Cerita Rumah Diana: Beli Tanah Bujet Rp50 Juta Biar Bisa Bangun Rumah Sesuai Selera

Wahyu Ardiyanto
Diana Safitri dan Irham Fudi sejak awal sudah berencana membangun rumah sendiri, bukan membeli rumah siap huni. Rencana ini mereka wujudkan selangkah demi selangkah, bahkan sebelum keduanya menikah.
Uniknya, dulu ketika membeli sebidang tanah seluas 180 meter persegi dan membangunnya jadi sebuah rumah dengan luas bangunan 150 meter persegi di Tlogowaru, Malang, Jawa Timur, Diana dan Irham justru tidak berada di kota itu. Mereka sedang merantau ke luar negeri.
Pemilihan tanah dan proses pembangunan rumah mereka percayakan pada seorang saudara. Mereka cukup mengawasi dari jauh. Dan seiring bergulirnya waktu, setelah rumah itu berdiri, rumah yang dibuatkan akun di Instagram dengan nama @parigriya ini malah bisa ‘menghasilkan’.
Mau punya rumah di Malang yang dekat ke pusat kota dan berudara segar seperti rumah milik Diana? Temukan pilihan rumahnya dengan harga di bawah Rp400 juta di sini!

Cerita Rumah Diana: Beli Tanah dari Singapura untuk Dibangun Sendiri, Bukan Beli Rumah Jadi

Cerita Rumah Diana: Beli Tanah dari Singapura untuk Dibangun Sendiri, Bukan Beli Rumah Jadi
"Latar pendidikan suami adalah arsitektur. Jadi ia memang punya impian membangun rumah sendiri, sesuai selera kami," jelas Diana tentang alasan mereka tidak ingin membeli rumah jadi.
Sebelum Diana dan Irham menikah, mereka menjalani long distance relationship (LDR) di mana saat itu Irham bekerja di Singapura, sementara Diana di Surabaya, Jawa Timur. Namun keinginan untuk memiliki tanah sudah terbesit di benak Irham.
Dari jauh ia berpesan pada beberapa kerabat kalau ada info tanah di jual di Malang, Jawa Timur, yang sesuai bujetnya. Saat itu Irham menganggarkan harga tanah tidak lebih dari Rp50 jutaan.
“Latar pendidikan suami adalah arsitektur. Jadi ia memang punya impian membangun rumah sendiri, bukan beli rumah jadi. Ia ingin mendesain rumah sesuai keinginan kami. Kalau kami membeli rumah siap huni, tentu desainnya mengikuti pengembang. Tak bebas bereskpresi. Karena itu kami pilih tanah, bukan rumah,” jelas Diana.
Selama dua-tiga bulan, ada beberapa bidang tanah yang ditawarkan kerabatnya pada Irham. Namun ada saja yang membuatnya kurang sreg, entah lokasi atau harganya. Barulah ketika seorang saudara menawarkan tanah kaveling di daerah Tlogowaru, Kedungkandang, Malang, Irham merasa tertarik.
Karena Irham masih di Singapura, ia hanya bisa melihat lokasi tanah itu dari foto-foto yang dikirimkan melalui email dan Whatsapp. Irham pun sempat mencoba mengeceknya lewat listing properti dijual di Rumah.com. Ketika Irham memberitahukan lokasi tanah yang akan dibelinya pada Diana, ia setuju saja.
“Saya bukan orang Malang, jadi sebenarnya saya buta lokasi. Saya tidak tahu di mana daerah Tlogowaru. Pertimbangan saya hanya satu, yang penting nanti saat Irham pulang ke Indonesia, uang yang dia hasilkan sudah ada wujudnya,” ujar Diana

