Cerita Rumah Dea dan Fikri: Terganjal Tanah Sengketa, Terkecoh Brosur Properti

“Rumah itu rezeki. Apapun bentuknya, bagaimanapun cara mendapatkannya. Pasti punya rejeki dan keberkahan tersendiri bagi siapapun yang tinggal di dalamnya.” - Cerita Rumah Dea dan Fikri
Cerita Rumah Dea dan Fikri: Terganjal Tanah Sengketa, Terkecoh Brosur Properti

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Begitu kata pepatah lama. Bisa jadi proses mencapai sebuah tujuan tak semulus yang dibayangkan, tapi hasilnya malah lebih manis dari yang diharapkan. Kurang lebih begitu kira-kira isi hati pasangan suami istri Dea Arvina Ermacasnia dan Fikri Raharjo setelah akhirnya berhasil membeli rumah.

Rumah yang mereka tempati sekarang merupakan buah dari kegigihan, setelah sebelumnya sempat dua kali mendapat pengalaman saat proses pembelian rumah yang berujung gigit jari. Pengalaman yang tidak mengenakkan sebelumnya dijadikan pelajaran hingga akhirnya mereka lebih terasah saat proses pembelian rumah.

Kini, sebuah rumah dengan luas tanah 86m2 dan luas bangunan 105m2 yang terletak di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan berhasil mereka miliki. Rumah yang sesuai keinginan. Dekat dengan akses tol serta fasilitas transportasi publik yang dekat, seperti MRT dari Stasiun Lebak Bulus serta Commuter Line dari Stasiun Sudimara.

Mau punya rumah di area Pamulang? Meski masuk kawasan Tangerang Selatan tapi hanya ‘selangkah’ dari Jakarta dengan banyak opsi fasilitas transportasi. Temukan pilihan rumahnya dengan harga di bawah Rp700 jutaan di sini!

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Cari Rumah Keliling Jakarta Buat Dihuni Setelah Menikah

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Cari Rumah Keliling Jakarta Buat Dihuni Setelah Menikah

Pencarian rumah mereka sudah dimulai sejak Agustus 2019, karena ingin saat menikah pada Desember 2019, rumah sudah berhasil dimiliki.

Dulu, saat pertama kali pindah dari Yogyakarta ke Jakarta pada tahun 2017, Dea dan Fikri sempat terpikir bahwa keberadaan mereka di ibukota ini hanya sementara, sekadar singgah. Namun, bayangan bahwa mereka akan menetap sehingga perlu punya rumah di Jakarta semakin terasa nyata jika berkaca dari ketetapan pekerjaan keduanya.

Menginjak tahun 2019 akhirnya mereka memutuskan untuk membeli rumah di Jakarta. Tepatnya setelah Fikri melamar Dea di bulan Juni 2019. Keduanya berkomitmen agar setelah menikah bisa mulai hidup mandiri. Termasuk punya rumah sendiri. Pencarian rumah mereka sudah dimulai sejak Agustus 2019, karena ingin saat menikah pada Desember 2019, rumah sudah berhasil dimiliki.

Awalnya pasangan ini mencari rumah di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan, karena terdapat stasiun MRT yang akan memudahkan mereka menuju pusat Jakarta. Namun setelah mengetahui harga rumah di kawasan tersebut sudah sangat tinggi, mereka pun mundur teratur. Perburuan lalu diarahkan ke Jakarta Timur.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

Pencarian dilakukan di area Cipayung, Cilangkap, Ciracas, dan Bambu Apus. Area di Jakarta Timur ini dirasa dekat ke pusat kegiatan mereka sehari-hari. Aktivitas Fikri di area Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, sementara Dea biasa beraktivitas di sekitar Jakarta Pusat.

“Ada alasan mengapa kami memilih Jakarta Timur, karena preferensi saya yang akan tinggal di Jakarta. Jadi yang nentuin pilihan tuh saya, awalnya,” kata Dea yang berpikir bahwa ada kemungkinan Fikri suatu saat dipindahtugaskan ke kota lain.

