Cerita Rumah Dianty: Perjuangan dari Rumah Kontrakan Kumuh Hingga Punya Rumah Subsidi yang Menginspirasi

“Selain berfungsi sebagai tempat tinggal bersama keluarga yang membuat nyaman dan terlindungi, rumah adalah studio saya, tempat saya bekerja dan berbagi inspirasi di media sosial.” – Cerita Rumah Dianty
Cerita Rumah Dianty: Perjuangan dari Rumah Kontrakan Kumuh Hingga Punya Rumah Subsidi yang Menginspirasi

“Rumah Kecil Juga Bisa Jadi Nyaman.” Kalimat itulah yang tercantum di profil akun Instagram @aldianty1717, akun rumah milik Sri Lung Dianty dengan lebih dari 85 ribu pengikut ini. Rumah mungil yang ditata dengan dominasi warna hijau dan putih ini terasa nyaman.

Luas rumah yang terbatas tak menjadi kendala bagi Dianty untuk menciptakan sebuah hunian nyaman yang didekor dengan apik. Siapa sangka, rumah tipe 30/60 di Perumahan Griya Permata Sumedang, CimalakaSumedang, Jawa Barat, ini adalah rumah subsidi. Tak salah bila rumah ini kemudian menjadi inspirasi banyak orang di media sosial.

Berjuang dari titik nol dengan tinggal di rumah kontrakan kumuh, kini Dianty bersama suami, Hendi Ermulhan, kini bisa bernapas lega setelah berhasil memiliki rumah sendiri, tempat tinggal yang nyaman bagi kedua buah hatinya, Radityo dan Abhimana.   

Mau punya rumah di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat seperti rumah Dianty yang kawasan sekitarnya tengah berkembang pesat dan akses ke Kota Sumedang juga cepat? Temukan pilihan rumahnya dengan harga di bawah Rp500 jutaan di sini!

Cerita Rumah Dianty: Tinggal di Rumah Mertua dan Mengontrak Rumah Petak

Cerita Rumah Dianty: Tinggal di Rumah Mertua dan Mengontrak Rumah Petak

Termotivasi untuk masa depan anak-anak, pencarian rumah mulai mereka lakukan dengan survei ke perumahan klaster di lokasi yang mereka taksir, tak jauh dari rumah kontrakan.

Punya rumah sendiri sebenarnya telah menjadi impian Dianty dan Hendi sejak mereka belum menikah pada tahun 2010. Namun, apa daya, terkendala penghasilan suami yang saat itu masih pas-pasan, Dianty sempat pula tinggal di rumah mertua.

Namun tinggal di rumah mertua pun tak lama, hanya beberapa bulan saja. Ketika anak pertama lahir, Dianty dan Hendi, sang suami, memutuskan untuk hidup mandiri sesuai kemampuan. Itu sebab mereka mengontrak rumah petak.

“Kondisi rumah kontrakan saat itu memang memprihatinkan. Di tempat kumuh, banyak tikus dan kecoa. Ditambah sumur air cuma ada satu untuk delapan pintu kontrakan. Bayangkan, kadang saya sampai begadang buat menampung air,” kenang Dianty.

Namun, meski tinggal di rumah kontrakan kumuh bukan berarti dapat memupuskan harapan mereka untuk punya rumah sendiri. Prinsip mereka, rumah kecil tak masalah asal nyaman untuk anak. Demi mengejar impian itu, mereka giat berhemat, menyisihkan penghasilan suami untuk simpanan DP rumah.

Cara Mengumpulkan DP Rumah dalam 12 Bulan

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Cara Mengumpulkan DP Rumah dalam 12 Bulan

Setelah enam tahun tinggal di rumah kontrakan, mereka memperkirakan tabungannya sudah cukup untuk jadi DP rumah, sekitar Rp10 jutaan. Saat itu bertepatan Dianty yang sedang hamil anak kedua. Termotivasi untuk masa depan anak-anak, pencarian rumah mulai mereka lakukan dengan survei ke perumahan klaster di lokasi yang mereka taksir, tak jauh dari rumah kontrakan.