Cerita Rumah Diana: Bujet Beli Tanah Rp50 Juta, Urus AJB Berbekal Surat Kuasa

Cerita Rumah Diana: Bujet Beli Tanah Rp50 Juta, Urus AJB Berbekal Surat Kuasa
Hanya beberapa bulan setelah membeli tanah tersebut, pemilik lama menawarkan tanah yang persis ada di samping kaveling tanah yang dibeli Irham. Harga yang ditawarkan pun sama.
Akhirnya pada 2012, tanah kaveling tersebut resmi dibeli Irham secara tunai. Diana dan saudara Irham yang mengurus pembuatan Akta Jual Beli (AJB) saat itu dengan berbekal surat kuasa dari Irham karena ia masih di Singapura.
“Setelah banyak mendapat panduan soal pentingnya legalitas dan sertifikat properti dari artikel yang kami baca pada laman Panduan Properti di Rumah.com. Irham membuat surat kuasa agar AJB langsung diurus. Nantinya setelah ia pulang baru proses menaikkan ke SHM dilakukan,” kata Diana.
Hanya beberapa bulan setelah membeli tanah tersebut, pemilik lama menawarkan tanah yang persis ada di samping kaveling tanah yang dibeli Irham. Harga yang ditawarkan untuk tanah kaveling kedua pun sama dengan tanah kaveling pertama.
Pemilik memberikan kelonggaran pembayaran untuk cicilan tanah kavling kedua ini. Bahkan, Diana dan Ihram dibebaskan membayar kapan saja jika mereka punya dananya. Namun keduanya takut menanggung utang. Tiap bulan setelah menerima gaji, mereka membayar cicilan kaveling kedua. Dalam waktu satu tahun, mereka berhasil menyelesaikan pembayaran tanah kaveling kedua.
“Waktu itu kami tidak punya bujet, tapi karena boleh mencicil, akhirnya kami ambil juga. Kami pikir, karena dua kaveling itu berjajar, tentu enak bila kelak kami ingin membangun rumah di atasnya. Lebih lapang,” urai Diana. Akhirnya, dua kavling seluas 180 meter persegi itu menjadi milik mereka.
Sebenarnya, Diana baru menengok ke lokasi setelah kaveling pertama lunas dibayar dan surat-suratnya diurus. Ia mengaku kaget karena lokasinya agak jauh, yakni di area pengembangan kota Malang. Saat itu, karena belum banyak perumahan, area itu masih sepi dan dipenuhi sawah.
“Yah, bujetnya memang segini, nggak lebih dari Rp50 juta. Kalau mau lokasi yang lebih dekat ke kota, pasti harganya lebih mahal,” jawab Irham pada Diana. Kelak, Diana sama sekali tidak menyesali pilihan lokasi ini. Walaupun agak jauh, tapi udara di daerah ini bersih, segar dan sejuk.

Cerita Rumah Diana: Menikah, Urus Peningkatan Status AJB Tanah, Tanah Kosong Dikelola Warga

Cerita Rumah Diana: Menikah, Urus Peningkatan Status AJB Tanah, Tanah Kosong Dikelola Warga
Setahun setelah menikahi Diana, Irham pergi merantau lagi. Kali ini, ia berangkat ke Bahrain. Setahun setelahnya, Diana juga menyusul ke Bahrain setelah mengurus proses pengunduran diri dari kantornya.
Setahun kemudian Irham pulang kembali ke Indonesia dan menikahi Diana. Momen kepulangan ini langsung dimanfaatkan Irham untuk mengurus peningkatan status AJB tanahnya menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM). Mengurus SHM memang penting, karena ada banyak keunggulan SHM dibandingkan AJB.
Jangka waktu SHM tidak terbatas dan berlangsung terus selama pemiliknya masih hidup; Dapat diwariskan dari generasi ke generasi sesuai hukum yang berlaku; Hak penggunaannya berlaku seumur hidup; Berfungsi sebagai aset. Dapat dijual, digadaikan, menjadi jaminan bank, disewakan, hingga diwakafkan.
Namun setahun setelahnya, Irham pergi merantau lagi. Kali ini, ia berangkat ke Bahrain. Pasangan suami istri baru ini pun harus menjalani long distance marriage (LDM) kembali. Tetapi Diana menyusul ke Bahrain setahun berikutnya setelah mengurus visa dan proses pengunduran diri dari kantornya.
“Kami belum tahu kapan akan kembali ke Malang. Sayang sekali kalau tanah kami dibiarkan lama kosong dan tak bermanfaat. Kami lalu berpesan pada saudara yang selalu membantu selama ini, bila ada warga sekitar yang mau memanfaatkan tanah kami untuk bercocok tanam, silakan saja,” ujar Diana.
Ia mengaku sama sekali tak punya pikiran buruk bahwa lahan yang dibiarkan kosong bertahun-tahun berisiko disabotase atau disalahgunakan pihak lain. Ia hanya menawarkan lahan itu dipakai agar tidak mubazir. Warga sekitar pun menyambut baik. Mereka menanami lahan itu dengan singkong, menjual dan menikmati sendiri hasilnya.