Jadi setiap akhir pekan mereka sempatkan berkeliling Jakarta Timur demi menemukan rumah yang akan jadi tempat tinggal mereka. “Jadi kami pacarannya sekalian nyari rumah hahaha,” kenang Fikri. Sayangnya, perburuan yang bisa dibilang berpacu dengan waktu ini kurang mendapat hasil yang optimal.

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Uang Booking Fee Hilang, DP Rumah Melayang

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Uang Booking Fee Hilang, DP Rumah Melayang

Mereka sempat terkecoh dengan foto suasana lingkungan sebuah klaster dari sebuah brosur properti. Mereka terpesona akan gambaran rumah yang ideal lewat foto-foto digital, didukung tambahan informasi yang menarik hati.

“Mungkin karena sudah niat dan kebetulan ada persiapan dananya, jadi kami cenderung buru-buru. Apalagi jika lihat rumah yang spesifikasinya bagus, kita jadi ngebet banget sehingga jadi nggak bisa berpikir jernih,” jelas Fikri bercerita tentang pengalaman pertama kali gagal membeli rumah.

Jadi mereka sempat terkecoh dengan foto suasana lingkungan sebuah klaster dari sebuah brosur properti. Mereka terpesona akan gambaran rumah yang ideal lewat foto-foto digital, didukung tambahan informasi yang menarik seperti akses yang dekat dengan stasiun LRT Cibubur, banyak fasilitas pendidikan, dan sebagainya.

Tanpa pikir panjang lagi keduanya pun langsung membayar booking fee atau tanda jadi ke pihak pengembang. “Ternyata pas kami survei kok lokasinya padat, padahal di foto kayaknya enak,” kenang Dea. Rupanya klaster tersebut terletak di area yang cukup padat dengan akses yang juga tidak mudah. Apa mau dikata, booking fee hangus sudah.

Selanjutnya adalah pengalamannya yang kedua dari rumah yang rencananya akan mereka beli di sebuah klaster di Bambu Apus. Lokasinya sangat strategis, tepat di samping tol! Harga rumahnya pun terbilang miring dibandingkan harga pasaran di daerah tersebut. Kala itu mereka ditawarkan seharga Rp1 miliar, sedangkan pasarannya ada di kisaran Rp1,5 miliar.

Tips Membaca Brosur Properti Agar Tak Keliru

Tips Rumah dan Apartemen

Tips Membaca Brosur Properti Agar Tak Keliru

Dengan berbagai keunggulan tersebut, jelas saja Dea dan Fikri tertarik dan langsung mengeluarkan uang untuk membayar DP rumah di klaster tersebut yang sistemnya indent. Padahal saat survei areanya masih berupa tanah lapang tanpa adanya pembangunan.

Sayang, lagi-lagi pembelian rumahnya gagal. Status tanah klaster tersebut masih sengketa. Rupanya, kepemilikan tanah tersebut dipecah ke dua sertifikat. Yang satu sudah dibeli pengembang, sementara yang satunya diperkarakan oleh ahli waris.

Singkat cerita, hingga kini pembangunan perumahan tersebut tak kunjung terlihat dilakukan. DP rumah yang sudah dibayarkan dengan nominal yang cukup besar, hampir 10% dari harga rumahnya pun melayang.

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Pasrah Terganjal Sengketa Tanah, Ubah Lokasi Pencarian Rumah

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Pasrah Terganjal Sengketa Tanah, Ubah Lokasi Pencarian Rumah

Untuk sementara Dea dan Fikri menumpang di rumah kerabat yang kosong di Cireundeu, Tangerang Selatan. Tempat tinggal sementara yang akhirnya mengubah rencana mereka dalam memilih lokasi rumah

“Waktu itu sempat niat lapor polisi, karena ternyata surat tanah yang ditawarkan ke kami modelnya masih girik, tambah lagi terganjal tanah sengketa. Membayangkan kalau lapor itu akan menguras energi juga biaya, jadi kami pasrahkan saja ke Allah. Dan alhamdulillah uang tersebut kembalinya dalam bentuk rezeki yang lain,” ujar Dea.