“Ternyata harga rumahnya lumayan mahal Rp450 juta untuk tipe 36/72 m2. DP atau uang muka rumahnya juga lumayan besar, sampai Rp40 juta. Aduh, uang kami nggak cukup buat DP. Lihat skema KPR cicilannya juga cukup besar sekitar Rp4 jutaan per bulan. Kami ingin punya rumah tapi yang sesuai kemampuan. Gagal deh, ambil rumah yang kami taksir itu,” cerita Dianty.

Saat itu di Kota Sumedang memang sedang marak pembangunan rumah klaster berkonsep modern minimalis seperti yang diinginkan Dianty. Namun, setelah keliling survei ke klaster-klaster lain, hasilnya sama saja. Mereka tak menemukan rumah dengan harga dan DP rumah yang sesuai kemampuan mereka.

Cerita Rumah Dianty: Tertarik Rumah Subsidi, Tanpa Survei Langsung Bayar Booking Fee

Cerita Rumah Dianty: Tertarik Rumah Subsidi, Tanpa Survei Langsung Bayar Booking Fee

“Tanpa survei, hanya berbekal brosur perumahan yang diberikan, kami percaya saja ketika diminta untuk membayar booking fee Rp2,5 juta.,” papar Dianty.

Andai saja saat itu Dianty tahu bahwa ada cara praktis untuk cari rumah bisa dilakukan, yaitu melalui situs properti Rumah.com. Cukup gunakan filter yang dapat dimanfaatkan untuk mempersempit pencarian yang sesuai keinginan atau kemampuan. Misalnya dengan memasukkan kata kunci seperti lokasi yang diinginkan dan memilih kisaran harga yang sesuai anggaran.

Setelah mencari sendiri tak berhasil, tiba-tiba mereka dapat informasi tentang rumah subsidi dari adik teman Hendi yang mengaku sebagai marketing perumahan subsidi. Dianty dan suami langsung tergiur dengan harga rumah subsidi yang lebih terjangkau.

“Dibandingkan harga rumah klaster yang pernah kami survei, harga rumah subdisi jelas jauh lebih murah. Tipe 30/60 harganya hanya Rp150 juta dengan DP Rp10 juta. Sesuai kemampuan kami. Apalagi KPR rumah subsidi cicilannya flat dari awal sampai akhir. Berbeda dengan cicilan KPR rumah klaster yang naik setiap tahun,” ujar Dianty.   

Dengan harga lebih murah, kebanyakan lokasi perumahan subsidi memang berada di pinggir Sumedang, tidak seperti rumah klaster yang berada di pusat Kota Sumedang. Selain itu, penggunaan material bangunannya memang lebih standar dibandingkan rumah klaster.

Panduan Lengkap Beli Rumah Pertama

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Panduan Lengkap Beli Rumah Pertama

Berdasarkan informasi dari marketing perumahan subsidi tersebut, untuk bisa membeli rumah subsidi syaratnya adalah warga yang berdomisili di Sumedang, berpenghasilan maksimal Rp4,5 juta, belum memiliki tanah atau rumah, dan tidak ada cicilan kendaraan mobil. Kriteria tersebut bisa mereka penuhi.

Atas pertimbangan yang penting punya rumah sesuai kemampuan, mereka memutuskan mengambil tawaran rumah subsidi ini. Tanpa bekal pengalaman membeli rumah sebelumnya, urusan pembelian rumah ini mereka percayakan sepenuhnya pada marketing rumah subsidi tersebut.

“Tanpa survei, hanya berbekal brosur perumahan yang diberikan, kami percaya saja ketika diminta untuk membayar booking fee Rp2,5 juta. Setelah membayar booking fee, kami meminta survei. Setelah ditunda lama, kami pun ditunjukkan kavling yang akan dibangun rumah kami. Letaknya di Blok B, blok paling depan, dekat pintu gerbang,” papar Dianty.

