Cerita Rumah Dian dan Aris: Dana Cekak, Beli Rumah Proyek Perumahan Mangkrak

Wahyu Ardiyanto
Rasa gundah menerpa pasangan Dian Wulandari dan Aris Sutanto ketika di pertengahan tahun 2012 mereka diusir secara halus dari rumah kontrakan yang telah dua tahun mereka tempati. Alasannya karena sang pemilik rumah ingin menjual rumah tersebut.
Dian dinikahi Aris pada tahun 2010. Sejak awal menikah mereka memang punya niat agar suatu hari kelak bisa membeli rumah. Kondisi yang belum ada tabungan di awal pernikahan pun membuat mereka harus mengontrak rumah karena tempat dinas Aris tidak satu kota dengan orangtua mereka masing-masing.
Aris merupakan anggota Polri yang ditempatkan di Purwokerto, Jawa Tengah. Sedangkan orang tua Dian di Cilacap, orang tua Aris di Purbalingga. Momen diusir dari rumah kontrakan itulah yang mendorong mereka untuk segera mencari rumah yang sesuai dengan bujet tabungan mereka.
Mau punya rumah atau investasi properti di Purwokerto, Jawa Tengah, seperti rumah milik Dian dan Aris? Temukan pilihan rumahnya mulai harga Rp250 jutaan di sini!
Karena sejak awal menikah sudah ada niat untuk punya rumah sendiri, maka proses seleksinya pun jadi lebih cepat. Cara mencari rumah Dian dan Aris kala itu adalah berkeliling langsung ke lokasi perumahan-perumahan di Purwokerto.

Cerita Rumah Dian dan Aris: Cari Rumah Seken, Over Kredit, Sesuai Bujet

Cerita Rumah Dian dan Aris: Cari Rumah Seken, Over Kredit, Sesuai Bujet
Saat itu, Dian dan Aris berniat mencari rumah yang sesuai bujet, entah rumah seken yang bisa over kredit KPR di kisaran Rp150 juta.
“Hampir setiap hari kami menyusuri perumahan-perumahan di kota ini. Sulit, karena dulu belum banyak perumahan baru,” tutur Dian. Ia pun mengakui dahulu gadget belum secanggih sekarang, "Kalau sekarang sih mudah, tinggal mengakses situs Rumah.com, mau cari berdasarkan lokasi, hingga kisaran harga juga bisa."
Saat itu, Dian dan Aris berniat mencari rumah yang sesuai bujet, entah rumah seken yang bisa over kredit KPR di kisaran Rp150 juta. Paling tidak tabungan yang telah dikumpulkan selama dua tahun cukup untuk membayar DP rumah, dan kekurangannya akan mengajukan KPR.
Aris pun mengajak Dian survei ke Ledug yang aksesnya saat itu masih sulit, sebuah kawasan di sebelah Timur Kota Purwokerto. Aris mendapat informasi bahwa di kawasan ini banyak berdiri perumahan subsidi.
“Akhirnya setelah kita mencari selama dua tahun, pas setelah momen ‘diusir’ itu, kita menemukan sebuah proyek perumahan mangkrak. Sudah dibangun beberapa blok kavling, tapi ternyata belum ada izin untuk mendirikan bangunan,” papar Dian.
Perumahan ini pada tahun 2005 telah membangun sebanyak tiga blok kavling, yaitu 30 unit rumah. Namun baru pada tahun 2011 izin untuk mendirikan bangunan baru keluar, artinya proyek perumahan tersebut mangkrak selama 6 tahun lamanya.

Cerita Rumah Dian dan Aris: Beli Rumah di Proyek Mangkrak, DP Rumah Cuma Sejuta

Cerita Rumah Dian dan Aris: Beli Rumah di Proyek Mangkrak, DP SejutaDian dan Aris kemudian memberanikan diri mengambil salah satu unit rumah yang telah dibangun sejak tahun 2005 tersebut. Kebetulan dijual dengan harga sangat miring. Dian memilih rumah tipe 36 dengan luas tanah 84 m2 yang posisinya berada di hook.
“Karena sudah mangkrak lama, jadi harganya sangat murah! Bayangkan, harga rumahnya Rp90 juta dengan DP hanya satu juta saja! Wah, mungkin seluruh jagad raya juga enggak percaya kalau saya bilang DP rumah ini hanya sejuta” gelak Dian.
Aris pun tak kalah lega, “Saya bersyukur sekali dengan uang yang pas-pasan saya bisa mendapatkan rumah. Meski, tetap saja harga Rp90 juta saat itu buat saya sangat besar. Makanya sisa kekurangannya ditutupi dengan mengajukan KPR.”
Kondisi rumah baru yang telah berumur 6 tahun itu pun diterimanya dengan lapang dada. Tidak ada perbaikan yang dilakukan pada rumah-rumah mangkrak tersebut. Pengembang hanya mengecat ulang bangunan agar terlihat lebih ‘baru’. Perumahan tersebut pun baru kembali melanjutkan proyeknya yang terbengkalai di tahun 2011.
“Demi bisa punya rumah yang harganya murah, kami rela ambil rumah itu. Meski saat itu jalanan menuju ke perumahan kiri-kanan persawahan luas, ruas jalannya sempit dan berlubang-lubang belum diaspal. Gelap karena lampu jalanan sedikit. Duh, pokoknya segitu amat deh demi bisa kebeli sebuah rumah,” kenang Dian sebagai warga pertama yang menempati perumahan itu.