Jadi saat proses pembelian rumah kedua yang terganjal kasus tanah sengketa, pasangan ini telah menikah. Rezeki lain yang mereka dapat adalah Dea yang mengandung anak pertama, dan bisa tinggal sementara di rumah salah satu kerabat yang kosong.

Akhirnya untuk sementara Dea dan Fikri menumpang di rumah kerabat yang kosong di Cireundeu, Tangerang Selatan. Tempat tinggal sementara yang akhirnya mengubah rencana mereka dalam memilih lokasi rumah. Selama setahun mereka menetap di sana. Sampai akhirnya pada 2020 mereka mulai terpikir sudah saatnya kembali mencari rumah.

Apalagi saya sudah hamil. Nggak enak juga kalau sampai bocil lahir masih numpang,” kata Dea, dan ternyata mereka tinggal di rumah tersebut hingga anaknya berusia 7 bulan. Hingga akhirnya mereka memutuskan mencari rumah di sekitar Cireundeu. Mengubah rencana awal mereka yang tadinya ingin tinggal di wilayah Jakarta Timur.

Tahap Menyelesaikan Sengketa Tanah

Mengurus Sertifikat Tanah, Hukum, dan Pajak Properti

Tahap Menyelesaikan Sengketa Tanah

“Kami sudah ngalamin berangkat kerja dari daerah sini, enak juga. Dekat stasiun MRT, ada akses KRL, juga dekat pintu tol,” sambung Dea lagi. Kemudahan inilah yang membuat mereka merasa sreg mencari rumah di Cireundeu meskipun sudah masuk wilayah Tangerang Selatan.

Namun berdasarkan pencarian, ternyata harga rumah di Cireundeu tidak masuk bujet mereka. Kalau pun ada yang cocok harganya, ukuran rumahnya yang tidak cocok. Dengan dana yang mereka punya, hanya bisa dapat rumah dengan luas tanah 60m2. Mau tak mau pencarian rumah Dea dan Fikri harus sedikit bergeser.

“Jadi istilahnya mundur satu stasiun. Dari yang semula dekat ke Stasiun Pondok Ranji, sekarang dekat ke Stasiun Sudimara,” papar Dea. Artinya mundur satu titik perhentian dari jalur KRL Tanah AbangSerpong.

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Pengembang Jadi Pertimbangan Beli Rumah di Pamulang

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Pengembang Jadi Pertimbangan Beli Rumah di Pamulang

Pasangan ini memilih untuk mengeluarkan uang lebih di depan, tetapi nyaman kemudian. Ketimbang mesti berkali-kali melalui fase renovasi karena menyesuaikan kebutuhan.

Fikri kemudian mencari perumahan baru di Rumah.com, dan menemukan Cluster Griya Cempaka yang terletak di Pamulang, Tangerang Selatan. Karena belum familiar dengan lokasinya, Fikri tetap berselancar mencari perumahan di lokasi lainnya.

“Kami survei langsung ke beberapa lokasi, namun ujung-ujungnya kembali lagi ke Cluster Griya Cempaka. Pertimbangannya, pengembangnya akomodatif, mulai dari free custom layout untuk rumah indent, negosiasi harga cukup baik, hingga informatif dalam menjelaskan proses cicilan KPR,” ujar Fikri.

Melalui listing properti di jual di Rumah.com Fikri pun bisa mengecek kisaran harga rumah di Pamulang tanpa harus keliling untuk survei datang langsung ke lokasi. Untuk ukuran rumah yang ditawarkan dengan luas tanah 86m2 dan luas bangunan 105m2, berada di kisaran Rp800 jutaan. Harga rumah di angka segini menurut mereka cukup masuk akal.