Cerita Rumah Dianty: Pengajuan KPR Disetujui, Lokasi Tak Sesuai Ekspektasi

Cerita Rumah Dianty: Pengajuan KPR Disetujui, Lokasi Tak Sesuai Ekspektasi

“Ternyata rumah yang diperlihatkan waktu survei bukan rumah yang di-booking untuk kami. Letak rumah kami di belakang, jauh dari pintu utama, posisi rumahnya di pojok, di bawah pohon bambu yang lebat,” kata Dianty.

Setelah survei, mereka diminta menyerahkan dokumen sebagai syarat pengajuan KPR di BTN seperti Kartu Keluarga, KTP, dan slip gaji. Beberapa kali mereka juga dimintai biaya administrasi hingga jumlahnya mencapai Rp2 juta. Setelah itu, berbulan-bulan tak ada kabar dari marketing tersebut. Sempat mereka curiga ada hal yang ganjil.

Sampai akhirnya mereka dihubungi kantor marketing perumahan subsidi yang menyampaikan kabar bahwa pengajuan KPR rumah subsidi mereka telah disetujui. Mereka pun diminta untuk menyiapkan uang DP karena akan dilakukan akad kredit

“Ternyata rumah yang diperlihatkan waktu survei bukan rumah yang di-booking untuk kami. Lokasi rumah kami bukan Blok B yang dekat pintu gerbang, tapi di Blok P. Letaknya di belakang yang jauh dari pintu utama dan posisi rumahnya di pojok, di bawah pohon bambu yang lebat. Kami ternyata dibohongi soal letak rumah yang akan dibeli,” kata Dianty.

Jadi situasinya, pengajuan KPR mereka sudah disetujui oleh BTN, namun atas pembelian rumah yang bukan seperti keinginan mereka. Dianty dan Hendi pun merasa kecewa, bahkan jadi ragu karena tidak sesuai ekspektasi.

“Kami sudah keluar uang sampai Rp4,5 juta, hampir setengah dari DP, ke marketing penipu itu yang mengaku buat biaya administrasi dan lain-lain. Padahal yang dibayarkan hanya booking fee Rp2,5 juta. Buat kami uang segitu cukup besar, hasil dari mengumpulkan uang cukup lama,” ungkap Dianty.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com

Sang suami menyarankan tetap mengambil rumah tersebut, daripada uang yang sudah dibayarkan hangus. Tapi Dianty tidak mau memaksakan diri karena memang kurang cocok dengan rumah tersebut. Hingga akhirnya mereka mempertimbangkan untuk mencabut berkas pengajuan KPR ke BTN dan akan membuat pengajuan baru.

Kuatnya tekad untuk punya rumah membuat mereka tak patah semangat, mereka berkeliling mencari rumah lagi buat pengganti. Sampai akhirnya mereka bertemu teman Hendi lainnya yang menjadi marketing rumah subsidi yang mereka tempati saat ini di Perumahan Griya Permata Sumedang.

Cerita Rumah Dianty: Mengajukan KPR Rumah Baru, Akad Kredit Hanya Dua Minggu

Cerita Rumah Dianty: Mengajukan KPR Rumah Baru, Akad Kredit Hanya Dua Minggu

Setelah mereka memutuskan untuk membeli rumah ini, pihak marketing perumahan ini pun langsung membantu pengurusan proses menarik berkas KPR di BTN .

Seperti jodoh, rumah subsidi ini harganya sama, DP rumahnya sama, jumlah cicilan KPR-nya pun sama, namun dengan kualitas bangunan yang jauh lebih bagus. Seperti pakai bata merah untuk dinding, genteng dari tanah liat, dan material kusen dan pintu juga lebih bagus. Sedangkan perumahan subsidi sebelumnya pakai dinding hebel atau bata ringan dengan genteng berbahan metal.

“Kami lebih yakin memilih rumah subsidi yang ini. Setelah tertipu marketing rumah subsidi sebelumnya, ternyata kami dapat pengganti yang lebih baik,” ujar Dianty yang mendapatkan rumah pengganti yang letaknya hanya 3km dari rumah subsidi yang batal mereka beli.