Cerita Rumah Dian dan Aris: Proses KPR BTN Cepat Tanpa Hambatan

Cerita Rumah Dian dan Aris: Proses KPR BTN Cepat Tanpa Hambatan
Perumahan ini terletak di Purwokerto Timur, dengan pemandangan sawah yang masih menghampar.
Setelah memutuskan membeli rumah di proyek perumahan mangkrak tersebut, langkah selanjutnya yang mereka lakukan adalah proses pengajuan KPR. Beruntunglah karena Aris merupakan anggota Polri, sehingga proses pengajuan KPR-nya pun tergolong mudah.
KPR BTN rekanan perumahan tersebut merupakan mitra Polres, yang memberi kemudahan agar cicilan KPR anggota Polri bisa langsung dipotong dari gaji. Seluruh urusan persyaratan KPR pun langsung ditangani oleh bendahara Polres. Aris hanya tinggal datang ke bank untuk melakukan tanda tangan akad kredit.
Setelah pengajuan KPR berhasil dan proses serah terima rumah, Dian dan Aris yang saat itu telah dikaruniai seorang anak berusia 1,5 tahun, langsung keluar dari rumah kontrakan dan pindah ke rumah baru mereka tersebut di akhir tahun 2012. Rumah baru yang umurnya sudah lama.
“Kami bersyukur sekali saat itu. Bagi kami rumah itu sudah sangat cukup untuk keluarga kecil kami. Rumah hook dengan luas tanah 84m2 yang menghadap ke Selatan,” tutur Dian. Perumahan ini terletak di Purwokerto Timur, dengan pemandangan sawah yang masih menghampar.

Cerita Rumah Dian dan Aris: 8 Tahun dalam Satu Kamar Tidur, Rumah Mulai Hancur

Cerita Rumah Dian dan Aris: 8 Tahun dalam Satu Kamar Tidur, Rumah Mulai Hancur
Dari sejak rumah itu dibeli tahun 2012, hingga tahun 2020, Dian dan Aris memang tidak melakukan perbaikan apapun terhadap rumah tersebut.
Keluarga kecil Dian pun bertambah anggota keluarga dengan kelahiran anak keduanya di tahun 2015. Dengan luas bangunan rumah 36 m2, mereka berempat tidur dalam satu kamar beramai-ramai. Awalnya hal tersebut pun bukanlah masalah, mereka benar-benar menikmati rumah barunya.
“Selama 8 tahun kita tidur sekamar, ha… ha… ha…. Namun ketika anak-anak mulai beranjak besar kami sadar kalau membutuhkan ruangan yang lebih luas. Kami ingin beri si kakak kamar sendiri apalagi dia mulai ABG,” ujar Dian.
Dari sejak rumah itu dibeli tahun 2012, hingga tahun 2020, Dian dan Aris memang tidak melakukan perbaikan apapun terhadap rumah tersebut. Kondisi rusak juga mulai terlihat di sana-sini, kusen yang bolong dan rapuh, mudah hancur seperti kerupuk, dinding pun mulai terkelupas.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
“Rumah kami ini padahal cukup sehat, karena di hook paling ujung timur sehingga selalu mendapatkan matahari yang cukup setiap harinya. Tapi karena material dinding asli yang kurang bagus maka ketika sering terkena paparan sinar matahari semakin lama jadi bergelombang dan pecah-pecah!” jelas Dian.
Ia pun melanjutkan, “Pikiran untuk merenovasi rumah sebenarnya sudah kami rencanakan jauh beberapa tahun sebelum mulai renovasi di 2020. Kita tahu hal itu tidak bisa mendadak, hanya kita masih punya rencana-rencana lain, prioritas lain, ketimbang renovasi dahulu.”