Perumahan ini juga menawarkan rumah indent bisa berdiri dalam tujuh bulan, sementara kebanyakan perumahan menjanjikan rumah indent yang selesai dalam waktu setahun hingga 18 bulan.

12 Tips Memilih Pengembang Properti yang Kredibel

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

12 Tips Memilih Pengembang Properti yang Kredibel

”Apalagi pengembang juga mau mengambil risiko dengan langsung menaikkan pondasi meskipun kami baru membayar DP sebesar 10% saja dari harga rumahnya. Seminggu setelah DP dibayar, pondasinya benar-benar langsung naik,” kata Dea.

Karena rumah yang dibeli menawarkan free custom layout, tentu ruang yang ada jadi bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Selain menambah ruangan, mereka juga mengubah railing dan plafon menjadi lebih tinggi.

Namun untuk penyesuaian ini tentu ada biaya yang mesti dikeluarkan. Pasangan ini memilih untuk mengeluarkan uang lebih di depan, tetapi nyaman kemudian. Ketimbang mesti berkali-kali melalui fase renovasi karena menyesuaikan kebutuhan.

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Kompromi Jebol Tabungan Demi Rumah yang Nyaman

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Kompromi Jebol Tabungan Demi Rumah yang Nyaman

Keduanya juga memutuskan untuk langsung membuat custom furniture. Pertimbangannya agar semua urusan rumah bisa langsung beres.

Hal ini pula yang membuat pasangan ini mematok target luas tanah saat membeli rumah. Tujuannya agar bisa mengakomodir kebutuhan ruang untuk anak, juga asisten rumah tangga. Semua penambahan ruangan dan ketinggian plafon membuat biaya pembelian rumah mereka naik sekitar 15% dari harga yang ditawarkan, namun masih tetap di bawah Rp1 miliar.

Tak hanya itu, keduanya juga memutuskan untuk langsung membuat custom furniture. Pertimbangannya agar semua urusan rumah bisa langsung beres. “Karena saat itu kita ada bayi, kalau ada pekerjaan tukang pasti berdebu, jadi lebih baik sekalian,” jelas Dea.

Apa boleh buat, keputusan itu lagi-lagi membuat mereka harus kembali menjebol tabungan untuk tambahan biaya beli rumah. “Ya ada kalanya kami harus berkompromi dengan bujet, keluar uang ekstra di awal supaya ketika sudah dihuni rumahnya benar-benar nyaman,” lanjutnya.

Pengembang yang akomodatif, informatif, dan bisa dipercaya, tentunya akan menimbulkan rasa nyaman dan aman bagi calon pembeli rumah. Begitu pula yang dirasakan oleh Dea dan Fikri dengan pengembang rumahnya di Pamulang. Sangat berbeda dengan pengalaman mereka terhadap pengembang yang membuat uang DP rumahnya melayang.

12 Biaya Beli Rumah yang Penting untuk Diperhitungkan

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

12 Biaya Beli Rumah yang Penting untuk Diperhitungkan

Dari pengalaman buruk dengan pengembang yang tidak bertanggungjawab seperti yang pernah dialami sebelumnya, Dea jadi punya tips sendiri ketika mulai mencari rumah lagi seperti, “Cari tahu dulu rekam jejaknya, mulai dari proyek yang pernah dibuat, di mana lokasi kantornya, hingga siapa pemilik perusahannya.”

Fikri juga menambahkan, “Cek juga keabsahan legalitasnya, tak apa menanyakan legalitas secara langsung atau minta ditunjukkan sertifikat asli, hak kita sebagai konsumen. Cermati juga proses pembayaran booking fee. Hindari pengembang yang meminta pembayaran DP secara cash, lakukan via transfer bank.”   