Dianty teringat, ketika perumahan itu baru dibangun, dia pernah lewat dan berkomentar, “Bangun perumahan kok di tengah hutan. Dulu kondisi jalan di perumahan ini memang belum dibangun, masih rusak, dan lokasinya cukup jauh dari Kota Sumedang. Seperti terkena omongan sendiri, malah berjodoh dengan rumah di sini ha ha ha.”  

Sekarang, lokasi perumahannya sudah ramai, kondisi jalan sudah bagus, dan letaknya cukup strategis. Dekat ke minimarket, ke mall hanya 10 menit. Perumahan ini disebut-sebut paling laris di Sumedang yang menyediakan sampai 700 unit rumah. Karena banyak peminatnya, kawasan perumahan ini pun berkembang pesat.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

Tak kalah penting, Dianty mendapat rumah di Blok E yang dekat ke jalan utama seperti keinginannya. “Rumah klaster berada di pusat kota, jadi harganya mahal-mahal. Rumah subsidi agak jauh dari kota, tapi lebih murah. Saya pilih rumah ini karena letaknya tidak terlalu jauh ke pusat kota Sumedang,” ungkap Dianty.  

Dan setelah mereka memutuskan untuk membeli rumah ini, pihak marketing perumahan ini pun langsung membantu pengurusan proses menarik berkas KPR di BTN untuk pengajuan rumah yang sebelumnya, dan diganti untuk pengajuan rumah yang baru.

Mereka pun tak perlu menarik berkas dari BTN maupun menyerahkan berkas pengajuan KPR lagi sehingga prosesnya cukup cepat. Sekitar dua minggu kemudian, mereka langsung melakukan akad kredit.

Cerita Rumah Dianty: Renovasi Rumah Sesuai Aturan, Berhemat untuk Isi Perabotan

Cerita Rumah Dianty: Renovasi Rumah Sesuai Aturan, Berhemat untuk Isi Perabotan

Lahan ukuran 2x6m di area belakang rumah dibangun dapur dan kamar mandi. Supaya dapat ruang tamu jadi lebih luas, letak kamar mandi jadi dipindah ke area belakang.

Rumah subsidi dengan luas tanah 60 m2 dan luas bangunan 30 m2 yang dibeli Dianty ini harganya Rp150 juta. Ia mengambil tenor KPR selama 10 tahun. “KPR rumah subsidi dengan cicilan flat sangat meringankan. Hitung-hitung untuk cicilan KPR bayar Rp1 juta sebulan, nambah sedikit dari biaya kontrak rumah yang Rp700 ribu per bulan," papar Dianty.

"Buat saya, daripada kontrak rumah lebih baik ambil KPR yang akhirnya rumah bisa menjadi hak milik,” tambah Dianty. Bulan Oktober 2016, akhirnya Dianty mendapatkan kunci rumah miliknya. Impian yang telah lama ia dan suami perjuangkan untuk masa depan anak-anaknya. Namun sebelum ditempati, mereka berencana merenovasi rumahnya lebih dulu.

Namun mempertimbangkan keterbatasan dana, renovasi rumah diprioritaskan untuk area belakang saja seperti dapur dan kamar mandi, selebihnya area depan rumah untuk teras dan garasi. Lahan ukuran 2x6m di area belakang rumah dibangun dapur dan kamar mandi. Supaya dapat ruang tamu jadi lebih luas, letak kamar mandi jadi dipindah ke area belakang.

“Cuma saat renovasi itu pun kami sempat deg-degan. Cukup nggak ya uang yang kami punya. Karena namanya renovasi pasti ada biaya-biaya tambahan yang tidak terduga,” aku Dianty yang sebelum melakukan renovasi juga konsultasi dengan kontraktor untuk menghitung estimasi biaya renovasi yang dibutuhkan. 

Tip Rumah
Ada aturan yang perlu diketahui jika berencana merenovasi rumah subsidi. Seperti tidak boleh mengubah fasad atau tampilan muka rumah, dan tidak boleh menambah tingkat lantai selama 5 tahun.