Cerita Rumah Dian dan Aris: Beli Rumah Lagi Demi Rencana Renovasi

Cerita Rumah Dian dan Aris: Beli Rumah Lagi Demi Rencana Renovasi
Rumah tersebut dijual dengan harga Rp250 juta, tetapi Dian tidak mau menambah KPR satu lagi sebelum KPR rumah pertamanya lunas.
Rencana renovasi di lahan terbatas, mau tidak mau hanya bisa diperluas dengan menambah tingkat ke atas. Namun sejak 2015, Dian terus memanjatkan doa ingin punya rumah luas tanpa harus ditingkat.
Sebenarnya rumah yang berada tepat di belakang rumah Dian kosong sejak lama. Pemiliknya tinggal di kota lain, membeli rumah tersebut sekadar untuk investasi properti saja. Dian juga beberapa kali menanyakannya kepada sang pemilik, apakah rumahnya dijual, tapi ternyata belum mau dijual.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, pada tahun 2019 pemilik rumah yang letaknya persis di samping kanan rumah Dian mau pindah ke Solo dan mau menjual rumahnya. Sebelumnya Dian memang sudah tahu bahwa suatu saat sang tetangga akan pindah. Dian juga sempat berpesan ke tetangga tersebut jika rumahnya mau dijual tolong tawarkan dahulu ke mereka.
Rumah tersebut dijual dengan harga Rp250 juta, tetapi Dian tidak mau menambah KPR satu lagi sebelum KPR rumah pertamanya lunas. “Kami akhirnya jual mobil, eh ternyata masih kurang. Kami putuskan untuk pinjam uang ke orangtua saya. Karena kalau KPR lagi ke bank tentu berat dengan mengandalkan gaji suami,” jelas Dian.
Akhirnya dengan uang cash di tangan, Dian dan Aris langsung membayar ke pemilik rumah. Proses balik nama juga langsung dilakukan dibantu notaris kenalan Aris. Dua rumah yang letaknya berjajar itu pun resmi menjadi milik mereka.

Cerita Rumah Dian dan Aris: Renovasi Rumah di Tengah Pandemi

Cerita Rumah Dian dan Aris: Renovasi Rumah di Tengah Pandemi
“Kami sempat bingung, situasi pandemi tahun 2020 membuat kami ter-lockdown. Tapi kami tetap harus segera renovasi total dua rumah, keduanya benar-benar dihancurkan total!” ujar Dian.
“Alhamdulillah deal juga beli rumah di samping. Kita jadi punya dua rumah deh, satu rumah baru tapi benernya lama juga ha ha ha,” tawa Dian. Kemudian dinding bagian ruang tamu yang berdempetan dijebol sebatas satu pintu. Gunanya agar makin luas dan sebagian barang jadi bisa diletakkan di rumah tersebut agar rumah pertama jadi lapang.
Selama satu tahun dua rumah ini terkoneksi hanya melalui satu pintu itu. Namun semakin lama kedua rumah ini kondisinya semakin rusak. Harus segera dilakukan renovasi karena sudah tidak layak untuk dipertahankan.
“Kami sempat bingung karena tahun 2020 situasi pandemi membuat kami ter-lockdown. Tapi kami tetap berpikir harus segera renovasi. Dan setelah pikir panjang kami putuskan renovasi total dua rumah, keduanya benar-benar dihancurkan total!” ujar Dian.
Dian dan Aris merasa sudah siap untuk melakukan renovasi besar. Dengan usaha kecil-kecilan yang dirintis Aris bersama seorang kawannya, tabungan pun sudah mulai cukup untuk renovasi.
Selama renovasi mereka tinggal di rumah milik orangtua Dian yang kebetulan berada di perumahan yang sama dengan rumah Dian. Jadi pada tahun 2014 orangtua Dian membeli sebuah rumah untuk ditempati adik Dian, namun sang adik malah pindah ke Cilacap.
Renovasi terkadang dilakukan hanya untuk alasan estetis atau sekadar menambah kebutuhan akan ruang. Namun apa yang dialami Dian tentunya tidak bisa dipandang sepele, karena kondisi rumah yang sudah ‘kritis’ kondisinya, tentu bisa membahayakan penghuni rumah.

