rumah, Cicilan Mobil, dan Rasa Lega

Cerita Biaya Renovasi Rumah, Cicilan Mobil, dan Rasa Lega

Andriyaningsih dan si mbak memasak di dapur ‘alam’ tersebut hingga lima tahun lamanya. Renovasi dapur baru dilakukan lima tahun kemudian.

Akhirnya renovasi tahap pertama selesai dikerjakan dalam tiga bulan. Andriyaningsih dan keluarganya pun bisa langsung keluar dari rumah keluarga angkat dan menempati rumah milik mereka pribadi.

Andriyaningsih dan si mbak masih memasak di dapur ‘alam’ tersebut hingga lima tahun lamanya. Renovasi dapur baru dilakukan lima tahun kemudian. “Saya bersyukur sekali si mbak bisa bertahan dengan kondisi yang seadanya,” kata Andriyaningsih. Mbak yang setia dan menjadi pengasuh anak-anaknya sejak kecil hingga kini seakan menjadi saksi hidup yang menyertai cerita perjalanan keluarganya. 

Biaya renovasi akhir ini pada akhirnya memakai uang simpanan saat Andriyaningsih dan Jushak menjual rumah di Bekasi dulu. “Saya tidak mau menghabiskan semua uang kami untuk rumah, karena berapa pun yang dikeluarkan tidak akan pernah cukup,” jelasnya.

Sebelum melakukan renovasi terakhir, sebagian uang tabungan telah dibelikan sebuah mobil, dengan pertimbangan anak sudah dua dan semakin besar. Namun saat itu uang cicilan mobil dirasa memberatkan, akhirnya mobil tersebut dijual dan uangnya untuk menambah biaya renovasi.

“Tak apa kita tidak punya mobil, yang penting rumah bisa kita beresin semuanya,” cerita Andriyaningsih. Ia menambahkan, “Sempat ada uang sejumlah Rp40 juta, kita langsung belikan mobil bekas. Eh, mobilnya sering ngadat, ya kita jual lagi,” katanya sambil tertawa.

Ketika anak ketiga Andriyaningsih lahir kebutuhan akan mobil menjadi penting. Kini Andriyaningsih dan Jushak sudah membeli mobil lagi dengan cara mencicil. Jushak pun memutar uangnya dengan cara menjadikan mobil mereka ini sebagai alat untuk mencari uang. Dengan berprofesi menjadi supir mobil online.

“Untuk membayangkan sebuah rumah impian, jujur saya tidak punya ekspektasi apa pun saat itu. Saya juga tidak pernah tinggal di rumah yang luas. Saya hanya berpikir saat itu untuk segera keluar dari rumah Mami agar bisa terlepas dari segala drama,” papar Andriyaningsih.

Saat ini yang menjadi ruang favorit adalah ruang tamu sekaligus ruang berkumpulnya keluarga. Andriyaningsih senang dengan posisi rumah yang berada di dalam gang, karena ia merasa anak-anaknya lebih aman tidak ada mobil yang lewat dan tidak berdebu karena jauh dari jalan raya.

Syarat Beli Rumah Bekas Lewat KPR dan Langkahnya

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Syarat Beli Rumah Bekas Lewat KPR dan Langkahnya

Sabar dan Gigih Jadi Inti Cerita Rumah Indriyaningsih

Kondisi bertetangga yang dekat di kiri kanan rumah juga membuatnya merasa aman, berbagai karakter di masyarakat yang heterogen dipercayainya bisa membuat situasi lingkungan lebih aman dan akrab.

“Makin kesini saya jadi berpikir ingin juga punya rumah yang bukan di gang, supaya mobil bisa diparkir di rumah,” jelas Andriyaningsih. Jika dahulu mobil bisa diparkir di pinggir jalan dekat gang menuju rumah, sekarang sudah tidak bisa lagi karena akan diderek. Saat ini mobil diparkir di tempat parkiran bersama, setiap bulan Jushak harus membayar biaya parkiran sebesar Rp400 ribu.

Andriyaningsih mengungkapkan bahwa kunci berhasil melewati berbagai problema tentunya dengan dukungan suami tercinta dan anak-anaknya. Demi mencapai kehidupan yang nyaman ia berjuang semampunya, dengan segenap seluruh kekuatan dan keyakinan yang dimilikinya.

Cerita perjalanan Andriyaningsih yang penuh liku dan drama untuk punya rumah sendiri tentunya bisa jadi inspirasi sekaligus penggugah semangat bagi Anda yang juga sedang berjuang mewujudkan rumah impian. Simak tips dari Indriyaningsih berikut ini:

  • Percaya diri untuk bisa mewujudkan rumah impian menjadi modal awal yang kuat. Niscaya akan ada jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi saat mewujudkan rumah impian.
  • Jika punya uang yang cukup, lebih baik segera beli rumah. Karena dengan punya rumah sendiri maka nilai-nilai dalam sebuah keluarga akan menjadi lebih baik.
  • Turunkan ekspektasi jika dana yang tersedia tidak sesuai bujet. Renovasi secara bertahap bisa dilakukan, dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.
Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Tanya Rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Cerita Rumah Andriyaningsih Jadi Motivasi Sang Buah Hati

Cerita Rumah Andriyaningsih Jadi Motivasi Sang Buah Hati

Dan pada akhir pencariannya, Eunike berhasil mendapatkan rumah di daerah Cilebut, Bogor. Bahkan Andriyaningsih rajin datang ke lokasi saat pembangunan mulai berlangsung.