Ternyata biaya renovasi rumah mereka benar-benar sesuai dana yang mereka punya. Dengan pengerjaan sekitar 12 hari dengan sistem kerja pemborong harian, mereka mengeluarkan biaya renovasi Rp40 jutaan. Ukuran bangunan dari 30 m2 bertambah menjadi 42 m2.

Rumah selesai direnovasi, namun tidak langsung mereka huni. Alasannya karena harus mengisi furnitur rumah. Dengan dana terbatas, mereka mengisi rumah secara bertahap. Kebetulan masa habis kontrakan masih lama, jadi untuk sementara mereka tetap tinggal di rumah kontrakan. Butuh waktu hampir satu tahun sampai akhirnya rumah Dianty siap dihuni.

“Di kontrakan nggak banyak barang yang bisa dibawa ke rumah baru, jadi kami harus beli furnitur dulu, termasuk tempat tidur. Ditambah lagi, furnitur harus custom supaya ukurannya sesuai rumah yang kecil, nggak bikin sempit. Kami berhemat supaya bisa sisihkan dana buat furnitur,” jelas Dianty.  

Cerita Rumah Dianty: Rumah Subsidi yang Menginspirasi Berkat Hobi Dekorasi

Cerita Rumah Dianty: Rumah Subsidi yang Menginspirasi Berkat Hobi Dekorasi

Berawal sekadar iseng mendokumentasikan dekorasi rumahnya di akun Instagram, tak disangka ternyata banyak yang tertarik dan penasaran bertanya tentang rumah subsidi dan juga seputar dekorasi rumah.

Dianty mengaku senang mendekorasi rumah. Sewaktu tinggal di kontrakan, di deretan rumah kontrakan, rumahnya yang paling rapi. “Kalau orang ngontrak biasanya ‘ah bodo amat’, nggak diurus. Cuek aja, mau kondisi kumuh atau berantakan. Saya nggak bisa begitu, paling nggak usahakan supaya kontrakan bisa bersih, rapi, lebih nyaman,” ujarnya.

"Di rumah baru ini, saya ingin gayanya minimalis, tapi awalnya belum kepikiran seperti apa. Prioritas yang penting rumah rapi dan nyaman dulu. Soal gaya dekorasi rumah sambil jalan saja. Saya follow akun-akun home décor lover di Instagram. Saya ambil inspirasi yang bisa diterapkan di rumah,” papar Dianty.  

Berawal sekadar iseng mendokumentasikan proses renovasi dan dekorasi rumahnya di akun Instagram, tak disangka ternyata banyak follower Dianty yang tertarik dan penasaran bertanya tentang rumah subsidi dan juga seputar dekorasi rumah.

Bahkan sampai di-repost oleh akun-akun inspirasi home decor yang membuat follower-nya melonjak naik dengan cepat. Potensi konten kreator di medsos Instagram dan YouTube dirasanya sebagai kegiatan yang bisa menambah penghasilan. Sebagai ibu rumah tangga, ia memutuskan serius menjalaninya sebagai aktivitas sambilan.

12 Ide Dekorasi Rumah Minimalis dan Sederhana

Tips Rumah dan Apartemen

12 Ide Dekorasi Rumah Minimalis dan Sederhana

Sebagai konten kreator dekor rumah, tantangan bagi Dianty adalah menyiasati agar tak kebablasan menjadi konsumtif karena sering gonta-ganti dekor rumah untuk konten media sosial.

Dianty juga menyarankan, sebelum mendekorasi rumah tentukan konsep atau tema rumah lebih dulu sebagai panduan untuk memilih furnitur dan produk dekorasi rumah. Tanpa punya konsep yang jelas maka bisa jadi tidak selektif, hingga mudah tergoda membeli apapun. Pada akhirnya, gaya rumah jadi campur aduk. Apalagi untuk rumah ukuran kecil, hal tersebut harus dihindari.