“Berhati-hati juga jika ditawari untuk kemudahan mencicil DP bertahap. Pastikan dalam perjanjiannya tertera jelas perihal periode dan jumlah cicilannya, agar tidak ditagih tiba-tiba sebelum jatuh tempo dengan nilai nominal yang berubah lebih besar,” sambung Fikri.

Terakhir yang dilakukan Dea dan Fikri ketika sambil survei ke lokasi, “Kita perhatikan ketersediaan listrik dari PLN di sana. Karena biasanya pihak PLN tidak akan memberikan fasilitas listrik jika status lahan perumahan tersebut belum legal.”

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Sebelum Menikah Membuat Skema Pengaturan Keuangan

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Sebelum Menikah Membuat Skema Pengaturan Keuangan

Soal urusan bujet, Fikri dan Dea memang termasuk orang yang saklek. Sejak sebelum menikah pun keduanya sudah membuat skema pengaturan keuangan berikut dengan persentasenya.

Setelah rumah idaman didapat dan pondasi mulai dibangun, langkah selanjutnya adalah mencari pembiayaan KPR. Beruntung, pengembang sangat terbuka dengan menawarkan KPR dari berbagai bank yang pernah digunakan konsumen mereka.

Belajar dari pengalaman mereka dengan pengembang yang tak bertanggung jawab sebelumnya, membuat keduanya jadi lebih berhati-hati dalam memproses setiap informasi yang diberikan  pengembang. Fikri dan Dea tak mau menelan mentah-mentah, mereka melakukan konfirmasi dengan riset sendiri.

Kebetulan klaster perumahan ini saat itu belum memiliki kerjasama dengan bank rekanan, sehingga mereka jadi lebih leluasa memilih KPR bank yang memberi tawaran menarik, yang sesuai kemampuan mencicil Dea dan Fikri.

“Awalnya kami tertarik dengan cicilan KPR yang ditawarkan oleh bank BCA karena perhitungan cicilannya lebih murah. Namun menjelang akad, ternyata ada promo untuk pegawai BUMN dari Bank Syariah Mandiri,” ujar Fikri yang merupakan karyawan sebuah bank berplat merah ini.

Panduan Mengatur Keuangan untuk Beli Rumah

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Panduan Mengatur Keuangan untuk Beli Rumah

Promo yang ditawarkan saat itu ‘step-up cicilan’, artinya debitur diberikan keringanan dalam bentuk cicilan awal yang flat dengan nominal lebih rendah untuk lima tahun pertama, baru kemudian naik di tahun ke enam hingga seterusnya.

Biasanya penawaran ‘step-up’ ini berlaku untuk tiga kali kenaikan, tapi Fikri mendapat penawaran hanya dua kali kenaikan. Skema cicilan tersebut terasa lebih masuk akal. “Karena kami punya pos untuk biaya cicilan rumah itu semaksimalnya 35% dari join income berdua, normalnya kan 30%,” tegas Dea.

Soal urusan bujet, Fikri dan Dea memang termasuk orang yang saklek. Sejak sebelum menikah pun keduanya sudah membuat skema pengaturan keuangan berikut dengan persentasenya. Bonus-bonus dari kantor sedikit demi sedikit juga dikumpulkan demi biaya DP rumah masa depan mereka.

“Jadi sebelum menikah, kami sudah mulai mengumpulkan uang. Misalnya ada uang Rp100 juta, kita bagi-bagi. Misalnya Rp10 juta buat DP rumah, buat biaya awal sekian, dan sebagainya,” ujar Dea. Maka dari itu biarpun biaya yang mereka keluarkan cukup banyak di awal pernikahan, tetapi semua tetap bisa terbayarkan.