Kini anak-anak Andriyaningsih telah dewasa. Yang pertama Eunike Louis Gracia bekerja di perusahaan travel, yang kedua Theofilus Lewi Yosafat sudah bekerja di sektor properti sebagai kontraktor, sementara si bungsu Clement Marvelous Azaryah masih sekolah.

“Suatu hari anak pertama saya bertanya, Ma, katanya sejak muda sebaiknya mulai punya investasi, menurut mama investasi apa yang paling nyaman dan terjangkau?” cerita Andriyaningsih.

“Saya langsung jawab, rumah, Nak. Mulailah untuk membeli rumah. Karena investasi rumah bikin kita happy, bisa atur sesuka kita, dan kelihatan bentuknya,” jawab Andriyaningsih kepada anaknya.

Ia pun menjelaskan panjang lebar, bahwa investasi berupa properti itu harganya akan terus meningkat. Eunike merasa senang dan termotivasi karena penjelasan Andriyaningsih. Mulai dari saat itu mereka mencari rumah, diawali dengan berselancar mencari rumah dijual melalui Rumah.com.

“Saya jadi ikut semangat bantu browsing, kita mulai cari-cari online dulu. Belum survei fisik. Lalu kita juga sempat datang ke beberapa pameran properti di JCC selepas jam kerja, berdua saja sama anak,” papar Andriyaningsih.

Baca juga Cerita Rumah Eunike, anak Andriyaningsih yang beli rumah modal nekat di sini!

Setelah masuk masa survey, Andriyaningsih terus mendampingi Eunike. Hingga sempat ke Harvest Cibubur, yang jalurnya sangat macet. Dan pada akhir pencariannya, Eunike berhasil mendapatkan rumah di daerah Cilebut, Bogor. Bahkan Andriyaningsih rajin datang ke lokasi saat pembangunan mulai berlangsung.

“Sekarang jauh lebih enak kalau cari rumah, bisa browsing, lihat foto-fotonya, tinggal kontak, lalu bisa video call. Paling tidak kita sebelum survei ke lokasi sudah punya gambaran. Keberadaan Rumah.com jelas sangat membantu,” jelas Andriyaningsih.

Cerita Rumah Indriyaningsih yang Berujung Indah

Rasa lega kini meliputi Andriyaningsih dan keluarganya. Cerita masa lalu dijadikannya sebagai kisah perjalanan hidup yang berharga. Di rumah yang mungil dan nyaman ini dirasakannya begitu damai sepanjang hari. Tak ada lagi gesekan seperti yang dahulu dilaluinya di rumah milik orang tua.

Kini selain masih bekerja dan aktif di gereja, Andriyaningsih menyalurkan hobinya dan mengubahnya menjadi sebuah sumber penghasilan baru. Usaha kuliner rumahan kini sedang digelutinya.

“Saya ini hobinya makan. Jadi daripada saya makan sendiri, saya mencoba membuat makanan kesukaan saya untuk dijual,” katanya sambil tergelak. Dibantu si mbak yang tetap setia, mereka kini nyaman memasak di dapur yang kini sudah tidak beratapkan langit lagi.

“Saya sangat suka nasi kuning. Waktu itu suami saya ulang tahun, saya masak nasi kuning, dan membagikannya ke komunitas di gereja. Eh, semua suka dan bilang enak, jadi saya percaya diri untuk menerima pesanan,” paparnya.

Tak hanya nasi kuning, berbagai jenis kue dibuat oleh Andriyaningsih. Di rumah yang nyaman dan bebas dari drama ini hobi Andriyaningsih bisa dilakukan kembali. Kehangatan dan kebahagiaan di rumah miliknya sendiri pada akhirnya berujung indah dan bahagia.

Itulah cerita perjuangan Andriyaningsih untuk punya rumah sendiri yang penuh drama dan berujung indah. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

 

Naskah: Meta Oepadi, Foto: Zaki Muhammad

Baca Selanjutnya

Kalkulator Properti
Repayment Calculator Icon
Ketahui prakiraan uang muka dan cicilan rumah impian Anda dengan Kalkulator KPR Rumah.com.
Rp
Affordability Calculator Icon
Hitung perkiraan besar pinjaman dan cicilan maksimal yang bisa diajukan berdasarkan penghasilan Anda lewat Kalkulator Keterjangkauan Rumah.com
Refinancing Calculator Icon
Ringankan cicilan KPR Anda lewat refinancing. Hitung seberapa besar manfaatnya bagi Anda dengan Kalkulator Refinancing Rumah.com

4 Perumahan Paling Rekomendasi di Bekasi

Masukan