Prinsip Dianty, “Beli pernak-pernik tidak perlu mahal-mahal karena biasanya tidak dipakai jangka panjang. Begitu pula produk furnitur ditentukan dulu fungsinya. Kalau untuk pajangan, beli yang murah saja. Kalau untuk pemakaian jangka panjang bisa pilih harga lebih mahal agar kualitas lebih baik.”

Cerita Rumah Dianty: Rumah Subsidi Opsi untuk Punya Rumah Sendiri

Cerita Rumah Dianty: Rumah Subsidi Opsi untuk Punya Rumah Sendiri

Dianty juga mengaku tak pernah menyangka bisa bernaung di rumah milik sendiri yang nyaman. Padahal, jika menengok ke belakang, kondisi keuangannya saat itu tidak memungkinkan.

Dari pengalamannya selama ini menata rumah, Dianty menemukan tips bahwa membuat suasana dan tampilan rumah yang berbeda, ternyata tidak harus ganti pernak-pernik, bisa dengan ganti cat dinding, atau memindahkan posisi furnitur secara berkala. Dan khusus untuk rumah kecil hindari penggunaan pernak-pernik yang ramai agar rumah tidak terlihat makin sempit.

Dan jika tak ada halangan, Dianty berencana akan merenovasi rumahnya lagi untuk menambah kamar anak dan ruang baru yang bisa dijadikan konten dekor. Kebetulan rumah mereka sudah lebih dari lima tahun sehingga aturan tidak boleh membangun lantai atas sudah tidak berlaku lagi.

Dianty juga mengaku tak pernah menyangka bisa bernaung di rumah milik sendiri yang nyaman. Padahal, jika menengok ke belakang, kondisi keuangannya saat itu tidak memungkinkan untuk membeli rumah. Di mana kondisi mereka secara ekonomi berada di titik nol. Tabungan hanya cukup untuk DP rumah saja.

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Tanya Rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

“Waktu ambil rumah ini, suami baru keluar dari pekerjaannya dengan gaji kecil yang kadang nggak cukup buat kebutuhan sebulan. Saya sedang hamil anak kedua, dan kami punya cicilan motor, tapi nekad ambil KPR. Alhamdulillah, rezeki dari usaha jual-beli kendaraan rintisan suami semakin lancar,” ungkap Dianty.   

Pada akhirnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan demi mewujudkan rumah impian, salah satunya seperti yang dilakukan Dianty dan Hendi. Meski tak mampu membeli rumah klaster, rumah subsidi bisa jadi opsi untuk wujudkan mimpi punya rumah sendiri.

Rumah subsidi merupakan Program Sejuta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi. Salah satu kemudahan rumah subsidi DP hanya 1% dari total harga rumahnya. Dan agar proses membeli rumah subsidi lancar, cari dan gali informasi sebanyak-banyaknya agar tidak tertipu seperti Dianty di awal pencariannya.

Itulah cerita perjuangan Dianty wujudkan impian punya rumah yang nyaman. Perjuangan dari tinggal di rumah kontrakan kumuh hingga punya rumah subsidi yang menginspirasi. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

 

Teks: Siti Rahmah, Foto: Zawahir

Baca Selanjutnya

Kalkulator Properti
Repayment Calculator Icon
Ketahui prakiraan uang muka dan cicilan rumah impian Anda dengan Kalkulator KPR Rumah.com.
Rp
Affordability Calculator Icon
Hitung perkiraan besar pinjaman dan cicilan maksimal yang bisa diajukan berdasarkan penghasilan Anda lewat Kalkulator Keterjangkauan Rumah.com
Refinancing Calculator Icon
Ringankan cicilan KPR Anda lewat refinancing. Hitung seberapa besar manfaatnya bagi Anda dengan Kalkulator Refinancing Rumah.com

Pilihan Perumahan Baru di Bandung

Dapatkan saran dari pakar properti terbaik untuk semua pertanyaan Anda!

Cek Tanya Properti dan nikmati akses eksklusif ke ribuan jawaban dari pakar kami dan komunitas agen properti. 💬⭐👍

Masukan