Cerita Rumah Dian dan Aris: Bangun Rumah Mevvah alias ‘Mevet Sawah’

Cerita Rumah Dian dan Aris: Bangun Rumah Mevvah alias ‘Mevet Sawah’
Sang suami, Aris, hanya memiliki keinginan sederhana sejak lama, cuma ingin punya kamar mandi di dalam kamar utama.
“Kami berpikir, akan seperti apa desainnya dan berapa biayanya. Saya cari-cari sendiri informasi dan tips renovasi serta desain rumah di internet, misalnya lewat laman Panduan Properti di Rumah.com. Saya juga banyak mencari inspirasi dari Pinterest dan Instagram,” papar Dian.
Dian dan Aris putuskan tidak pakai kontraktor, karena Aris sudah sangat paham dengan dunia bangunan dan konstruksi. Aris menghubungi seorang teman lama, seorang arsitek di Purwokerto yang sudah cukup terkenal.
“Kami ingin rumah bergaya tropis modern karena rumah kami adalah rumah Mevvah, yaitu ‘Mevet Sawah’ ha ha ha! gelak Dian. Ia membayangkan gaya arsitektur ala villa bergaya tropis, namun dalam versi sederhananya.
Sementara sang suami, Aris, hanya memiliki keinginan sederhana sejak lama, “Saya cuma ingin punya kamar mandi di dalam kamar utama,” jelasnya singkat. Semangat dalam menerjemahkan setiap keinginan disampaikan langsung kepada arsitek.
Sang teman arsitek pun berhasil menerjemahkan impian Dian dan Aris. Setelah cocok dengan gambar rancangan yang dibuat, Dian pun mendapatkan gambar kerja dan desain dari setiap detail bangunan rumah yang akan dibangun.

Cerita Rumah Dian dan Aris: Strategi Efisiensi Saat Renovasi di Tengah Pandemi

Cerita Rumah Dian dan Aris: Strategi Efisiensi Saat Renovasi di Tengah Pandemi
“Kami mencari kayu jati yang benar-benar tua untuk sebagian besar perabotan di rumah. Memang tidak murah, tapi kami puas dan tahu kualitas kayu jati. Awet, tahan lama, juga anti rayap!” jelas Dian.
“Langkah selanjutnya, kami hubungi tukang langganan. Total ada 9 tukang yang bekerja dengan sistem borongan untuk bangun rumah ini,” ujar Dian. Seluruh pembelian bahan material bangunan langsung ditangani oleh Aris.
Agar harga material efisien, Aris membeli material yang dibutuhkan langsung dari produsennya. Contohnya, beli pasir langsung yang diambil dari Sungai Klawing di Purbalingga, beli batu bata langsung dari Tobong Bata (pembuatan batu bata) yang banyak tersebar di dekat rumah.
“Material lain seperti semen dan kayu banyak dibeli dari kenalan sendiri, jadi memangkas bujet. Bisa dibilang kita bisa menghemat hampir separuh biaya. Untung Aris sudah sangat paham, jadi anggap saja dia kontraktornya. Sampai pemasangan instalasi, pipa saluran air, septic tank, dan sebagainya dimandorin dia sendiri,” papar Dian.
Mayoritas material yang digunakan adalah kayu jati. Dian merasa beruntung dengan lokasi yang berada di daerah dataran tinggi, banyak hutan yang masih murni. Di pelosok ada sebuah Hutan Jati Perhutani, namanya Desa Jatisaba. Disitulah semua kebutuhan akan kayu jati dipesan.
Karena lokasinya sulit dijangkau, maka belum banyak yang tahu mengenai para pengrajin di Desa Jatisaba ini, Dian pun mengetahuinya dari salah satu tukang yang membangun rumahnya. Padahal hutan ini memang ditangani Perhutani sebagai salah satu kawasan penghasil kayu jati.
“Kami mencari kayu jati yang benar-benar tua untuk sebagian besar perabotan di rumah. Memang tidak murah dan memakan waktu hingga 6 bulan, tapi kami puas dan tahu kualitas kayu jati. Awet, tahan lama, juga anti rayap!” jelas Dian.

Cerita Rumah Dian dan Aris: Rencana Menggabungkan Dua Sertifikat Hak Milik (SHM)