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Usaha Sampingan Agar Cicilan Aman, Investasi Tetap Jalan

Cerita Rumah Dea dan Fikri: Usaha Sampingan Agar Cicilan Aman, Investasi Tetap Jalan

“Kebetulan setelah punya rumah, kami tidak punya banyak 'uang dingin'. Jadi saya ambil investasi yang pasti-pasti saja seperti pasar uang, deposito, dan logam mulia,” ujar Dea.

Soal pengeluaran bulanan pun, pasangan ini saklek juga. Prinsipnya cicilan rumah maksimal 30% dari pendapatan bersama. Oleh karena itu kini keduanya fokus mencari berbagai pekerjaan sampingan, seperti usaha keset dan karpet untuk menekan cicilan mereka jadi hanya 30% dari total penghasilan.

“Perhitungannya, kalau ada apa-apa yang membuat mereka menunggak cicilan, penghasilan pada bulan berikutnya masih bisa meng-cover,” jelas Dea yang merupakan marketing di sebuah perusahaan farmasi ini.

Dea pun menambahkan, “Selain cicilan rumah, pos pengeluaran lain pun tak luput dari pembagian persentase. Untuk kebutuhan rumah mereka patok di kisaran 40%-50% dari penghasilan mereka bersama. Itu sudah termasuk bayar listrik, belanja bulanan, gaji ART, iuran komplek, dan lain-lain.”

“Kebetulan setelah punya rumah, kami tidak punya banyak 'uang dingin'. Jadi saya ambil investasi yang pasti-pasti saja seperti pasar uang, deposito, dan logam mulia,” ujar Dea. Untuk urusan hiburan dan hura-hura, tidak lebih dari 10% penghasilan bersama mereka. Pun sifatnya fleksibel sesuai ketersediaan.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com

Keberhasilan mewujudkan cita-cita punya rumah sendiri memang membutuhkan usaha di setiap prosesnya. Mulai dari proses mempersiapkan dananya, pencarian rumahnya, saat transaksi pembeliannya, hingga proses pengurusan KPR-nya. Seperti kata Fikri, rumah ini adalah wujud dari perjuangan mereka berdua yang dipersembahkan bagi keluarganya.

Hal itu tercermin pula dari cara mereka mengelola energi dan sumber daya yang mereka miliki. Pasangan perantauan dari Jogja ini pada akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya, punya rumah sendiri. Dea pun mengabadikan perjuangan mereka dengan berbagi cerita lewat akun Instagram @raharjhouse, berbagi inspirasi tentang dekorasi rumah, hingga pemilihan material yang digunakan.  

Saat ini Dea dan Fikri belum ada keinginan untuk kembali ke kota asal. “Hidup menua di Jogja terasa seperti mimpi jangka panjang ketika sudah pensiun nanti dan betul-betul sudah mapan,” ujar Dea menutup perbincangan.

Itulah cerita perjuangan Dea dan Fikri. Meski sempat terjegal sengketa tanah dan terkecoh brosur properti, mereka berhasil wujudkan mimpi punya rumah sendiri. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

 

Teks: Shuliya Ratanavara, Foto: Tody Harianto

Baca Selanjutnya

Kalkulator Properti
Repayment Calculator Icon
Ketahui prakiraan uang muka dan cicilan rumah impian Anda dengan Kalkulator KPR Rumah.com.
Rp
Affordability Calculator Icon
Hitung perkiraan besar pinjaman dan cicilan maksimal yang bisa diajukan berdasarkan penghasilan Anda lewat Kalkulator Keterjangkauan Rumah.com
Refinancing Calculator Icon
Ringankan cicilan KPR Anda lewat refinancing. Hitung seberapa besar manfaatnya bagi Anda dengan Kalkulator Refinancing Rumah.com

Perumahan Baru di Tangerang Selatan yang Nyaman

Dapatkan saran dari pakar properti terbaik untuk semua pertanyaan Anda!

Cek Tanya Properti dan nikmati akses eksklusif ke ribuan jawaban dari pakar kami dan komunitas agen properti. 💬⭐👍

Masukan