Cerita Rumah Diana: Pembangunan Rumah Setelah 7 Tahun Dibeli, Diawasi dari Luar Negeri

Cerita Rumah Diana: Pembangunan Rumah Setelah 7 Tahun Dibeli, Diawasi dari Luar Negeri
Jika dulu Irham membeli tanah saat merantau di Singapura, saat pembangunan rumahnya ia dan Diana justru berada di Bahrain.
Tujuh tahun setelah tanah dibeli, Irham dan Diana mulai membangun rumah mereka. Sebenarnya, tanah ini mereka rencanakan hanya sebagai investasi. Mereka berpikir kelak akan tinggal di tempat lain saja. Namun, rencana ini berubah karena posisi tanah cocok dengan impian Irham.
“Suami saya sejak dulu ingin memiliki rumah yang posisinya lebih tinggi dari jalan, sehingga jika orang melihat rumah kami, mereka akan mendongak. Istilah Jawanya, ndangak. Kebetulan posisi tanah kami persis seperti itu,” jelas Diana.
Ia tambahkan, “Selama merantau kami rutin menabung agar ketika pulang kampung, sudah punya rumah. Setiap bulan kami menabung biaya bangun rumah sekitar 30 persen dari penghasilan. Di perantauan, kami juga tak mau hidup berlebihan dan bertekad untuk bisa kembali ke Indonesia secepatnya.”
Jika dulu Irham membeli tanah saat merantau di Singapura, saat pembangunan rumahnya ia dan Diana justru berada di Bahrain. Mereka kembali meminta tolong pada saudara untuk memandori pembangunan rumahnya di Malang. Konsep dan desain rumah rancangan Irham dikirim dan dijelaskan pada saudaranya melalui email, telepon, dan Whatsapp.
Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com
Soal desain dan pembiayaan rumah bisa dikatakan lancar karena mereka merancang dan menanggungnya sendiri. Setelah bertahun-tahun menabung untuk biaya bangun rumah, akhirnya rumah berhasil berdiri dengan bujet tidak lebih dari Rp500 juta.
Namun membangun rumah dari jarak jauh sama sekali tidak mudah. Kadang-kadang ada miskomunikasi, sehingga apa yang dibayangkan Irham dan Diana tidak sesuai dengan yang terwujud di lapangan.
Misalnya, ketika mereka pulang sebentar ke Indonesia untuk berlibur dan menengok proses pembangunan rumah, Irham kaget karena ada susunan dinding bata yang tidak sesuai dengan contoh yang ia berikan.

Cerita Rumah Diana: Kawasan Rumah Berkembang Pesat, Nilai Properti Naik 5 Kali Lipat

Cerita Rumah Diana: Kawasan Rumah Berkembang Pesat, Nilai Properti Naik 5 Kali Lipat
Mereka membangun hunian tropis bergaya industrial dengan konsep rumah tumbuh yang sehat, dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang sangat baik.
“Akhirnya, kami mengakalinya dengan meminta update foto setiap tahapan untuk meminimalisasi kesalahan. Dengan begitu, sedikit saja ada yang tidak cocok, bisa langsung cepat diperbaiki,” kenang Diana.
Setahun setelah pembangunan rumah dimulai, Diana dan Irham pulang ke Indonesia. Sayangnya, pembangunan rumah belum rampung sehingga mereka terpaksa indekos selama delapan bulan. Proses pembangunan rumah dua lantai seluas 150 meter persegi itu memakan waktu cukup lama, lebih dari setahun.
Walaupun mungkin ada sedikit perbedaan dengan rancangan awal, tapi rumah ini sudah cukup mewakili keinginan Diana dan Irham. Mereka membangun hunian tropis bergaya industrial dengan konsep rumah tumbuh yang sehat, dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang sangat baik.
“Sekarang saya tak lagi merasa rumah ini jauh. Sebenarnya jarak dari pusat kota ke rumah hanya 7 km. Namun dulu, kami harus melewati GOR Ken Arok yang sepi kalau malam, dan sering ditongkrongi geng pemuda berandalan. Karena takut, kami memutar jalan ke perkampungan. Ini yang membuat rumah kami terasa makin jauh,” kata Diana.
Syukurlah, kini situasinya sudah berbeda. Nilai propertinya pun sudah meningkat pesat hingga 5 kali lipatnya. Dulu, harga tanah di area ini hanya Rp200 ribu hingga Rp400 ribu per meter persegi, kini sudah mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per meter perseginya.
Daerah itu sudah ramai karena semakin banyak perumahan yang didirikan. Di sana sini juga bermunculan tempat usaha yang membuat daerah itu semakin hidup. Mencari makanan di malam hari bukan lagi perkara sulit seperti dahulu. Ditambah lagi, udara jauh lebih segar ketimbang di tengah kota.

Cerita Rumah Diana: Berawal Menyewakan Kamar, Berkembang Jadi Bisnis Lokasi Foto dan Syuting

Cerita Rumah Diana: Berawal Menyewakan Kamar, Berkembang Jadi Lokasi Foto dan Syuting
Usaha menyewakan kamarnya ternyata mendapat sambutan hangat, bahkan kemudian berubah dan berkembang tanpa direncanakan menjadi lokasi foto dan syuting.
Mungkin lingkungan rumah yang bertambah ramai jugalah yang membuat Irham terpikir untuk menyewakan satu kamar di lantai dua rumah mereka melalui AirBnb. Kebetulan, area ini dekat dari Bromo dan Semeru. Wisatawan yang menuju ke sana bisa transit dulu di rumah mereka sebelum melanjutkan perjalanan.
Berhubung pasangan ini lebih sering beraktivitas di lantai bawah, lantai atas jarang sekali terpakai. Mereka ingin agar lantai atas pun bisa dimanfaatkan. Irham mendapat informasi dari AirBnB dan melihat banyak kamar disewakan dengan harga relatif murah.
“Tujuan disewakan bukan semata bisnis saja. Selain memanfaatkan lantai atas, kita juga senang mengobrol dan sharing dengan para penyewa. Banyak hal yang kita dapatkan saat mengobrol dengan klien,” ujar Diana.
Usaha ini ternyata mendapat sambutan hangat, bahkan kemudian berubah dan berkembang tanpa direncanakan. Suatu hari, Diana kaget karena dihubungi seseorang yang bukan ingin menginap, melainkan menyewa rumahnya untuk pemotretan prewedding. Dan kejadian tersebut berulang hingga beberapa kali.
“Awalnya kita tidak menentukan tarif. Bebas saja klien mau bayar berapa pun. Tapi saat kita mulai mendekorasi dan membeli properti untuk mendukung keperluan foto dan syuting, kita jadi browsing mengecek harga di tempat lain untuk menentukan tarif sewa,” jelas Diana.

Cerita Rumah Diana: Rumah Jadi Sumber Pemasukan Tambahan, Tersewa 15 Sampai 20 Kali dalam Sebulan

Cerita Rumah Diana: Rumah Jadi Sumber Pemasukan Tambahan, Tersewa 15 Sampai 20 Kali dalam Sebulan
Walaupun sempat tutup karena pandemi, tapi Parigriya –nama rumah ini- kemudian menggeliat lagi. Jika sedang ramai, Parigriya bisa disewakan 15 sampai 20 kali dalam sebulan.
Hingga kini, rumah mereka sudah pernah dijadikan lokasi pemotretan produk, iklan, bahkan syuting video klip dan film. Dulu, Diana dan Irham harus ‘kabur’ jika rumah sedang disewakan. Namun kini mereka menyiapkan lantai dua sebagai tempat foto dan syuting, sehingga lantai satu bisa menjadi ruang privat mereka.
Walaupun sempat tutup karena pandemi, tapi Parigriya –nama rumah ini- kemudian menggeliat lagi. Jika sedang ramai, Parigriya bisa disewakan 15 sampai 20 kali dalam sebulan. Sedangkan jika sedang sepi, tetap mencapai lima sampai sepuluh kali. Promosi dari media sosial dan mulut ke mulut rupanya sangat efektif.

Tanya Rumah.com

Jelajahi Tanya Rumah.com, ambil keputusan dengan percaya diri bersama para pakar kami

“Alhamdulillah, kami sebenarnya tidak menduga akan seramai ini. Kami akhirnya menjalani bisnis ini lebih serius. Setiap bulan, suami mengganti dekorasi rumah. Kebetulan dia memang hobi mendekorasi. Saya juga membuatkan makrame untuk hiasan. Kami rutin memperbarui nuansa rumah, agar penyewa tak bosan,” urai Diana.
Walaupun awalnya tidak yakin dengan lokasi rumahnya, Diana sekarang merasa rumah ini sudah memenuhi impian mereka. Apalagi, lebih dari sekadar hunian, rumah ini juga membuka jalan rezeki, menjadi sumber pemasukan tambahan, serta memberikan aktivitas dan kegembiraan baru.
Itulah cerita Diana yang sejak awal sudah berencana membangun rumah sendiri, bukan membeli rumah siap huni. Rumah yang dibeli dan dibangun di perantauan yang kini jadi sumber pemasukan tambahan. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Eyi Puspita, Foto: Sony SM

Kalkulator KPR

Ketahui cicilan bulanan untuk hunian idaman Anda lewat Kalkulator KPR.

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini

Kalkulator Refinancing

Ketahui berapa yang bisa Anda hemat dengan melakukan refinancing untuk cicilan rumah Anda saat ini