Cerita Rumah Dian dan Aris: Rencana Menggabungkan Dua Sertifikat Hak Milik (SHM)
Setelah rumah jadi, proses berikutnya yang ingin segera dilakukan adalah menggabungkan dua sertifikat rumah menjadi satu.
Pembangunan rumah Aris dan Dian akhirnya rampung dalam kurun waktu 7 bulan saja. Hasilnya, sebuah rumah bergaya tropis yang asri pun berdiri di lahan ‘baru’ seluas 170 m2 dengan luas bangunan 135 m2. Dian dan Aris merasa seluruh proses pembangunan berjalan dengan lancar berkat kerjasama yang baik dari para tukang.
“Saya mengucap syukur yang tak terhingga dapat menyelesaikan renovasi jauh lebih cepat dari yang saya perkirakan. Saya prediksikan satu tahun, ternyata dalam 7 bulan semua dapat selesai dengan lancar,” ujar Aris.
Biaya yang dianggarkan diakuinya agak meleset sedikit dari perkiraan awal. Walau dari awal sudah ditekan, namun ternyata di tengah jalan ada banyak kemauan dan keinginan. Menurut pasangan ini lebih baik sekaligus, daripada setelah selesai ada penambahan lagi.
“Alhamdulillah semua biaya bisa tertutup secara cash dengan bujet yang bisa dipangkas banyak,” ujar Dian. Mereka pun akhirnya langsung melunasi KPR rumah pertama, karena cicilannya sebenarnya tidak terlalu besar dan bisa dilunasi segera.
Setelah rumah jadi, proses berikutnya yang ingin segera dilakukan adalah menggabungkan dua sertifikat rumah menjadi satu. Walau keduanya sudah atas nama Aris, namun mereka mengakui pentingnya sertifikat SHM rumah baru. Dengan kondisi rumah baru ini tentu harga rumahnya akan jauh lebih tinggi.
“Proses ini pasti lama, kami masih konsultasi dengan teman-teman yang notaris. Karena untuk mengubah SHM dua rumah jadi satu rumah harus disurvei ulang bangunan barunya. Mudah-mudahan segera selesai proses penggabungan SHM ini,” ujar Dian.

Cerita Rumah Dian dan Aris: Bahagia Rumah Dua Putri Sudah Berdiri

Cerita Rumah Dian dan Aris: Bahagia Rumah Dua Putri Sudah Berdiri
Dian kini merasa bersyukur atas keberaniannya bersama sang suami yang dulu nekat membeli rumah di proyek perumahan mangkrak.
Saking bahagia dan bangganya dengan rumahnya yang akhirnya bisa berdiri dengan gagah, setelah melewati perjuangan yang bikin lelah, Dian membuat akun Instagram khusus untuk rumahnya dengan nama @rumahduaputri. Dian hanya ingin berbagi inspirasi tentang perjuangannya, menyimpan kenangan akan perjuangannya.
“Rumah ini sudah menjadi rumah impian saya selama ini, karena saya sejak dulu ingin punya rumah yang memiliki sirkulasi udara yang baik, mengingat saya orangnya suka sekali dengan udara segar dan bersih,” ujar Aris yang memiliki hobi nggowes sepeda.
Dian kini merasa bersyukur atas keberaniannya bersama sang suami yang dulu nekat membeli rumah di proyek perumahan mangkrak, yang membuatnya berhasil wujudkan mimpi punya rumah sendiri. Kini wilayah Ledug, Purwokerto ini semakin banyak perumahan baru. Bahkan unit rumah yang baru dibangun di kawasan ini harganya kini sudah mencapai Rp400 jutaan.

Tanya Rumah.com

Jelajahi Tanya Rumah.com, ambil keputusan dengan percaya diri bersama para pakar kami

Tips dari Cerita Rumah Dian dan Aris: 5 Langkah Wujudkan Rumah Impian

Tips dari Cerita Rumah Dian dan Aris: 5 Langkah Wujudkan Rumah Impian
Setiap detail dari bagian rumah mereka dipilih sendiri, setiap material dicari sendiri, membuat rumah ini terasa sempurna untuk mereka.
  1. Selalu berdoa. Aris rutin membaca shalawat setiap habis sholat 5 waktu
  2. Menabung sedikit demi sedikit
  3. Fokus. Kalahkan keinginan (kecuali kebutuhan), selain keinginan memiliki rumah
  4. Percaya selalu kepada Allah SWT, karena Allah pasti akan berikan jalan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita, dalam hal ini ingin memiliki rumah.
  5. Perbanyak relasi dan kenalan. Manfaatkan potensi dari relasi yang dibangun agar bisa saling menguntungkan. Jika sudah kenal, maka akan timbul rasa percaya satu sama lain.
Kini rumah yang dibangun dari jerih payah bertahun-tahun lamanya telah berdiri. Setiap detail dari bagian rumah mereka dipilih sendiri, setiap material dicari sendiri, membuat rumah ini terasa sempurna untuk mereka.
“Rumah ibarat sebuah karya seni. Tempat yang kita yakini dan persepsikan paling indah, nyaman, dan paling ideal untuk menjalani kehidupan. Rumah pun mengekspresikan sisi seni sang pemiliknya,” ujar Dian memaparkan pandangannya diujung perjumpaan.
Itulah cerita perjuangan Dian dan Aris untuk punya rumah sendiri. Dana cekak disiasati dengan beli rumah di proyek perumahan mangkrak. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.

Teks: Erin Metasari, Foto: Oki Damazta

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini